Zakat Profesi Wajibkah? Nisab dan Ketentuannya

2 min read

zakat penghasilan

Beberapa tahun belakangan ini banyak bermunculan diskusi tentang diwajibkannya zakat penghasilan (zakat profesi). Hal itu dikarenakan pada periode ulama klasik tidak ada pembahasan yang memadai mengenai zakat penghasilan.

Hal ini menarik untuk kita ikuti pasalnya zakat di Indonesia mempunyai potensi yang sangat luar biasa. Yang sangat besar adalah sebagai media untuk meratakan kesejahteraan masyarakat dengan menggali potensi zakat yang ada.

Jika zakat profesi sudah maksimal ditarik dari orang-orang yang wajib mengeluarkan memiliki potensi untuk mengangkat kesejahteraan masyarakat Indonesia.

 

Zakat Profesi

zakat profesi

Sebelum membahas lebih lanjut mengenai zakat penghasilan zakat profesi kita bahas dulu mengenai landasan hukum yang dipakai untuk zakat penghasilan atau zakat profesi.

Seperti yang telah kita singgung di atas zakat profesi belum pernah di dikaji lebih lanjut pada periode ulama Salaf Hal ini dikarenakan berada ulama Salaf belum mengenal kompleksitas mata pencaharian yang berbeda dengan sekarang.

Jika ulama salaf membahas mengenai zakat jual beli atau perniagaan zakat pertanian zakat peternakan sekarang lebih kompleks ada berbagai macam jenis profesi yang dilakoni oleh orang-orang. Diantaranya adalah akuntan, developer, kontraktor, manajer, direktur, lawyer, desainer dan masih banyak lagi profesi seseorang.

Lantas Apakah yang melatarbelakangi hukum diwajibkannya zakat profesi? Berikut ini ulasannya:

 

Kewajiban Zakat dari Al-Qur’an

Sebagai landasan hukum yang tertinggi. Al-Qur’an telah memberikan petunjuk hukum yang sangat jelas dalam menentukan sebuah kewajiban. Seperti halnya kewajiban zakat.

Zakat profesi yang selama ini gencar disosialisasikan kepada masyarakat dari BAZNAS maupun organisasi yang lain. Telah menjadi keputusan yang sangat baik yang diambil oleh pemerintah.

Pasalnya dana yang dikumpulkan tadi bisa untuk memfasilitasi orang kurang mampu sebagai modal awal usaha.

Hal ini merupakan refleksi dari QS. At-Taubah ayat 160 :

إِنَّمَا الصَّدَقَاتُ لِلْفُقَرَاءِ وَالْمَسَاكِينِ وَالْعَامِلِينَ عَلَيْهَا وَالْمُؤَلَّفَةِ قُلُوبُهُمْ وَفِي الرِّقَابِ وَالْغَارِمِينَ وَفِي سَبِيلِ اللَّهِ وَابْنِ السَّبِيلِ ۖ فَرِيضَةً مِنَ اللَّهِ ۗ وَاللَّهُ عَلِيمٌ حَكِيمٌ

Artinya: “Sesungguhnya zakat-zakat itu, hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, pengurus-pengurus zakat, para mu’allaf yang dibujuk hatinya, untuk (memerdekakan) budak, orang-orang yang berhutang, untuk jalan Allah dan untuk mereka yuang sedang dalam perjalanan, sebagai suatu ketetapan yang diwajibkan Allah, dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (QS. At-Taubah : 160)

Baca juga: Pengertian dan Macam Zakat Yang Wajib Kamu Ketahui

Kewajiban Zakat dari Sunnah

Rasulullah sebagai pemimpin sebuah negara Madinah juga sangat memperhatikan keadaan sosial masyarakatnya. Dengan mewajibkan zakat dari orang yang kaya untuk orang yang miskin menjadikan ketimpangan sosial menjadi terkendali.

Hal ini bisa kita lihat dari hadits yang Rasulullah sampaikan kepada para sahabatnya.

 

قَالَ رَسُوْلُ اللهِ  صلى الله عليه وسلم : السَّخِىُّ قَرِيْبٌ مِّنَ اللهِ قَرِيْبٌ مِّنَ النَّاسِ قَرِيْبٌ مِّنَ الْجَنَّةِ بَعِيْدٌ مِّنَ النَّارِ وَالْبَخِيْلُ بَعِيْدٌ مِّنَ اللهِ بَعِيْدٌ مِّنَ النَّاسِ بَعِيْدٌ مِّنَ الْجَنَّةِ قَرِيْبٌ مِّنَ النَّارِ وَالْجَاهِلُ السَّخِىُّ أَحَبُّ إِلَى اللهِ مِّنْ عَابِدٍ بَخِيْلٍ {رواه  التّرمذى}.

 

“Rasulullah Saw. bersabda: “Orang yang pemurah itu dekat dengan Allah, dekat dengan manusia, dekah dengan syurga, dan jauh dari neraka. Dan orang yang bakhil itu jauh dari Allah, jauh dari manusia, jauh dari syurga, dan dekat dengan neraka. Orang yang jahil (bodoh) tapi pemurah, itu lebih dicintai Allah daripada ahli ibadah tapi bakhil”. (HR. Turmudzi).

 

رسول الله صلى الله عليه وسلم  : ترى المؤمنين فى تراحمهم وتواددهم وتعاطفهم كمثل الجسد إذا اشتكى عضوٌ تداعى له سائر جسده بالسّهر والحمّى. {رواه  البخارى}.

 

“Rasulullah Saw. bersabda: “Engkau akan melihat orang-orang yang beriman dalam kasih sayang mereka, dalam kecintaan mereka dan dalam keakraban mereka antar sesamanya adalah bagaikan satu tubuh. Apabila salah satu anggotanya merasakan sakit, maka sakitnya itu akan merembet ke seluruh tubuhnya, sehingga (semua anggota tubuhnya) merasa sakit, dan merasakan demam (karenanya)”. (HR. Bukhari).

Baca juga: Pengertian Zakat Mal Kewajiban Muslim yang Telah Mampu

 

Kewajiban zakat dari Fatwa Ulama’

zakat profesi

Beberapa riwayat menjelaskan hal tersebut, diantaranya adalah riwayat dari Ibnu Mas’ud, Mu’awiyah dan Umar bin Abdul Aziz yang menjelaskan bahwa beliau mengambil zakat dari a’thoyat, jawaiz (hadiah) dan al-madholim (barang ghasab yang dikembalikan).

Abu Ubaid meriwayatkan, “Adalah Umar bin Abdul Aziz memberi upah kepada pekerjaannya dan mengambil zakatnya, dan apabila mengembalikan al-madholim (barang ghasab yang dikembalikan) diambil zakatnya, dan beliau juga mengambil zakat dari a’thoyat (gaji rutin) yang diberikan kepada yang menerimanya”.

 

Nisab dan Cara Menghitung Zakat Profesi

nishab zakat profesi

Berbeda dengan cara mengeluarkan zakat hasil perdagangan ataupun dari barang-barang tambang. Zakat profesi diqiyaskan dengan hasil dari pertanian yaitu ketika panen tiba. Dengan mengikuti prosentase zakat emas yaitu 2,5%. Dengan nishab 524Kg beras atau setara Rp. 5.240.000,-

Jadi zakat ini ditarik setiap sebulan sekali setelah ” karyawan ataupun pekerja gajian”. Tetapi tidak ada paksaan dari BAZNAS. Hanya berupa ajakan dan himbauan.

Bersumber dari badan amil zakat nasional menyampaikan bahwa nisab zakat penghasilan yang diwajibkan mengeluarkan zakat sebesar minimal Rp5.240.000.

Jadi semisal seseorang mempunyai pekerjaan dengan gaji Rp6.000.000 dalam satu bulan maka zakat profesi adalah Rp6.000.000 x 2,5% sama dengan Rp150.000.

Baca juga: Pengertian Zakat Fitrah yang Wajib Diketahui Setiap Muslim

Penerima zakat penghasilan

Pada dasarnya penerima zakat adalah mereka yang menyandang status asnaf yang berjumlah delapan golongan.

Akan tetapi berawal dari gagasan badan amil zakat nasional BAZNAS bahwa tujuan adanya penarikan zakat profesi dari muslim yang taat adalah untuk kesejahteraan masyarakat. Sehingga badan amil zakat yang berposisi sebagai amil zakat meminta untuk membayarkan zakat melalui website Badan amil zakat nasional baznas melalui link https://baznas.go.id/bayarzakat.

Kesimpulan dari pembahasan Pada kesempatan kali ini adalah bahwa  semua nikmat dari Allah yang berupa rezeki fisik kebendaan wajib dikeluarkan zakatnya. Mereka yang sudah memiliki pekerjaan dengan nisab yaitu Rp5.420.000 wajib mengeluarkan zakat profesinya.

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.