Kang Santri Perintah rasul. "Barang siapa yang ingin sukses di dunia dan akhirat maka berilmulah". Alhamdulillah.. kami pernah belajar di beberapa pesantren dan juga universitas ๐Ÿคฒ

Kewajiban Zakat Pertanian Antara Problematika dan Ketaatan Beragama

3 min read

Zakat pertanian antara problematika dan ketaatan beragama – Pertanian saat ini dijadikan sebagai penghasilan utama oleh orang-orang yang berada di pedesaan. Biasanya pertanian ini adalah opsi terakhir bagi seseorang yang tidak bisa memilih pekerjaan selain bertani.

Sehingga petani di anggap sebelah mata oleh kelompok tertentu dan juga tidak mendapatkan perhatian yang serius dari pemerintah.

Sebagai seorang petani tidak bisa berbuat banyak untuk menentukan penghasilan yang ia inginkan. Jika seorang petani bisa mengusahakan hasil dari pertaniannya tetapi dia tidak bisa mengusahakan yang maksimal dari harga jual hasil pertanian.

Hal ini tentunya dirasa sangat miris Ketika kita melihat dan mengetahui bagaimana nasib seorang petani. Berbeda dengan orang-orang yang ada di perkotaan yang pekerjaannya lebih ringan dan hasilnya relatif lebih banyak.

Walaupun demikian para petani yang berdomisili di daerah pedesaan biasanya memiliki paham keagamaan yang kuat.

Sehingga apa yang diajarkan oleh agama akan ia laksanakan dengan benar dan sungguh-sungguh. Seperti kewajiban seorang muslim mengeluarkan zakat dari hasil pertanian seperti padi.

Jika kita bandingkan antara seorang petani yang didiskriminasi saat proses penjualan hasil pertaniannya dengan seorang pegawai yang sudah mapan gajinya. Nampaknya jika hanya seorang petani yang ditarik zakatnya hal itu dirasa tidak adil karena memberatkan seorang petani.

Lantas Bagaimanakah upaya untuk mensejajarkan keadilan antara seorang buruh tani dengan profesi profesi yang lain? pembicaraan itu akan kita bahas dalam “zakat profesi wajibkah?

Terlepas dari perbedaan antara seorang petani dan juga pegawai perkantoran ataupun pabrik. nyatanya banyak juga seorang petani yang memiliki aset lebih banyak dari seorang Katakanlah general manajer.

Dengan begitu apapun hasil pekerjaan seseorang diwajibkan untuk mengeluarkan zakatnya seperti firman Allah.

ูˆูŽุฃูŽู†ููู‚ููˆุง ู…ูู† ู…ูŽู‘ุง ุฑูŽุฒูŽู‚ู’ู†ูŽุงูƒูู… ู…ูู‘ู† ู‚ูŽุจู’ู„ู ุฃูŽู† ูŠูŽุฃู’ุชููŠูŽ ุฃูŽุญูŽุฏูŽูƒูู…ู ุงู„ู’ู…ูŽูˆู’ุชู ููŽูŠูŽู‚ููˆู„ูŽ ุฑูŽุจูู‘ ู„ูŽูˆู’ู„ูŽุง ุฃูŽุฎูŽู‘ุฑู’ุชูŽู†ููŠ ุฅูู„ูŽู‰ูฐ ุฃูŽุฌูŽู„ู ู‚ูŽุฑููŠุจู ููŽุฃูŽุตูŽู‘ุฏูŽู‘ู‚ูŽ ูˆูŽุฃูŽูƒูู† ู…ูู‘ู†ูŽ ุงู„ุตูŽู‘ุงู„ูุญููŠู†ูŽ (ุงู„ู…ู†ุงูู‚ูˆู† :ูกู )

Dan belanjakanlah sebagian dari apa yang telah Kami berikan kepadamu sebelum datang kematian kepada salah seorang di antara kamu; lalu ia berkata: “Ya Rabb-ku, mengapa Engkau tidak menangguhkan (kematian)ku sampai waktu yang dekat, yang menyebabkan aku dapat bersedekah dan aku termasuk orang-orang yang saleh.
Berikut ini penjelasan zakat pertanian dan perkebunan.

Zakat Pertanian dan Perkebunan

zakat pertanian
Menurut syariat Islam dan dijelaskan oleh para ulama Salaf. Hasil pertanian wajib dikeluarkan zakatnya. Menurut mereka hasil pertanian yang wajib dizakati meliputi makanan pokok seperti padi, jagung dan gandum.

Setelah berjalannya waktu bidang pertanian memiliki variasi tanaman yang di ditanam oleh petani. Seperti buah-buahan, sayur-sayuran, umbi-umbian, daun-daunan dan lain sebagainya.

Sedangkan pada masa di mana ulama salaf membahas mengenai kewajiban zakat pertanian belum dibahas mengenai kewajiban mengeluarkan zakat mal untuk hasil perkebunan seperti karet, sawit, kokoa, durian dan lain sebagainya.

Setelah berjalannya waktu ada beberapa ulama yang memperhatikan mengenai zakat hasil dari pertanian dan perkebunan. Salah satu ulama yang membawa konsep tersebut adalah Yusuf qardhawi.

Menurut beliau semua yang dihasilkan dari bumi dan dari semua pekerjaan wajib dikeluarkan zakatnya. Seperti arti hal nya profesi yang memiliki kewajiban untuk mengeluarkan zakat.

Kemudian Bagaimanakah perhitungan dan juga cara untuk menentukan seberapa besar zakat yang di keluarkan? Berikut ini rinciannya.

Nisab Zakat Pertanian dan Perkebunan

nisab zakat pertanian
Yang menjadi patokan dari kewajiban mengeluarkan zakat hasil dari pertanian dan perkebunan adalah nisab dari hasil padi.

Yaitu 5 wasaq atau setara dengan 815 kg berupa beras atau 1481 kg Jika masih berupa gabah.

Jika kita konversikan ke dalam tanaman tanaman yang lain seperti buah-buahan. Maka hasil dari buah-buahan tersebut dikonversikan ke dalam harga beras.

Semisal beras 1 kg seharga Rp. 10.000. Maka ketika telah mencapai nominal Rp. 8.150.000 wajib dikeluarkan zakatnya.

Begitupula tanaman-tanaman yang lain. Harus dikonversikan terlebih dahulu menjadi harga nisab beras yaitu 815 kg kemudian di kurangi zakatnya 5% sampai 10%.

Dengan demikian setiap hasil pertanian yang diluar dari makanan pokok seperti tembakau, kedelai, kacang hijau, cabe, tomat dll harus mengeluarkan zakatnya.

Sedangkan hasil perkebunan seperti karet dan sawit jika niatnya diperdagangkan maka yang berlaku adalah nisab perdagangan yang akan kita bahas pada kesempatan berikutnya.
Baca juga :ย Penjelasan 8 Asnaf, Golongan Penerima Zakat

Syarat yang Harus Terpenuhi

Syarat zakat

Seorang petani yang telah memenuhi syarat berikut ini wajib mengeluarkan zakatnya. Yaitu adalah sebagai berikut:

A. Harus Milik Sendiri Sepenuhnya

Dalam dunia pertanian banyak opsi pengelolaannya. Bisa dengan cara sistem “maro” yaitu bagi hasil dengan persentase 50% antara pemilik tanah dan juga pengelola.

Ada juga dengan sistem buruh. Yaitu pemilik tanah sekaligus menjadi pemodal sehingga pengelola hanya menggarap sawah. Pegelola mendapat hasil sesuai dengan kesepakatan dengan akad awal diawal dengan pemilik sawah.

Sistem yang lain adalah 100% digarap oleh pemilik sawah. Sehingga hasilnyapun sepenuhnya milik pemilik sawah.

Dari beberapa model di atas. Pemilik sawah dan juga pengelola dengan sistem “maro” sudah memenuhi syarat untuk mengeluarkan zakat.

B. Mencapai Nisab

Petaniย  yang menggarap sawah biasanya tidak hanya sepetak 20meter persegi. Terlepas dari luas sempitnya sawah tidak menjadikan patokan dalam syarat diwajibkannya zakat.

Tetapi syarat yang harus terpenuhi adalah mencapai nisabnya.ย  Yaitu 653 kg beras. Jika hasil pertanian bukan berupa makanan pokok seperti padi. Maka harus dikonversikan terlebih dahulu dengan harga padi senilai nisab.

Ada pendapat lain yang mengatakan bahwa nisab pertanian adalahย 5 wasaq atau setara dengan 815 kg berupa beras atau 1481 kg Jika masih berupa gabah.

Cara Menghitung Zakat Pertanian

nisab zakat pertanian

Cara menghitung zakat pertanian berbeda dengan cara menghitung zakat perdagangan dan juga yang lainnya.

Hal ini dikarenakan ketika kita menghitung zakat pertanian tidak menggunakan haul (1 tahun) baru dikeluarkan zakatnya. Tetapi ketika masa panen tiba itulah waktu yang diwajibkan untuk mengeluarkan zakatnya.

Cara menghitung besarnya zakat pertanian berdasarkan dari cara memperoleh air untuk pengairan pertanian zakat di dibagi menjadi 3 macam persentase.

A. Sawah Tadah Hujan

Zakat pertanian 10% ini berlaku apabila Ketika seseorang menanam tanaman yang cara mengairi nya tidak memerlukan biaya. Bisa berupa tadah hujan ataupun irigasi gratis.

Jika demikian maka perhitungan zakatnya setiap Rp 8.150.000 maka zakat yang wajib dikeluarkan adalah Rp. 815.000.

B. Sawah Irigasi

Biasanya ketika musim kemarau ataupun lahan pertanian dan juga perkebunan jauh dari sumber mata air menggunakan sistem irigasi yang berbayar yaitu menggunakan jasa seseorang ataupun alat untuk mengairi sawahnya.

Jika demikian ketika dia panen maka wajib mengeluarkan zakatnya 5% setiap mencapai nishob. Hal ini berdasarkan hadits yang disampaikan oleh Rasullullah:

ูููŠู…ูŽุง ุณูŽู‚ูŽุชู ุงูŽู„ุณูŽู‘ู…ูŽุงุกู ูˆูŽุงู„ู’ุนููŠููˆู†ู, ุฃูŽูˆู’ ูƒูŽุงู†ูŽ ุนูŽุซูŽุฑููŠู‹ู‘ุง: ุงูŽู„ู’ุนูุดู’ุฑู, ูˆูŽูููŠู…ูŽุง ุณูู‚ููŠูŽ ุจูุงู„ู†ูŽู‘ุถู’ุญู: ู†ูุตู’ูู ุงูŽู„ู’ุนูุดู’ุฑู. – ุฑูŽูˆูŽุงู‡ู ุงูŽู„ู’ุจูุฎูŽุงุฑููŠู‘

Artinya: โ€œSetiap areal yang mendapat siraman lagit, mata air, atau tadah hujan, maka zakatnya adalah 10%. Sementara areal yang disirami dengan memakai onta, maka zakatnya adalah 5%โ€ (HR. Bukhari).

C. Sawah Irigasi dan Tadah Hujan

Pada saat musim penghujan petani tidak memerlukan irigasi si dari sungai untuk mengairi sawahnya. Akan tetapi ada juga model sawah yang yang tidak bisa menunggu air hujan untuk mengairi sawahnya.

Tetapi ketika musim hujan masih diharuskan untuk menggunakan irigasi yang berbayar sehingga cara mengairi sawahnya adalah campuran yaitu ada hujan dan juga irigasi dari sungai.

Jika cara pengairan sawah demikian maka menurut Imam Az-Zarkawi dan juga Syekh Taqiyuddin al-Hushny dalam Kifayatu al-Akhyar, besaran zakat yang harus dikeluarkan adalah 7,5% yaitu pertengahan antara 5% dan 10%.

Kesimpulan dari pembahasan ini adalah semua tanaman perkebunan dan juga pertanian wajib dikeluarkan zakatnya dengan ketentuan sudah mencapai nisab dan milik sendiri.

Sedangkan besaran zakat yang harus dikeluarkan adalah antara 5% sampai dengan 10% melihat bagaimana cara untuk mengairi sawah.

Demikian pembahasan pasa kesempatan kali iniย  mengenai Kewajiban zakat pertanian. Semoga bermanfaat dan berkah.

Kang Santri Perintah rasul. "Barang siapa yang ingin sukses di dunia dan akhirat maka berilmulah". Alhamdulillah.. kami pernah belajar di beberapa pesantren dan juga universitas ๐Ÿคฒ

Sebarkan Kebaikan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: