Kang Santri Kangsantri.id merupakan bentuk usaha kami dari para santri dan alumni untuk menjaga tradisi keilmuan pesantren yang mengedepankan wasathiyah, salafiyah. 🤲

Wakaf Tunai – Pendapat Ulama, Tantangan dan Solusi

3 min read

Wakaf Uang dan Pemberdayaan Masyarakat

Wakaf tunai atau wakaf uang dapat diartikan sebagai penyerahan hak milik berupa uang tunai kepada seseorang, kelompok orang, atau lembaga nadzir. Untuk dikelola secara produktif dengan tidak mengurangi atau menghilangkan ‘ain aset.

Sehingga dapat diambil hasil atau manfaatnya oleh mauquf alaih sesuai dengan permintaan wakif yang sejalan dengan syariat Islam.

Menurut Muhammad Zarka, secara konseptual aset wakaf dapat dimanfaatkan untuk proyek penyediaan layanan.

Seperti sekolah gratis bagi dhuafa, dan proyek wakaf produktif yang dapat menghasilkan pendapatan, seperti menyewakan bangunan/ruko untuk tempat usaha.

Pendapat Para Ulama Mengenai Wakaf Uang

 

Fatwa ulama tentang wakaf tunai

Para ulama berbeda paham mengenai landasan hukum wakaf tunai.

Hal ini dipengaruhi oleh kebiasaan masyarakat dulu yang mengoptimalkan aset wakaf melalui cara transaksi sewa.

Para ulama yang tidak mengesahkan wakaf tunai berargumen bahwa uang diciptakan sebagai alat tukar untuk mempermudah transaksi dalam kehidupan maka apabila menyewakannya, hal itu akan berkaitan dengan riba.

Alasan lain dikemukakan oleh Al-Bakri, ulama pengikut Imam Syafi’i, menolak wakaf uang karena wujud uang sebagai pokok aset tidak kekal atau lenyap ketika dibayar.

Akan tetapi, mazhab Syafi’i memperbolehkan air sebagai pengecualian dari prinsip.

Sebagian ulama lainnya memperbolehkan wakaf uang untuk dilaksanakan.

Imam Hanifah memberikan alternatif dengan menginvestasikannya sebagai modal usaha dan hasilnya dapat disedekahkan kepada mauquf alaih.

Imam Hambali pun memperbolehkan berwakaf dalam bentuk uang tunai, baik dirham maupun dinar. Ulama Maliki pun turut mensahkan wakaf sejumlah uang, antara lain Imam Nawawi dan Ibnu Taimiyah.

Di Indonesia, Majelis Ulama Indonesia pada tanggal 28 Shafar 1423 H/11 Mei 2002 melalui komisi fatwa mengeluarkan fatwa tentang kebolehan hukum wakaf uang selama disalurkan dan digunakan untuk hal-hal yang sesuai syar’i dan memasukkan surat berharga kepada pengertian uang.

Wakaf uang merupakan dana amanah yang harus segera diserahkan kepada mauquf alaih.

Satu hal yang harus diperhatikan dalam pengelolaan wakaf adalah menjamin kelanggengan aset wakaf agar tetap memberikan manfaat prima sesuai tujuannya.

Baca juga : Sejarah Wakaf Dari Awal Islam Sampai Ke Indonesia

Tujuan Wakaf Tunai

Dalil wakaf

Seiring perjalanan waktu, semua aktiva tetap yang digunakan untuk pemenuhan operasional pasti mengalami proses penyusutan.

Untuk mencapai kelanggengan manfaat ini dibutuhkan biaya untuk menutup beban pemeliharaan yang telah dikeluarkan. Pendapatan inilah yang menjadi kajian studi kelayakan ekonomi suatu proyek harta wakaf.

Tujuan penggalangan wakaf tunai (wakaf uang) dari masyarakat antara lain sebagai berikut:

1. menggalang tabungan sosial dan mentransformasikan tabungan sosial menjadi modal sosial serta membantu mengembangkan pasar modal sosial;

2. meningkatkan investasi sosial;

3. menyisihkan sebagian keuntungan dari sumber daya orang kaya/berkecukupan kepada fakir miskin dan anak-anak generasi berikutnya;

4. menciptakan kesadaran di antara orang-orang kaya/berkecukupan mengenai tanggung jawab sosial mereka terhadap masyarakat sekitarnya;

5. menciptakan integrasi antara keamanan sosial dan kedamaian sosial serta meningkatkan kesejahteraan.

Baca juga : Macam Macam Wakaf

Pendapat Ahli Ekonomi Syariah

M.A. Mannan menyatakan, dilihat dari cara transaksi, wakaf mirip dengan sedekah. Perbedaan antara keduanya terletak pada perpindahan aset kepada masyarakat yang membutuhkan.

Aset sedekah dan manfaatnya harus diberikan secara langsung kepada delapan asnaf yang telah ditentukan Allah SWT., sedangkan dalam wakaf, perpindahan hanya terjadi pada manfaat/hasil aset tanpa mengurangi ‘ain aset.

Menurut Monzer Kahf, wakaf memiliki makna upaya
pengembangan aset yang melibatkan proses akumulasi modal dan harta kekayaan yang produktif melalui investasi saat ini untuk kemaslahatan yang akan datang.

Sehingga pengelolaan wakaf memiliki pengorbanan kesempatan konsumsi masa sekarang untuk tujuan menyediakan penghasilan dan pelayanan yang lebih baik bagi generasi mendatang.

Baca juga : Perubahan Status Dan Tujuan Perwakafan

Syarat wakaf tunai

Tujuan proyek wakaf adalah mengoptimalkan fungsi harta wakaf sebagai prasarana meningkatkan kualitas kehidupan sumber daya insani.

Untuk mengembangkan lembaga wakaf sebagai sumber pembangunan umat, menurut Monzer Khaf, beberapa persyaratan berikut harus dipenuhi, yaitu:

1. Kerangka hukum (legal framework) yang memberikan perlindungan hukum memadai terhadap hak milik, pengelola lembaga wakaf dan definisi tentang pengelola lembaga wakaf, fungsi dan tujuannya secara jelas dan terperinci.

2. Undang-undang yang memberikan kemungkinan pengalihan kepemilikan semua harta milik wakaf kepada sektor publik atau pribadi dan memeriksa kembali catatan lama wakaf untuk memulihkan kembali hak wakaf atas tanah-tanah estate-nya yang hilang.

3. Merevisi secara menyeluruh manajemen wakaf, khususnya wakaf yang bersifat investasi, agar memenuhi peningkatan efisiensi dan produktivitas harta milik wakaf dan meminimalkan praktik salah urus dan tindakan korupsi yang dilakukan oleh nadzir.

Diperlukan pula model baru pengelolaan wakaf yang sesuai dengan kelembagaan wakaf dan menyediakan mekanisme pengawasan dan perimbangan terhadap pengelola wakaf.

Baca juga : Pengertian Dan Dasar Hukum Wakaf

Perbedaan wakaf, sedekah dan infak

Wakaf memiliki pengertian yang berbeda dengan infak, sedekah ataupun hibah, tetapi pengertian ini saling dirancukan. Berikut beberapa perbedaan penting antara wakaf dengan infak, sedekah,
dan hibah.

Wakaf Infak, Sedekah/Hibah
Menyerahkan kepemilikan suatu barang kepada orang lain Menyerahkan suatu kepemilikan barang kepada pihak lain
Hak milik atas barang dikembalikan kepada Allah Hak milik atas barang diberikan kepada penerima infak, sedekah/hibah
Objek wakaf tidak boleh dipindah tangankan atau dijual kepada pihak lain Objek wakaf boleh dipindah tangankan atau dijual kepada pihak lain
Manfaat barang dinikmati untuk kepentingan sosial Manfaat barang dinikmati oleh si penerima infak, sedekah/hibah
Objek wakaf biasanya kekal zatnya Objek infak, sedekah/hibah tidak harus kekal zatnya
Pengelolaan objek wakaf diserahkan kepada admin yang disebut dengan nadzir Objek infak sedekah langsung diserahkan kepada penerima

Kendala menjalankan wakaf tunai

Beberapa kendala yang menjadikan wakaf tunai sulit berkembang pada masyarakat, yaitu sebagai berikut:

  1. Masyarakat masih memahami bahwa wakaf berhubungan dengan harta-harta yang memiliki nilai tinggi dan bersifat tetap, seperti tanah, rumah, dan sebagainya.
  2. Wakaf tunai relatif baru di Indonesia, sehingga dampak langsung dari kelebihan wakaf tunai bagi kesejahteraan masyarakat belum terasa implikasinya dalam perekonomian.
  3. Lembaga wakaf tunai masih dipahami sebagai lembaga zakat, dan lembaga zakat bisa dijadikan pengganti keberadaan lembaga wakaf tunai. Hal ini yang menjadikan keberadaan lembaga wakaf tunai terasa tidak begitu penting.
  4. Tidak ada konsekuensi hukum yang mengikat individu untuk mewakafkan sebagian hartanya.

Solusi atas kendala menjalankan wakaf tunai

Wakaf di Indonesia

Usaha yang dapat dilakukan oleh lembaga pengelola wakaf tunai untuk mengurangi kendala-kendala di atas adalah sebagai berikut.

1. Sosialisasi keberadaan wakaf tunai kepada masyarakat, bahwa masyarakat tidak perlu menunggu sampai jumlah tertentu hartanya guna membeli sejumlah harta untuk diwakafkan. Wakaf bisa dilakukan dengan tunai, walaupun ia tidak memiliki harta, seperti tanah, rumah, dan sebagainya.

2. Mendirikan lembaga wakaf tunai dapat dimulai dari lingkungan terkecil, seperti takmir masjid, pesantren, dan sebagainya. Pendirian lembaga wakaf tunai tidak harus menunggu kelompok/institusi. Selama individu/kelompok individu mampu mendirikannya, tidak ada halangan untuk mendirikan lembaga wakaf tunai.

3. Perlu koordinasi dengan lembaga zakat untuk menjalin kerja sama dan meningkatkan kinerja antara kedua lembaga tersebut, dengan tujuan menyejahterakan masyarakat.

Kang Santri Kangsantri.id merupakan bentuk usaha kami dari para santri dan alumni untuk menjaga tradisi keilmuan pesantren yang mengedepankan wasathiyah, salafiyah. 🤲

Sebarkan Kebaikan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: