Kang Santri Kangsantri.id merupakan bentuk usaha kami dari para santri dan alumni untuk menjaga tradisi keilmuan pesantren yang mengedepankan wasathiyah, salafiyah. 🤲

Perubahan Status Dan Tujuan Perwakafan

1 min read

Perubahan Status dan Tujuan Perwakafan – saat seseorang meninggal hanya akan membawa tiga perkara sebagai bekal di akhirat. Salah satu diantaranya adalah amal jariyah.

Salah satu upaya seseorang untuk beramal jariyah adalah dengan bersedekah dan mewakafkan sebagian hartanya. Seperti mewakafkan tanah, barang, maupun berupa uang.

Akan tetapi niat yang baik belum tentu diterima dengan baik oleh orang sekitar, anak istri suami maupun keluarga yang lain.

Bisa jadi seorang bapak mewakafkan tanahnya untuk kepentingan agama dan publik tersandung restu dari anak-anaknya. Karena mereka menggugat tanah wakaf untuk dijadikan tanah warisan.

Lantas bagaimana undang-undang dan agama memperhatikan masalah ini?

Perubahan Status dan Tujuan Perwakafan Menurut Pendapat Madzhab Fiqih

Perubahan status wakaf

Tentang perubahan status dan tujuan perwakafan sangat ketat pengaturannya dalam madzhab Syafi’i. Namun demikian, berdasarkan keadaan darurat dan prinsip maslahat, dikalangan para ahli hukum (fikih) Islam madzhab yang lain, perubahan itu dapat dilakukan.

Ini disandarkan pada pandangan agar manfaat wakaf itu tetap terus berlangsung sebagai shadaqah jariyah, tidak mubadzir karena rusak, tidak berfungsi lagi dan sebagainya.

Dengan perubahan itu, status benda itu sebagai harta wakaf pada hakikatnya sebenarnya tidak berubah. Semua perubahan itu dimungkinkan berdasarkan pertimbangan agar tanah atau harta wakaf itu tetap mendatangkan manfaat.

Menurut Ibnu Qudamah, seorang ahli hukum (fikih) Islam madzhab Hambali, harta wakaf yang telah mengalami kerusakan sehingga tidak mendatangkan manfaat lagi seperti tujuannya semula, hendaklah dijual saja.

Harga penjualannya itu dibelikan pada benda lain yang mendatangkan manfaat sesuai dengan tujuan wakaf semula. Barang yang dibeli dengan menjual harta wakaf tersebut di atas mempunyai kedudukan yang sama dengan wakaf semula

Baca juga : Macam Macam Wakaf

Perubahan Status dan Tujuan Perwakafan Menurut UU No. 41 Tahun 2004 Tentang Wakaf

Perubahan Status dan Tujuan Perwakafan

Pada dasarnya terhadap tanah milik yang diwakafkan tidak dapat dilakukan perubahan peruntukan atau penggunaannya selain dari yang telah ditentukan dalam ikrar wakaf.

Hal tersebut sesuai dengan pasal 40 UU No 41 tahun 2004 yang berbunyi; harta benda wakaf yang telah diwakafkan dilarang:

a. dijadikan jaminan; b. disita; c. dihibahkan; d. dijual; e. diwariskan; f. ditukar; atau g. dialihkan dalam bentuk pengalihan hak lainnya.

Namun demikain, karena alasan-alasan tertentu yaitu (a) karena tidak sesuai lagi dengan tujuan wakaf seperti yang di ikrarkan oleh wakif dan (b) untuk kepentingan umum, setelah mendapat persetujuan tertulis dari Menteri Agama atau pejabat yang ditunjuknya, perubahan peruntukan itu dapat dilakukan.

Baca juga : Sejarah Wakaf Dari Awal Islam Sampai Ke Indonesia

Aturan yang mentolerir adanya perubahan status harta benda wakaf adalah UU No.41 Tahun 2004 Tentang Wakaf tepatnya pada BAB IV Pasal 41 yang memuat beberapa ketentuan yaitu:

(1) Ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 40 huruf f dikecualikan apabila harta benda wakaf yang telah diwakafkan digunakan untuk kepentingan umum sesuai dengan rencana umum tata ruang (RUTR) berdasarkan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku dan tidak bertentangan dengan syari’ah.

(2) Pelaksanaan ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) hanya dapat dilakukan setelah memperoleh izin tertulis dari Menteri atas persetujuan Badan Wakaf Indonesia.

(3) Harta benda wakaf yang sudah diubah statusnya karena ketentuan pengecualian sebagaimana dimaksud pada ayat (1) wajib ditukar dengan harta benda yang manfaat dan nilai tukar sekurang-kurangnya sama dengan harta benda wakaf semula.

(4) Ketentuan mengenai perubahan status harta benda wakaf sebagaimana dimaksud pada ayat 1), ayat (2), dan ayat (3) diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah.

Jadi kalau kita merujuk peraturan yang ada untuk perubahan status dan tujuan perwakafan sebenarnya bukanlah hal yang diharamkan.

Hal tersebut demi tetap terjaganya tujuan dan fungsi wakaf yaitu memanfaatkan harta benda wakaf sesuai dengan fungsinya untuk kepentingan ibadah dan untuk memajukan kesejahteraan umum.

Kang Santri Kangsantri.id merupakan bentuk usaha kami dari para santri dan alumni untuk menjaga tradisi keilmuan pesantren yang mengedepankan wasathiyah, salafiyah. 🤲

Sebarkan Kebaikan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: