Kang Santri Kangsantri.id merupakan bentuk usaha kami dari para santri dan alumni untuk menjaga tradisi keilmuan pesantren yang mengedepankan wasathiyah, salafiyah. ๐Ÿคฒ

Pengertian Dan Dasar Hukum Wakaf

5 min read

Pengertian Dan Dasar Hukum Wakaf – Dalam beberapa tahun belakangan ini transaksi yang berdasarkan prinsip syariah berkembang dengan begitu cepatnya.

Salah satunya buktinya adalah berdirinya bank wakaf mikro yang launching pada 3 tahun yang lalu tahun 2017.

Hadirnya bank wakaf mikro di tengah-tengah masyarakat yang dipromotori oleh pondok pesantren di seluruh Indonesia. Adalah bukti bahwa transaksi syariah mendatangkan kemaslahatan bagi umat.

Pengakuan dari para nasabah bank wakaf mikro. Mereka mengungkapkan kegembiraan atas hadirnya bank wakaf mikro di tengah-tengah mereka.

Pengertian Wakaf

Pengertian wakaf

Perkataan Al-waqf yang menjadi wakaf dalam bahasa Indonesia berasal dari kata bahasa arab ูˆูŽู‚ูŽููŽุŒ ูŠูŽู‚ููู, ูˆูŽู‚ู’ูู‹ุง yang berarti ragu-ragu, berhenti, memberhentikan, memahami, mencegah, menahan, mengatakan memperlihatkan, meletakkan, memperhatikan, mengabdi, dan tetap berdiri.

Dalam Kompilasi Hukum Islam pasal 215 yang dimaksud dengan wakaf adalah perbuatan seseorang atau kelompok orang atau badan hukum yang memisahkan sebagian dari benda miliknya dan melembagakan untuk selama-lamanya guna kepentingan ibadat atau keperluan umum lainnya sesuai dengan ajaran Islam.

Dari beberapa pengertian wakaf diatas dapat ditarik cakupan wakaf meliputi:

a. Harta benda milik seseorang atau sekelompok orang.

b. Harta benda tersebut bersifat kekal zatnya, tidak habis sekali pakai.

c. Harta tersebut dilepas kepemilikannya oleh pemiliknya.

d. Harta yang dilepas kepemilikannya tersebut tidak bisa dihibahkan, diwariskan atau diperjual belikan.

e. Manfaat dari harta benda tersebut untuk kepentingan umum sesuai dengan ajaran Islam.

Dasar Hukum di Syariโ€™atkannya Wakaf

Fatwa ulama tentang wakaf

Wakaf adalah salah satu lembaga sosial Islam yang sangat dianjurkan dalam ajaran Islam untuk dipergunakan oleh seseorang sebagai sarana penyaluran rezeki yang diberikan oleh Allah kepadanya.

Meskipun wakaf tidak jelas dan tegas disebutkan dalam Al Qurโ€™an, tetapi ada beberapa ayat yang digunakan oleh para ahli sebagai dasar hukum disyariatkannya wakaf.

Firman Allah

Firman allah dalam Surat Ali Imran Ayat 92 :

ู„ูŽู†ู’ ุชูŽู†ูŽุงู„ููˆุง ุงู„ู’ุจูุฑู‘ูŽ ุญูŽุชู‘ูŽู‰ ุชูู†ู’ููู‚ููˆุง ู…ูู…ู‘ูŽุง ุชูุญูุจู‘ููˆู†ูŽ ูˆูŽู…ูŽุง ุชูู†ู’ููู‚ููˆุง ู…ูู†ู’ ุดูŽูŠู’ุกู ููŽุฅูู†ู‘ูŽ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ูŽ ุจูู‡ู ุนูŽู„ููŠู…ูŒ

Artinya: Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebaikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sebagian harta yang kamu cintai. Dan apa saja yang kamu nafkahkan, maka sesungguhnya allah mengetahuinya.

Surat Al-Baqarah, Ayat 267 :

ูŠูŽุง ุฃูŽูŠู‘ูู‡ูŽุง ุงู„ู‘ูŽุฐููŠู†ูŽ ุขูŽู…ูŽู†ููˆุง ุฃูŽู†ู’ููู‚ููˆุง ู…ูู†ู’ ุทูŽูŠู‘ูุจูŽุงุชู ู…ูŽุง ูƒูŽุณูŽุจู’ุชูู…ู’ ูˆูŽู…ูู…ู‘ูŽุง ุฃูŽุฎู’ุฑูŽุฌู’ู†ูŽุง ู„ูŽูƒูู…ู’ ู…ูู†ูŽ ุงู„ู’ุฃูŽุฑู’ุถู ูˆูŽู„ูŽุง ุชูŽูŠูŽู…ู‘ูŽู…ููˆุง ุงู„ู’ุฎูŽุจููŠุซูŽ ู…ูู†ู’ู‡ู ุชูู†ู’ููู‚ููˆู†ูŽ ูˆูŽู„ูŽุณู’ุชูู…ู’ ุจูุขูŽุฎูุฐููŠู‡ู ุฅูู„ู‘ูŽุง ุฃูŽู†ู’ ุชูุบู’ู…ูุถููˆุง ูููŠู‡ู ูˆูŽุงุนู’ู„ูŽู…ููˆุง ุฃูŽู†ู‘ูŽ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ูŽ ุบูŽู†ููŠู‘ูŒ ุญูŽู…ููŠุฏูŒ

Artinya: Hai orang-orang yang beriman, nafkahkanlah (dijalan Allah) sebagian dari hasil usahamu yang baik-baik dan sebagian dari apa yang kami keluarkan dari bumi untuk kamu. Dan janganlah dan janganlah kamu memilih yang buruk-buruk lalu kamu nafkahkan dari padanya, padahal kamu sendiri tidak mau mengambilnya melainkan dengan memicingkan mata terhadapnya. Dan ketahuilah bahwa Allah maha kaya lagi maha terpuji.

Sabda Rasulullah

Adapun Hadits yang dijadikan landasan khusus perbuatan mewakafkan harta yang dimiliki seseorang adalah hadits riwayat Al- Bukhary dan Muslim. Secara tegas menyatakan sebagai berikut:

ุนู† ุงุจู† ุนู…ุฑ ุฑุถู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู†ู‡ู…ุง ู‚ุงู„ ุฃุตุงุจ ุนู…ุฑ ุจุฎูŠุจุฑ ุงุฑุถุง ูุงุชู‰ ุงู„ู†ุจู‰ ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู… ูู‚ุงู„ ุงุตุจุช: ุงุตุจุช ุงุฑุถุง ู„ู… ุงุงุตุจ ู…ุงู„ุงู‚ุท ุงู†ูุณ ู…ู†ู‡ ููƒูŠู ุชุฃู…ุฑู†ู‰ ุจู‡ุŸ ู‚ุงู„ ุงู† ุดุฆุช ุญุจุณุช ุงุตู„ู‡ุง ูˆุชุตุฏู‚ุช ุจู‡ุง ูุชุตุฏู‚ ุนู…ุฑ ุงู†ู‡ ู„ุงูŠุจุงุน ุงุงุตู„ู‡ุง ูˆู„ุงูŠูˆู‡ุจ ูˆู„ุงูŠูˆุฑุซ ูู‰ ุงู„ูู‚ุฑุงุก ูˆุงู„ู‚ุฑุจู‰ ูˆุงู„ุฑู‚ุงุจ ูˆูู‰ ุณุจูŠู„ ุงู„ู„ู‡ ูˆุงู„ุถูŠู ูˆุงุจู† ุงู„ุณุจูŠู„ ู„ุงุฌู†ุงุญ ุนู„ู‰ ู…ู† ูˆู„ูŠู‡ุง ุงู† ูŠุฃูƒู„ ู…ู†ู‡ุง ุจุงู„ู…ุนุฑูˆู ุฃูˆูŠุทุนู… ุตุฏูŠู‚ุง ุบูŠุฑ ู…ุชู…ูˆู„ ููŠู‡

Artinya: โ€œDari Ibnu Umar ra berkata, Umar telah menguasai di khaibar, kemudian ia datang kepada Nabi SAW guna meminta instruksi sehubungan dengan tanah tersebut. Ia berkata: โ€œ Ya Rasulallah, aku telah memperoleh sebidang tanah di Khaibar, yang aku tidak menyenanginya seperti padanya, apa yang Engkau perintahkan kepadaku dengannya ? โ€œBeliau bersabda: โ€œjika kamu menginginkan, tahanlah asalnya dan sedekahkan hasilnya.โ€ Maka bersedekahlah Umar. Tanah tersebut tidak bisa dijual, dihibahkan dan diwariskan. Ia menyedekahkannya kepada orang-orang fakir, budak-budak, pejuang dijalan Allah, Ibnu Sabil, dan tamu-tamu. Tidak berdosa orang yang mengelolanya makan dari hasil tanah tersebut dengan cara yang maโ€™ruf dan memakannya tanpa maksud memperkaya diri. (HR. Al-Bukhary dan Muslim).

Hadits inilah yang mendasari disyariatkannya wakaf sebagai tindakan hukum, dengan cara melepaskan hak kepemilikan atas asal barang dan menyedekahkan manfaatnya untuk kepentingan umum, dengan maksud memperoleh pahala dari Allah SWT. Kepentingan umum tersebut bisa berupa kepentingan sosial atau kepentingan keagamaan.

Sejarah

Sejarah wakaf

Sebelum datangnya Islam, sebenarnya telah ada institusi yang mirip dengan institusi perwakafan, walaupun tidak memakai istilah wakaf.

Umat manusia โ€“ terlepas dari agama dan kepercayaan yang mereka anut โ€“ sesungguhnya telah mengenal beberapa bentuk praktik pendayagunaan harta benda, yang substansinya tidak jauh berbeda dengan batasan makna wakaf dikalangan umat Islam.

Beberapa contoh wakaf sebelum datangnya Islam adalah: pembangunan kaโ€™bah oleh Nabi Ibrahim a.s. Lembaga trust dalam sistem Anglo-Amerika dan pemberian harta benda oleh Raja Ramses II di Mesir untuk pembangunan Kuil Abidus.

Perbedaan antara praktek wakaf seperti yang disebutkan diatas dengan praktik wakaf dalam Islam tersebut terletak pada tujuan wakaf.

Dalam Islam tujuan wakaf adalah untuk mencari ridha Allah SWT dan untuk mendekatkan diri pada-Nya. Sedangkan wakaf sebelum Islam seringkali digunakan sebagai sarana untuk mencari prestise (kebanggaan).

Umat Islam sendiri berbeda pendapat tentang awal diberlakukannya sedekah dalam Islam. Menurut golongan Muhajirin, sedekah pertama kali diberlakukan pada zaman Umar binย Khatab r.a. dan dimulai oleh beliau sendiri.

Sedangkan menurut orang-orang Anshar, sedekah pertama kali dilakukan oleh Rasulullah SAW. Dalam kitab Maghazi Al Waqidi di katakan bahwa sedekah yang berupa wakaf dalam Islam, pertama kali dilakukan oleh Nabi Muhammad Saw, yaitu berupa sebidang tanah.

Terlepas dari perbedaan tersebut, para ulama sependapat bahwa wakaf merupakan salah satu bentuk sedekah yang dikenal dalam Islam, di mana hal itu dianjurkan sebagai cara mendekatkan diri kepada Allah.

Oleh karena itulah pada masa kenabian, wakaf selanjutnya banyak dilakukan oleh para sahabat. Wakaf yang dilakuakan oleh para sahabat ini bertujuan mulia dan semata-mata untuk mencari ridha Allah.

Lebih lengkap mengenai sejarah wakaf bacaย Sejarah Wakaf Dari Awal Islam Sampai Ke Indonesia

Manajemen Perwakafan Pertama

Perjalanan ajaran wakaf yang mengarah pada manajemen wakaf secara lebih rapi bermula pada masa Daulah Umayah.

Pada waktu itu seorang hakim dari mesir yang bernama Taubah bin Namr bin Haumal Al-Hadrami, yang menjadi hakim pada masa pemerintahan Hisyam bin Abdul Malik.

Menjadi orang yang pertama kali mencatat harta wakaf dalam catatan khusus, sehingga keselamatan para mustahik tetap terjaga.

Ketika wafat, Taubah meninggalkan arsip-arsip tentang sistem penataan wakaf dan menyusunnya dengan sangat rapi. Bahkan, pada masa ini telah dibuat pula pembukuan wakaf di Bashrah.

Selain itu, pada masa Daulah Islamiyah juga telah dibuat peraturan-peraturan yang memuat tentang pembagian macam-macam tanah, peraturan transaksi barang dan keuntungan wakaf. Pembagian-pembagian tersebut masih dipakai sampai sekarang.

Baca juga :ย Pengertian dan Macam-macam Zakat Yang Wajib Kamu Ketahui

Lembaga Perwakafan

Sejarah badan wakaf di indonesia

Institusi perwakafan di Indonesia yang berasal dari hukum Islam telah dikenal bersamaan dengan kehadiran agama Islam di Indonesia. Yakni sejak abad pertama Hijriyah atau abad ketujuh Masehi.

Sesuai dengan penelitian Atmaja, pada tahun 1922 telah terdapat wakaf diseluruh wilayah nusantara. Adapun nama dan jenis benda yang diwakafkan berbeda-beda, misalnya di Aceh disebut wakeuh, di Gayo disebut wokos dan di Payakumbuh disebut Ibah.

Masih menurut Atmaja, selain perwakafan yang berasal dari hukum Islam, di Indonesia juga terdapat perwakafan yang berasal dari hukum adat, seperti huma serang di Banten yang digunakan untuk kepentingan umum dan keagamaan, Desa Perdikan, Desa Pekuncen, dan Desa Keputihan di Jawa.

Hal ini berarti bahwa perwakafan telah ada dan berlaku di Indonesia sejak abad ketujuh Masehi, meskipun belum ada peraturan tertulis yang mengaturnya.

Saat ini lembaga perwakafan di Indonesia hadir dengan nama Badan Wakaf Indonesia. Yang lahir pada tahun 2007. Diketuai oleh KH. Tolhah Hasan.

Rukun dan Syarat Wakaf

Meskipun para Mujtahid berbeda pendapat dalam merumuskan definisi wakaf, namun mereka sepakat bahwa dalam pembentukan wakaf diperlukan beberapa rukun.

Rukun Wakaf

Menurut Abdul Wahab Khallaf rukun wakaf ada empat :

1. Orang yang berwakaf atau wakif, yakni pemilik harta benda yang melakukan tindakan hukum.

2. Harta yang diwakafkan atau maukuf bih sebagai obyek perbuatan hukum.

3. Tujuan wakaf atau yang berhak menerima wakaf, yang disebut maukuf alaih.

4. Pernyataan wakaf dari wakif yang disebut sighat atau ikrar wakaf.

Syarat Wakaf

Adapun syarat-syarat dari masing-masing rukun tersebut sebagai berikut :

1. Wakif atau orang yang berwakaf dan syarat-syaratnya.

Menurut sebagian besar Ulamaโ€™, seorang wakif harus memenuhi syarat-syarat tertentu. Suatu perwakafan sah dan dapat dilaksanakan apabila wakaf mempunyai kecakapan untuk melakukan โ€œTabarruโ€, yaitu melepaskan hak milik tanpa mengharapkan imbalan materiil. Orang dapat dikatakan mempunyai kecakapan โ€œtabarruโ€ dalam hal perwakafan apabila orang tersebut merdeka, benar-benar pemilik harta yang diwakafkan, berakal sehat, baligh dan rasyif.

2. Mauquf Bih atau harta yang diwakafkan.

Adapun syarat-syarat itu antara lain adalah sebagai berikut :

a. Benda yang diwakafkan harus bernilai ekonomis, tetap dzatnya dan boleh dimanfaatkan menurut ajaran Islam dalam kondisi apapun.

Namun dalam qanun yang ada di Mesir wakaf (benda yang diwakafkan) tidak hanya dibatasi pada benda-benda tidak bergerak, tetapi juga benda-benda bergerak. Semisal wakaf uang.

b. Benda yang diwakafkan harus jelas wujudnya dan pasti batas-batasnya.

c. Harta yang diwakafkan itu harus benar-benar kepunyaan wakif secara sempurna artinya bebas dari segala beban.

d. Benda-benda yang diwakafkan harus kekal.

3. Maukuf alaih atau peruntukan wakaf dan syarat-syaratnya.

Yang dimaksud dengan maukuf alaih adalah tujuan wakaf atau peruntukan wakaf. Wakaf harus dimanfaatkan dalam batas-batas yang sesuai dan diperbolehkan syariโ€™at Islam. Syarat maukuf alaih adalah qurbat atau pendekatan diri kepada Allah.

4. Shighat atau ikrar wakaf dan syarat-syaratnya.
Yakni pernyataan wakif yang merupakan tanda penyerahan barang atau benda yang diwakafkan.

Baca juga :ย Macam Macam Wakaf

Kewajiban dan Hak-hak Nadzir atas Benda Wakaf

Sebagaimana telah dikemukakan dalam hadist Ibn Umar, bahwa harta benda yang telah diwakafkan, tanggallah kepemilikan wakif atas harta benda tersebut.

Harta tersebut berubah kedudukannya menjadi mutlak hak milik Allah. Adapun pemanfaatannya digunakan untuk kepentingan umum atau menurut tujuan yang diinginkan oleh wakif.

Yang perlu dipahami adalah bahwa yang dapat dimiliki oleh penerima wakaf adalah terbatas pada pemanfaatannya saja.

Sementara benda itu sendiri tidak lagi dapat dimiliki, karena itu di dalam hadist di sebutkan, bahwa harta wakaf tidak bisa dihibahkan, diperjual belikan, dan atau diwariskan. Karena terkadang masyarakat ini kurang mengerti perihal wakaf tidak boleh diwaris keluarga hingga menjadi polemik perubahan status harta wakaf.

Kendatipun demikian, meski tidak bisa dimiliki, pengelolaan benda wakaf tersebut menjadi tanggungjawab nadzir yang ditunjuk, baik oleh wakif maupun melalui PPAIW menurut perundang-undangan.

Lebih dari itu, nadzir kalau memang memerlukan sekali, dapat mengambil seperlunya guna biaya pokok hidupnya, tanpa bermaksud memperkaya diri.

Uraian di atas menegaskan bahwa benda wakaf adalah milik mutlak Allah. Menurut Abu al-Aโ€™la al-Maududi, corak pemilikan seperti inilah, yang sesungguhnya merupakan gambaran fitrah yang benar dalam pandangan Islam.

Jadi kalaupun manusia memiliki harta, sesungguhnya adalah milik yang bersifat nisbi.

Pandangan yang agak berbeda dikemukakan oleh Imam Malik. Menurut Imam Malik, pemilikan harta wakaf tetap pada orang yang memberi wakaf (wakif).

Hanya saja pemilikan itu sifatnya terbatas. Ia tidak lagi memiliki hak untuk menjual dan atau menggunakan bendanya itu untuk kepentingannya sendiri.

Alasan yang dikemukakannya adalah, bahwa pada dasarnya wakaf adalah pendayagunaan hasil dari benda yang diwakafkan yang tidak melampaui batas ukuran pemenuhan tujuan tersebut.

Dalam hal ini tidak terdapat adanya faktor yang mengubah status pemilikan harta tersebut.

Kang Santri Kangsantri.id merupakan bentuk usaha kami dari para santri dan alumni untuk menjaga tradisi keilmuan pesantren yang mengedepankan wasathiyah, salafiyah. ๐Ÿคฒ

Sebarkan Kebaikan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: