Kang Santri Kangsantri.id merupakan bentuk usaha kami dari para santri dan alumni untuk menjaga tradisi keilmuan pesantren yang mengedepankan wasathiyah, salafiyah. 🤲

Bacaan, Sebab-Sebab Dan Hukum Sujud Sahwi

5 min read

Bacaan sujud sahwi

Sebab-sebab Dan Hukum Sujud Sahwi – Sholat merupakan kewajiban dan menjadi rukun Islam. Maka dari itu melaksanakannya merupakan kewajiban. Keharusan.

Saat sedang shalat pernahkah kamu lupa bilangan sholat? Lupa tidak duduk tahiyat awal?

Saat dalam keadaan di atas. Yang sebaiknya kamu lakukan adalah melakukan sujud sahwi. Sudab tahu apa itu sujud sahwi? Ini nih Pengertian Sujud Sahwi Dan Pendapat Ulama.

Sebab-Sebab Sujud Sahwi

rukun sholat yang harus terpenuhi

Sebagaimana hadits Nabi yang berbunyi :

إ نماأ نا بشرأنسى كما تنسون فاذا نسى احد كم فليسجد سجد تين وهو جالس. رواه احمد وابن مجه

Artinya : ”Sungguh saya ini adalah manusia yang bisa lupa sebagaimana kalian, lupa maka apabila salah satu kalian lupa maka sujudlah dua kali dalam keadaan duduk.” HR. Ahmad dan Ibnu Majjah.

Sudah barang tentu bahwa secara umum penyebab sujud sahwi adalah karena lupa dalam shalat, yang secara jelas diterangkan dalam hadits tersebut.

Sebagai Rasul yang harus selalu menjadi contoh yang baik, Rasulullah tidak hanya berhenti di situ saja. Rasul SAW selalu memberikan nasehat dan contoh mengenai sujud sahwi ini.

Dari apa yang pernah dikerjakan oleh Nabi kaitannya dengan sujud sahwi, maka untuk lebih memudahkan dalam membaca.

Sebab-sebab sujud sahwi kami kelompokkan menjadi beberapa kelompok sesuai dengan isi dari masing-masing hadits sebagaimana yang dilakukan oleh para Ulama.

Baca juga : Bacaan Sholat Lengkap

a. Berdiri dari dua rakaat.

Rasul SAW bersabda,

عن عبدالله ابن بحينه قال : صلى بنا رسول الله صلىالله عليه وسلم ركعتين من بعض الصلوات . ثم قام فلم يجلس. فقام الناس معه. فلماقضى صلاته ونظرنا تسليمه كبر فسجد سجد تين وهو جالس قبل التسليم ثم سلم. رواه مسلم

Artinya : “Dari Abdillah bin Buhanah berkata: Rasulullah pernah menjadi imam shalat kami, sampai dua rakaat beliau berdiri tidak duduk tahiyat awal, dan jamaah pun mengiukutinya, maka ketika selesai shalatnya kami mengira akan salam, Nabi takbir kemudian sujud dua kali dalam kedaan duduk sebelum salam. HR. Muslim.

Hadist di atas menjelaskan tentang seseorang yang boleh mengerjakan sujud sahwi ketika ia berdiri dari dua rakaat.

Ia meninggalkan duduk tahiyat awal yang merupakan golongan af’al serta meninggalkan bacaaan tahiyat yang tewrmasuk golonga adzkar.

b. Ragu-ragu bilangan rakaat

Para Ulama sepakat apabila seseorang sedang shalat kemudian ia lupa sudah berapa rakaat yang ia kerjakan. Dua rakaatkah atau tiga rakaat, maka dalam keadaan seperti itu yakin dan ambil rakaat yang paling sedikit yaitu dua rakaat, kemudian meneruskan shalat sampai selesai .

Hal ini sebagaimana dirterangkan oleh Nabi dalam hadistnya yang berbunyi :

عن ابن سعيد الخذرى قال : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : إ ذاشك احد كم فىصلا ته فلم يدر كم صلى ؟ ثلاثا أ م اربعا؟ فليطرح الشك وليبن على مااستيقن. ثم سجد سجد تين قبل ان يسلم . فان كان صلى خمسا. شفعن له صلاته وان كان صلى اتماما لاربع كانتا ترغيما للشيطان. رواه مسلم

Artinya : “Dari Abu Said Al Khudri berkata, Rasulullah saw bersabda: apabila salah satu kilian ragu-ragu bilangan shalat, tidak tahu berapa rakaat sudah dekerjakan ? tiga ataukah empat rakaat? maka buanglah ragunya dan yakinlah atas apa yang menjadi keyakinannya. Kemudian sujud dua kali sebelum salam.

Apabila ia shalat lima rakaat maka hal itu akan menambah pahala bagi shalatnya, dan apabila shalatnya sempurna empat rakaat, maka hal itu menjadi pencela bagi syetan.”HR. muslim.

Rasul SAW dari keterangan di atas tidak menyuruh untuk mengambil rakaat yang paling sedikit, beliau secara teks memerintahkan agar mebuang jauh-jauh ragu itu dan meyakini apa yang menjadi keyakinannya.

Namun para Ulama Syafi’iyyah sepakat dengan membuat suatu patokan bahwa pada dasarnya sesuatu itu tidak ada (belum) dikerjakan. Maka ketika ragu apakah tiga ataukah empat rakaat, berarti yang empat rakaat itu belum dikerjakan.

Baca juga : Tata Cara Wudhu Lengkap Beserta Do’a Dan Bacaan Latin

c. Kelebihan bilangan rakaat

عن عبدالله , أ ن النبى صلىالله عليه وسلم صلى الظهر خمسا , فلماسلم قيل له : أ زيد فىالصلاة ؟ قال : وماذاك؟ قالوا صليت خمسا فسجد سجد تين. رواه مسلم

Artinya : “Dari Abdullah, bahwa Nabi SAW suatu ketika shalat zuhur lima rakaat, maka ketika beliau salam ditanya, apakah Nabi menambah bilangan shalat? Nabi menjawab :apakah demikian? Mereka mengataakan, anda telah shalat lima rakaat, maka Nabi pun sujud dua kali.” Hr. Muslim.

Hal ini menandakan bahwa seseorang bisa saja karena asik shalat tidak disangka kalau ia telah melampaui rakaat shalat sebagaimana yang Nabi kerjakan.

d. Salam di dua rakaat

Sebagaiman hadist Nabi berbunyi,

عن ابن سفيا ن مولى ا بن ا بى احمد, أنه قال : سمعت أ باهريرة يقول: صلى لنا رسول الله صلىالله عليه وسلم صلاة العصر فسلم فى ركعتين. فقام ذواليدين فقال : أ قصرت الصلاة يارسول الله؟ أم نسيت؟ فقال رسول الله صلىالله عليه وسلم كل ذلك لم يكن, فقال : قدكان بعض ذلك يارسول الله . فأقبل رسول الله على الناس فقال: أصدق واليدين؟ فقالوا : نعم يارسول الله ! فأ تم رسول الله مابقى من الصلاة ثم سجد سجدتين وهو جالس بعدالتسليم. رواه مسلم

Artinya : “Dari Abu Sufyan tuan ibnu Abu Ahmad berkata ; saya mendengar Abu Hurairah berkata ; Rasul SAW menjadi imam shalat ashar kami, beliau salam di dua rakaat.

Maka berdirilah “dzul yadaini” kemudan bertanya apakah shalatnya diqashar ya Rasul? Ataukah anda lupa?

Rasul menjawaab hal itu tidak benar ,ia pun berkata, tapi hal itu demikian ya Rasul, maka rasul menghampiri jamaah kemudian bertanya,benarkah yang dikatakannya? Mereka menjawab, benar ya Rasul.

Maka rasul SAW menyempurnakan shalatnya, kemudian sujud dua kali dalam keadaan duduk setelah salam.HR. Muslim.

e. Salam di tiga rakaat

Rasul SAW bersabda,

أن رسول الله صلىالله عليه وسلم صلى العصر فسلم فى ثلاث ركعات ثم دخل منزله فقام اليه رجل يقال له الخر باق وكان فىيد يه طول, فقال, يارسول الله ! فذ كرله صنيعه. وخرج غضبان يجررداه حتى انتهى الىالناس فقال أصد ق هذا؟ قالوا: نعم فصلى ركعة ثم سلم ثم سجد سجد تين ثم سلم. رواه مسلم عن عمران بن حصين

Artinya : “Rasul SAW shalat ashar, beliau salam ketika baru tiga rakaat, kemudian beliau masuk rumah, lalu seorang laki-laki yang dikatakan adalah Hirbaq dimana kedua tangannya panjang menghampiri Rasul dan menjelaskan apa yang telah diperboleh Rasul.

Rasul pun keluar dengan kesal sambil menarik selendangnya (sorban) sampailah kepada orang banyak dan bertanya, benarkah itu? Mereka menjawab benar. Maka Rasul SAW shalat satu rakaat kemudian salam lalu Nabi sujud dua kali kemudian salam lagi “ .HR Muslim.

Semacam itulah Rasul SAW mengajarkan kepada umatnya bagaimana tentang sujud sahwi.
Akan tetapi hadist adalah hadist, sumber hukum Islam yang kedua setelah Al Qur’an.

Demikian keyakinan seluruh umat Islam. Dan sebagai sumber hukum layaknya Al Qur’an para Ulama tetap pada pendirian masing-masing.

Sebab Sujud Sahwi Menurut Ulama

Sujud sahwi

Ada yang mengatakan bahwa masalah sujud sahwi haruslah melihat syari’at yang diajarkan oleh Nabi, artinya tidak ada sujud sahwi apabila Nabi tidak pernah atau belum pernah mengajarkan atau mencontohkan.

Dan sebagian lagi berpendapat bahwa apa yang disampaikan oleh Nabi semasa hidupnya adalah sebagai contoh saja, adapun hal-hal lain yang belum disampaikan oleh Nabi, maka umat Islam sendirilah yang harus memecahkan, tentunya dengan tidak meninggalkan contoh tadi.

Al Syarbasy

Al Syarbasy misalnya, ia mengatakan,

ومن الخير أن نقتصر فى علاج السهووالنسيان على ما ثبت عن رسول الله صلىالله عليه وسلم

Artinya : “Hal yang baik adalah, dalam memeperbaiki kelupaan atau kesalahan cukuplah dengan apa-apa yang telah ditetapkan oleh rasul SAW.”

Ibnu Qoyyim

Hal senada diutarakan oleh Ibnu Qoyyim,

لايسجد احد للسهو إلافىا لخمسة ا لموا ضع ا لتى سجد فيها رسول الله صلى الله عليه وسلم.

Artinya : “tidak ada sujud sahwi bagi seseorang, kecuali lima hal di mana rasul SAW pernah mengerjakannya.”

Pendapat tersebut menguatkan bahwa sebagai suatu syari’at, maka sepatutnyalah sujud sahwi sesuai dengan apa yang pernah dicontohkan oleh Rasul SAW, baik tata cara maupun letaknya, apakah setelah salam atau sebelum salam.

Imam Malik

Sebagaimana pula yang dilakukan oleh Imam Malik dalam mencermati hadis-hadis Nabi, dengan mengambil suatu kesimpulan bahwa apabila dikarenakan lupa menambah maka sujud sahwi setelah salam. Dan apabila dikarenakan mengurangi maka sujud sahwi sebelum salam.

Berbeda dengan para Ulama Hanafiyyah yang berpendapat bahwa sujud sahwi selamanya setelah salam. Baik itu disebabkan karena menambah ataupun mengurangi.

Mereka tidak membedakannya. Dan hal ini memberikan sedikit gambaran bahwa sujud sahwi tidak harus sama persis dengan apa yang pernah dikerjakan oleh Rasul SAW.

Syafi’iyyah

Para Ulama Syafi’iyyah secara terpisah menerangkan bahwa sebab-sebab sujud sahwi tidak melulu pada lima hal tersebut.

Sebagaimana dijelaskan oleh Al Anshori dalam “Fathu al Wahab”. Ia menjelaskan di antara hal-hal yang menyebabkan sujud sahwi adalah meninggalkan doa qunnut dan shalawat atas Nabi. Baik ditinggalkan karena lupa atau memang sengaja ditinggalkan, hal ini disunnahkan sujud sahwi.

Di samping itu, menurut Ulama Syafi’iyah penyebab sujud sahwi bukan semata-mata karena lupa, ada yang memang sengaja ditinggalkan, selam yang ditinggalkan atau ditambahkan itu tidak membatalkan shalat.

Seperti duduk tahiyyat awal dan bacaan pada tahiyyat awal. Dua hal ini apabila ditinggalkan dengan sengaja pun tidak membatalkan shalat, karena menurut mereka dua hal tersebut tergolong dalam sunnah ab’ad.

Baca juga : Hukum Meninggalkan Sunnah Dalam Shalat

Hukum Sujud Sahwi

Sujud sahwi sebagai pengganti sunnah yang tertinggal

Sebagai suatu syari’at, sujud sahwi tidak pernah luput dari perbedaan pandangan di kalangan para Ulama. Perbedaan tersebut bukan tidak berdasar. Semua mereka dasarkan atas hadist dari Nabi SAW sebagai kunci.

Perbedaan tersebut tidak hanya apakah setelah salam atau sebelum salam. Akan tetapi mengenai hukum sujud sahwi itu sendiri, wajib, mubah ataukah sunnah.

Dalam hal ini sebagian Ulama berpendapat bahwa hukum sujud sahwi adalah sunnah. Artinya apabila tidak dikerjakan maka tidak apa-apa (tidak membatalkan shalat) karena hanya ibadah tambahan saja.

Pendapat ini dipegang oleh para Ulama Syafi’iyah. Al Syarbasy mengatakan, sujud sahwi itu sunnah, tidak batal shalat apabila sujud sahwi tidak dikerjakan, adapun letaknya sebelum salam.23
Lain dengan Imam Malik.

Ia membedakan antara sujud sahwi karena mengurangi dengan sujud sahwi karena menambah. Sujud sahwi yang disebabkan karena mengurangi, maka hukumnya wajib.24 Hal ini sebagai syarat sah shalat.

Artinya sujud sahwi merupakan pengganti dari perbuatan yang ditinggalkan. Dan sujud sahwi yang disebabkan karena menambah maka hukumnya sunnah. Sebab sujud sepertiini tidak bedanya dengan permohonan ampun saja (Istigfar).

Sedangkan para Ulama Hanafiyyah berpendapat bahwa sujud sahwi hukumnya adalah wajib. Hal ini sebagaimana hadist Nabi yang menerangkan tentang apabila seseorang ragu-ragu dalam shalatnya, maka buanglah keraguan itu.

Walaupun demikian kewajiban tersebut tidak berhubungan dengan batal tidaknya shalat. Maksudnya apabila sujud sahwi tersebut tidak dikerjakan, shalat seseorang tetap sah.

Sebagaimana yang diutarakan oleh Al Jaziri, apabila sujud sahwi tidak dikerjakan atau ditinggalkan, maka ia terkena hukum berdosa, dan shalatnya tetap sah.

Bacaan Sujud Sahwi

Bacaan sujud sahwi

Para ulama menganjurkan dan memberi hukum sunnah untuk sujud sahwi karena sebab-sebab di atas.

Sujud sahwi disunnahkan untuk dilaksanakan baik saat sholat wajib maupun sholat sunnah.

Berikut ini bacaan sujud sahwi:

سبحان من لا ينام ولا يسهو

 “Subhaana man la yanamu wala yashuw”

Demikian pembahasan pada kesempatan ini mengenai sebab-sebab dan hukum sujud sahwi. Semoga bermanfaat.

Kang Santri Kangsantri.id merupakan bentuk usaha kami dari para santri dan alumni untuk menjaga tradisi keilmuan pesantren yang mengedepankan wasathiyah, salafiyah. 🤲

Sebarkan Kebaikan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: