Kang Santri Kangsantri.id merupakan bentuk usaha kami dari para santri dan alumni untuk menjaga tradisi keilmuan pesantren yang mengedepankan wasathiyah, salafiyah. 🤲

Penjelasan Puasa Wajib dan Sunnah Beserta Dalilnya

7 min read

Puasa wajib dan sunnah – Agama Islam datang dan dibawa oleh Rasulullah Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam sebagai penyempurna syariat syariat sebelumnya. Seperti berlakunya syariat khitan, puasa dan syariat-syariat yang lainnya.

Puasa merupakan salah satu dari syariat Islam yang menyempurnakan dari Syariat agama terdahulu. Lebih tepatnya puasa diwajibkan kepada para nabi-nabi terdahulu seperti Nabi Nuh setelah selamat dari banjir. Nabi Daud, nabi Musa dan Nabi Isa.

Syariat Islam berupa puasa pada bulan Ramadan ini merupakan salah satu dari rukun Islam yang jumlahnya ada lima. Yang diwajibkan setelah zakat.

Puasa wajib dan sunnah

Syarat rukun puasa

Puasa merupakan ibadah yang pahalanya sangat besar. yaitu ibadah menahan jiwa dan raga dari hal-hal yang yang ditentukan oleh agama.
puasa terdapat dua macam yaitu puasa yang sifatnya wajib dan puasa yang sifatnya sunnah.

Di dalam Alquran telah dijelaskan secara detail mengenai ketentuan kewajiban puasa. Seperti yang termaktub dalam Alquran surat Albaqarah ayat 183-187.

Puasa wajib

Puasa yang sifatnya wajib mayoritas orang muslim menyebutnya dengan puasa Romadhon. Walaupun puasa wajib tidak hanya untuk puasa Ramadan.

Melainkan masih ada dua puasa wajib yang lainnya. Yaitu puasa untuk membayar kafarat dan puasa karena Nazar.

Puasa Ramadhan di Awali dari tanggal 1 bulan Romadhon sampai tanggal 30 Romadhon.

Islam sebagai agama penyempurna telah menyempurnakan syariat agama sebelumnya. Sebagaimana kewajiban puasa pada bulan Romadhon.

Jika sebelum adanya Islam puasa hanya diwajibkan untuk para Anbiya. Kewajiban puasa Romadhon dalam syariat Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam diberlakukan untuk semua umat muslimin dan muslimat.

Puasa sunnah

Agama Islam tidak begitu saja menghapus syariat-syariat agama sebelumnya yang dinilai patut untuk dilanjutkan.

Dalam hal ini puasa sunnah diambil dari kebiasaan-kebiasaan para nabi zaman terdahulu dan juga yang murni dari Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam.

Puasa Daud, tarwiyah, arofah, asyuro merupakan puasa yang dilakukan oleh para Nabi sebelum Nabi Muhammad karena dinilai masih layak untuk dipertahankan puasa dihukumi sunnah bagi siapapun yang melakukan nya.

Selain puasa Sunnah di atas ada puasa sunnah yang merupakan anjuran dari Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam seperti melakukan puasa pada hari Senin dan Kamis puasa tanggal 13 14 15 setiap bulannya yang disebut puasa ayyamul bidh.

Sebelum membahas lebih lanjut mengenai puasa alangkah lebih baiknya kita mengetahui apa sih arti puasa itu?

Apa arti puasa?

Arti puasa secara bahasa menurut Sayyid Sabiq dalam kitab fiqhus sunnah bisa diartikan dengan menahan seperti firman Allah dalam surat Maryam ayat 26. اني نذرت للرحمن صوما

Yang dimaksudkan dalam ayat ini adalah menahan dari berbicara. Yaitu ketika sayyidah Maryam mengandung nabi Isa. Ketika itu dia nadzar untuk tidak berbicara.

Sedangkan yang dimaksud puasa dari segi istilah yaitu menahan diri dari hal-hal yang membatalkan puasa dimulai dari munculnya Fajar Shodiq sampai terbenamnya matahari disertai dengan niat melakukan ibadah puasa.

Dalil puasa

penetapan awal puasa 2020 dengan metode ru'yah.

Puasa salah satu dari rukun Islam tentunya memiliki dalil qath’i dari al-quran dan juga hadis nabi.

Tidak sampai di situ. kewajiban puasa wajib dan kesunahan puasa terdapat dari sumber-sumber hukum syariat yang lain.

Agama Islam yang merupakan agama universal memiliki pondasi hukum yang sangat kuat dibanding yang lainnya.

Dalam menentukan suatu hukum Islam terdapat tool-tool yang begitu komplit sehingga maqashid Syariah benar-benar bisa tercapai dengan tool hukum tersebut.

Ibadah sebagai kebutuhan setiap individu manusia merupakan salah satu dari lima poin maqashid Syariah yaitu hifdhud din, menjaga agama.

Dalam melaksanakan ajaran agamanya manusia membutuhkan pijakan hukum yang jelas sehingga melakukan ibadah dengan benar sesuai dengan ketentuan agama.

Dalil puasa wajib

Pada tahun kedua setelah Hijriyah Rasulullah Shallallahu menerima wahyu berupa perintah melaksanakan ibadah puasa Romadhon. Yaitu dimulai dari sempurnanya bulan Sya’ban sampai sempurnanya bulan Romadhon.

Kewajiban puasa sebelumnya sudah Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam peintahkan kepada umatnya untuk berpuasa pada tanggal 9 dan 10 Muharram.

Setelah turunnya wahyu untuk melaksanakan ibadah puasa Ramadan pada tahun kedua setelah Hijriah puasa tersebut dijadikan sebagai kesunahan.

Puasa Romadhon telah sangat jelas dalilnya di dalam Alquran maupun al-hadits. Berikut ini dalil puasa dari al qur’an Qs Al Baqarah 183-185.

يا ايها الذين امنوا كتب عليكم الصيام كما كتب على الذين من قبلكم لعلكم تتقون ( البقره:١٨٣)

Artinya : “Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang sebelum kamu agar kamu bertakwa”

اَيَّامًا مَّعْدُوْدٰتٍ ۗ فَمَنْ كَانَ مِنْكُمْ مَّرِيْضًا اَوْ عَلٰى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِّنْ اَيَّامٍ اُخَرَ ۗ وَعَلَى الَّذِيْنَ يُطِيْقُوْنَهٗ فِدْيَةٌ طَعَامُ مِسْكِيْنٍ ۗ فَمَنْ تَطَوَّعَ خَيْرًا فَهُوَ خَيْرٌ لَّهٗ ۗ وَاَنْ تَصُوْمُوْا خَيْرٌ لَّـکُمْ اِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُوْنَ ( البقرة : ١٨٤)

Artinya : “(yaitu) beberapa hari tertentu. Maka barang siapa di antara kamu sakit atau dalam perjalanan (lalu tidak berpuasa), maka (wajib mengganti) sebanyak hari (yang dia tidak berpuasa itu) pada hari-hari yang lain. Dan bagi orang yang berat menjalankannya, wajib membayar fidyah, yaitu memberi makan seorang miskin. Tetapi barang siapa dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan, maka itu lebih baik baginya, dan puasamu itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.”

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِيْٓ اُنْزِلَ فِيْهِ الْقُرْاٰنُ هُدًى لِّلنَّاسِ وَ بَيِّنٰتٍ مِّنَ الْهُدٰى وَالْفُرْقَانِ ۚ فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَـصُمْهُ ۗ وَمَنْ کَانَ مَرِيْضًا اَوْ عَلٰى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِّنْ اَيَّامٍ اُخَرَ ۗ يُرِيْدُ اللّٰهُ بِکُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيْدُ بِکُمُ الْعُسْرَ وَلِتُکْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُکَبِّرُوا اللّٰهَ عَلٰى مَا هَدٰٮكُمْ وَلَعَلَّکُمْ تَشْكُرُوْنَ ( البقره: ١٨٥)

Artinya : “Bulan Ramadan adalah (bulan) yang di dalamnya diturunkan Al-Qur’an, sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang benar dan yang batil). Karena itu, barang siapa di antara kamu ada di bulan itu, maka berpuasalah. Dan barang siapa sakit atau dalam perjalanan (dia tidak berpuasa), maka (wajib menggantinya), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, agar kamu bersyukur.

Dalil hadits tentang puasa ramadhan

عَنِ ابْنِ عُمَرَ رضي الله عنهما قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم: بُنِيَ الإِسْلامُ عَلى خَمْسٍ: شَهادَة أَنْ لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللهِ وَإِقامِ الصَّلاةِ وَإِيتاءَ الزَّكاةِ وَالْحَجِّ وَصَوْمِ رَمَضَانَ. (رواه البخاري)

Dari Ibnu Umar r.a., ia berkata, Rasulullah saw. bersabda, “Islam itu dibangun di atas lima (pondasi), yaitu bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah, mendirikan shalat, menunaikan zakat, haji, dan puasa Ramadhan.” (H.R. Al-Bukhari)

Dalil puasa sunnah

Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam sangat menyukai puasa-puasa sunnah seperti 6 hari puasa pada bulan Syawal puasa 10 hari bulan Dzulhijjah dan puasa Arafah dan puasa-puasa yang lainnya.

Masing-masing dari puasa sunah tersebut memiliki landasan hukum dari hadis rasulullah shallallahu alaihi wasallam sehingga seseorang yang mengamalkan puasa tersebut sudah jelas Dalil dan juga sumber hukumnya.

Dalil puasa senin kamis

إِنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- كَانَ يَتَحَرَّى صِيَامَ الاِثْنَيْنِ وَالْخَمِيسِ.

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa menaruh pilihan berpuasa pada hari senin dan kamis.” (HR. An Nasai no. 2360 dan Ibnu Majah no. 1739. Shahih)

Dalil puasa yaumul bidh

أَكَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَصُومُ ثَلاَثَةَ أَيَّامٍ مِنْ كُلِّ شَهْرٍ قَالَتْ نَعَمْ. قُلْتُ مِنْ أَيِّهِ كَانَ يَصُومُ قَالَتْ كَانَ لاَ يُبَالِى مِنْ أَيِّهِ صَامَ. قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ

“Apakah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berpuasa tiga hari setiap bulannya?” ‘Aisyah menjawab, “Iya.” Mu’adzah lalu bertanya, “Pada hari apa beliau melakukan puasa tersebut?” ‘Aisyah menjawab, “Beliau tidak peduli pada hari apa beliau puasa (artinya semau beliau).” (HR. Tirmidzi no. 763 dan Ibnu Majah no. 1709. Shahih)

Dalil puasa Daud

أحَبُّ الصِّيَامِ إلى اللهِ صِيَامُ دَاوُدَ، وَأحَبُّ الصَّلاةِ إِلَى اللهِ صَلاةُ دَاوُدَ: كَانَ يَنَامُ نِصْفَ الليل، وَيَقُومُ ثُلُثَهُ وَيَنَامُ سُدُسَهُ، وَكَانَ يُفْطِرُ يَوْمًا وَيَصُوْمُ يَوْمًا

“Puasa yang paling disukai oleh Allah adalah puasa Nabi Daud. Shalat yang paling disukai Allah adalah Shalat Nabi Daud. Beliau biasa tidur separuh malam, dan bangun pada sepertiganya, dan tidur pada seperenamnya. Beliau biasa berbuka sehari dan berpuasa sehari.” (HR. Bukhari no. 3420 dan Muslim no. 1159)

Puasa bulan sya’ban

لَمْ يَكُنِ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – يَصُومُ شَهْرًا أَكْثَرَ مِنْ شَعْبَانَ ، فَإِنَّهُ كَانَ يَصُومُ شَعْبَانَ كُلَّهُ

“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak biasa berpuasa pada satu bulan yang lebih banyak dari bulan Sya’ban. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa berpuasa pada bulan Sya’ban seluruhnya.” (HR. Bukhari no. 1970 dan Muslim no. 1156).

Puasa bulan syawal

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ ثُمَّ أَتْبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ كَانَ كَصِيَامِ الدَّهْرِ

“Barangsiapa yang berpuasa Ramadhan kemudian berpuasa enam hari di bulan Syawal, maka dia seperti berpuasa setahun penuh.” (HR. Muslim no. 1164)

Syarat sah puasa

Syarat sah puasa wajib dan sunnah
Sumber : beningpost.com

Syarat memiliki pengertian yang berbeda dengan rukun. Syarat harus terpenuhi dimulai sebelum mengerjakan sesuatu hingga selesai mengerjakan sesuatu dengan sempurna.

Jika seseorang melakukan ibadah harus memenuhi syarat-syarat tertentu sampai dia melaksanakan dengan sempurna.

Kita ambil contoh syarat melakukan ibadah haji. Orang yang melakukan ibadah haji harus memenuhi syarat yaitu Islam, berakal, sehat jasmani dan rohani, baligh, Merdeka dan mampu.

Orang yang melakukan haji harus memenuhi syarat-syarat tersebut dimulai sebelum melakukan ibadah haji sampai selesai melaksanakan ibadah haji.

Begitu juga dengan ibadah-ibadah yang lainnya seperti puasa. Agar seseorang sempurna dalam melaksanakan ibadah puasa dan diterima oleh Allah subhanahu wa ta’ala maka harus memenuhi syarat-syarat sebagai berikut:
1. Islam
2. Berakal
3. Suci dari haid dan nifas
4. Mengetahui waktu puasa

Rukun puasa

Rukun puasa wajib dan sunnah

1. Niat

Niat memiliki posisi yang sangat penting dalam bab ibadah. Tanpa niat ibadah sia-sia, tidak dapat pahala.

Sudah sangat jelas di dalam al-quran dan juga Hadits mengenai kedudukan niat dalam sebuah ibadah. Di dalam Alquran surat al-bayyinah ayat 5 dan juga hadis Innamal A’malu binniyat wa innama likullimriin ma nawa.

Dalam buka puasa ramadhan niat memiliki sedikit perbedaan dengan ibadah yang lainnya. Jika dalam ibadah yang pada umumnya diniatkan saat memulai ibadah tersebut puasa Romadhon mengharuskan seseorang harus niat di malam hari sebelum melakukan puasa.

Seperti hadis yang diriwayatkan dari sahabat Hafsah

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم من لم يجمع الصيام قبل الفجر فلا صيام له (رواه احمد واصحاب السوداني)

Berbeda lagi puasa puasa yang hukumnya Sunnah. Boleh diniatkan di malam hari dan juga boleh diniatkan di pagi hari sampai waktu dzuhur.

عن عائشة رضي الله عنها دخل على النبي صلى الله عليه وسلم فقال : هل عندكم شيء ؟ قلنا لا ، قال فاني صائم (رواه مسلم وابو داود)

Dari Aisyah radhiyallahu anha berkata nabi Sallallahu Alaihi Wasallam masuk ke dalam kamar dan berkata “Apakah kamu mempunyai sesuatu?” kemudian saya jawab “tidak” kemudian nabi menjawab “saya puasa” hadis diriwayatkan oleh Muslim dan Abu Dawud

2. Menahan diri dari hal yang membatalkan

Dalam Alquran perintah melaksanakan puasa dibarengi dengan Tata caranya.

Menahan diri dari hal-hal yang membatalkan puasa merupakan salah satu diantara dua rukun puasa.

Di dalam Alquran Allah Subhanahu Wa Ta’ala telah berfirman dalam surat Al Baqarah ayat 187. Yaitu dimulai dari terbitnya Fajar Shodiq sampai terbenamnya matahari.

Hal hal yang membatalkan puasa

Menahan makan minum rukun puasa wajib dan sunnah

Secara garis besar sesuatu yang membatalkan puasa terbagi menjadi dua bagian yaitu :

1. Perbuatan yang membatalkan dan mewajibkan qodho.

2. Perbuatan yang membatalkan, mewajibkan qodho dan juga membayar kafarat.

Perbuatan-perbuatan yang membatalkan puasa dan mewajibkan qodho adalah sebagai berikut:

1. Makan dan minum yang disengaja.

Manusia tempatnya salah dan lupa jika seseorang yang sedang berpuasa lupa kemudian makan dan minum maka puasanya tersebut sebut tidak batal dan juga tidak dituntut untuk membayar kafarat.

Begitu pula mereka orang yang dipaksa untuk makan dan minum dan juga orang yang salah sangka.

Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan dari Abi Hurairah bahwasanya Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda ” barangsiapa lupa bahwa dia sedang puasa, kemudian makan dan minum maka sempurnakanlah puasanya karena sesungguhnya Allah sedang memberikan dia kenikmatan”. (HR. Jamaah).

2. Muntah dengan sengaja

Muntah biasanya dikarenakan keadaan tubuh yang kurang fit dan kurang sehat sehingga tubuh merespon keadaan tersebut dengan cara badan panas dan juga harga memutihkan isi perut untuk memberikan tubuh menjadi enteng.

Jika seseorang mengalami keadaan demikian maka puasanya tidak batal. Sedangkan jika keadaannya sebaliknya orang yang sehat ataupun sedang sakit tetapi sengaja dibuat untuk muntah maka puasanya otomatis batal.

3. Haid dan nifas

Haid dan nifas merupakan salah satu bagian dari hadas besar. Suci dari hadats besar merupakan syarat sah puasa.

Orang yang dalam keadaan haid dan nifas otomatis puasanya batal walaupun sudah mendekati waktu maghrib.
Akan tetapi walaupun dia batal tetapi tidak diwajibkan untuk membayar kafarat hanya diwajibkan untuk mengqadha puasanya.

Baca juga :

4. Perbuatan yang menyebabkan keluarnya mani

Seorang laki-laki bisa mengeluarkan mani dengan berbagai cara seperti mencium dan memeluk istrinya. Bisa juga dengan menggunakan tangan.

Hal tersebut bisa membatalkan puasa dan mewajibkan kulit tetapi tidak dikenakan kafarot.

Adapun seseorang yang dengan hanya melihat pada waktu siang dalam keadaan puasa maka tidak diwajibkan mengqadha dan tidak batal puasanya.

5. Niat makan dan minum saat masih berpuasa

Pada pembahasan di atas terdapat dua rukun puasa yang wajib di lakukan dengan sempurna. Yaitu niat dan menahan dari hal-hal yang membatalkan puasa.

Jika seseorang ketika melakukan puasa kemudian di tengah perjalanan niat untuk berbuka maka otomatis puasanya batal dikarenakan di antara Fajar sampai maghrib dia sudah tidak memiliki niat untuk melaksanakan ibadah puasa.

6. Salah sangka masuk waktu maghrib

Menurut jumhur ulama madzhab empat orang yang salah sangka mengenai masuknya waktu salat Maghrib (padahal belum masuk waktunya)

Kemudian dia makan minum ataupun berhubungan badan maka wajib bagi mereka untuk puasa (qadha).

Perbuatan yang membatalkan puasa mewajibkan qodho dan kafarat.

Perbuatan yang membatalkan puasa mewajibkan Qadha dan membayar kafarat adalah berhubungan badan pada waktu siang dalam keadaan puasa.

Orang yang melakukan hubungan badan saat sedang berpuasa ramadhan maka wajib baginya membayar kafarat yaitu memerdekakan budak atau puasa 2 bulan berturut-turut atau memberi makan 60 orang miskin.

عن ابي هريره رضي الله عنه قال جاء رجل الى النبي صلى الله عليه وسلم فقال هلكت يا رسول الله قال وما اهلكك ؟ وقعت على امراتي في رمضان فقال هل تجد ما تعتق رقبة ؟ قال لا قال هل تستطيع ان تصوم شهرين متتابعين ؟ قال لا قال فهل تجد ما تطعم ستين مسكينا؟ …..الخ

Dari Abi Hurairah sampai melawan berkata telah datang seorang laki-laki kepada Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam kemudian dia berkata binasalah aku wahai Rasulullah kemudian Rasulullah menjawab apa yang membuatmu binasa kemudian laki-laki tersebut menjawab saya adalah menggauli istri ku pada bulan Romadhon.

Kemudian Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam menjawab Apakah kamu memiliki budak yang bisa dilepas? Laki-laki itu menjawab tidak kemudian Rasulullah kembali bertanya apakah kamu mampu puasa 2 bulan berturut-turut? kemudian Nakila kita di menjawab tidak Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bertanya lagi apakah kamu mempunyai makanan yang bisa diberikan kepada 60 fakir miskin?

Dengan demikian hanya melakukan hubungan badan saat sedang melakukan puasa Ramadan dan di bulan Romadhon orang bisa dikenai kafarat membebaskan budak atau puasa 2 bulan berturut-turut atau memberi makan 60 orang miskin.

Kesimpulan dari pembahasan kali ini adalah puasa Ramadhan merupakan kewajiban bagi seorang muslim yang balig dan berakal dan mampu untuk melakukan ibadah puasa.

Yang dimulai dari akhir bulan Sya’ban yang sempurna sampai dengan akhir bulan Ramadan yang sempurna (1 sampai 29/30 romadhon).

Rukun puasa terdapat dua. yang pertama niat yang dilakukan malam hari sebelum melakukan puasa dan yang kedua menahan dari hal-hal yang membatalkan puasa.

Demikian pembahasan Pada kesempatan kali ini mengenai penjelasan puasa wajib dan sunnah beserta dalilnya. Semoga bermanfaat dan berkah. Selamat menjalankan ibadah puasa Ramadan dengan khusyuk.

Kang Santri Kangsantri.id merupakan bentuk usaha kami dari para santri dan alumni untuk menjaga tradisi keilmuan pesantren yang mengedepankan wasathiyah, salafiyah. 🤲

2 Replies to “Penjelasan Puasa Wajib dan Sunnah Beserta Dalilnya”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

%d blogger menyukai ini: