Kang Santri

Menjadi Santri Adalah Jalan Hidup Bukan Gaya Hidup

Pernikahan Dalam Islam

Home Catatan Informasi Pernikahan Dalam Islam
doa supaya lekas mendapat jodoh

Pernikahan dalam Islam – Nikah merupakan keinginan dan cita-cita setiap hamba untuk melangsungkan hidup dengan pasangan yang bertujuan untuk mencari keturunan yang shalih dan shalihah. Selain itu yang paling mendasar dari nikah adalah nikah merupakan sunnah Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam sehingga dengan perintah sunnah ini umat muslim seyogyanya mengikutinya. sebelum kamu membaca lebih lanjut silahkan baca doa mendapatkan jodoh yang terbaik.

akad nikah

Pengertian Nikah

Dalam bahasa Indonesia, perkawinan berasal dari kata “kawin” yang menurut bahasa artinya membentuk keluarga dengan lawan jenis; melakukan hubungan kelamin atau bersetubuh.

Pengertian pernikahan dalam Islam atau yang sering disebut Perkawinan, berasal dari kata nikah (نكاح) yang menurut bahasa artinya mengumpulkan, saling memasukkan, dan digunakan untuk arti bersetubuh (wathi’). Kata nikah sendiri sering dipergunakan untuk arti persetubuhan (coitus), juga untuk arti akad nikah.[1]

Secara arti kata nikah berarti “bergabung” (dhammu), “hubungan kelamin” (wathi’), dan juga berarti “akad” (‘aqad). Adanya dua kemungkinan arti ini karena kata nikah yang terdapat dalam Al-qur’an memang mengandung dua arti tersebut. Kata nikah yang terdapat dalam surat al-Baqarah ayat 230 :

 

فَإِنْ طَلَّقَهَا فَلاَ تَحِلُّ لَهُ مِنْ بَعْدُ حَتَّى تَنْكِحَ زَوْجًا غَيْرَهُ

“Maka jika kamu menalaknya (sesudah talak dua kali), maka perempuan itu tidak boleh lagi dinikahinya hingga perempuan itu kawin dengan laki-laki lain.”

Menurut Syeikh Wahbah Zuhaili dalam kitabnya Fiqh Islam Wa Adillatuhu menjelaskan tentang tujuan pernikahan menurut syariat Islam. Sebagai pentuk perhatian Islam dalam hal ini adalah keinginan kuat untuk menjadikan pernikahan menjadi baik, langgeng, terciptanya kebahagiaan. Hal demikian bertujuan supaya anak yang dilahirkan dalam lingkungan yang penuh kasih sayang, tentram, menentramkan mata orang lain. Hal ini sesuai dengan firman Allah QS. Ar-Rum ayat 21.

وَمِنْءَايَاتِهِ أَنْخَلَق لَكُمْ مِنْ أَنْفُسِكُمْ أَزْوَاجًا لِتَسْكُنُوااِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُمْ مَوَدَّةً وَرَحْمَةً إِنَّ فِي ذَلِكَ لآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُوْنَ

 “Dan diantara tanda-tanda kekuasaanNya ialah Ia menciptakan untuk kamu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tentram kepadanya dan dijadikanNya diantara kamu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang mengetahui.”

Menurut undang-undang dalam Kompilasi Hukum Islam yang dimaksud pernikahan atau perkawinan adalah akad yang sangat kuat atau mitsaqan ghalidzan untuk mentaati perintah Allah dan melaksanakannya merupakan ibadah.

Dalam pasal 1 Bab I Undang-undang No. : 1 tahun 1974 tanggal 2 Januari 1974 dinyatakan; “Pernikahan ialah ikatan lahir batin antara seorang pria dengan seorang wanita sebagai suami isteri dengan tujuan membentuk keluarga (rumah tangga) yang bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa”

Menurut Muhammad Abu Ishrah yang dikutip Zakiyah Daradjat dan senada dengan pendapat Rahmat Hakim. Pernikahan adalah akad yang memberikan faedah hukum kebolehan mengadakan hubungan keluaraga (suami istri ) antara laki-laki dan perempuan dan mengadakan tolong menolong dan memberi batas hak bagi pemiliknya serta pemenuhan kewajiban masing-masing

Dari pengertian-pengertian di atas tidak ada perbedaan antara satu sama lain, semuanya mempunyai substansi yang sama. Karena hakikatnya pernikahan merupakan sunnatullah dan syariat Islam berasal dari Allah SWT.

pengertian akad nikah

Nikah Siri

Nikah ketika diterjemahkan berarti perkawinan atau sudah diserap dalam bahasa Indonesia itu sendiri, sedangkan siri memiliki arti rahasia. Dengan demikian pengertian nikah siri secara bahasa adalah pernikahan yang dirahasiakan.

Pengertian nikah siri dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah pernikahan yg hanya disaksikan oleh seorang modin, wali dan saksi, tidak melalui Kantor Urusan Agama, menurut agama Islam sudah sah.

Sedangkan pengertian nikah siri berdasrkan Undang-Undang Perkawinan yang tertulis di Kompilasi Hukum Islam dalam pasal 4 dan 5 adalah sebagai berikut:

Pasal 4

Perkawinan adalah sah, apabila dilakukan menurut hukum Islam sesuai dengan pasal 2 ayat (1)Undang-undang No. 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan.

Pasal 5

1 Agar terjamin ketertiban perkawinan bagi masyarakat Islam setiap perkawinan harus dicatat.

2 Pencatatan perkawinan tersebut apada ayat (1), dilakukan oleh Pegawai Pencatat Nikah

sebagaimana yang diaturdalam Undang-undang No.22 Tahun 1946 jo Undang-undang No. 32 Tahun 1954.

Dengan demikian yang dimaksud dengan nikah siri adalah pernikahan yang tidak sesuai dengan peraturan yang di Undang-Undangkan pemerintah seperti keterangan di atas.

Akad Nikah

ijab qabul dalam pengertian akad nikah

Akad nikah menurut KHI adalah merupakan serangkaian kegiatan yang berisi ijab dan kabul yang diucapkan wali dan mempelai laki-laki atau yang mewakili dan disaksikan oleh dua orang saksi.

Secara sederhana dapat kita simpulkan adalah kegiatan yang didalamnya terdapat akad menikahkan dan menikah yang disaksikan oleh dua orang saksi. Sedangkan acara walimah merupakan anjuran dan bukan bersifat wajib.

Didalam prosesi akad nikah tersebut terdapat tatacara dan prosedur yang harus terpenuhi supaya akad nikah tersebut sah secara hukum agama dan negara. Berikut ini penjelasannya.

Tatacara Akad Nikah 

Akan nikah yang berlangsung harus sesuai dan runtut dengan tatacara berikut :

  • Diawali Dengan Khutbah Nikah 

Khutbah nikah hukumnya sunnah dibaca atau disampaikan oleh wali, calon mempelai laki-laki atau saksi. Khutbah nikah berisi pesan-pesan yang disampaikan oleh khatib khususnya kepada kedua mempelai untuk senantiasa takwa kepada Allah, Rasulnya. Pesan-pesan untuk selalu berbuat baik dalam rumah tangga dan lain sebagainya.

  • Ijab Dari Wali Nikah Atau Yang Mewakilkan 

Wali nikah calon mempelai wanita ketika prosesi pernikahan dalam Islam merupakan rukun yang harus dipenuhi, yaitu yang bertindak untuk menikahkannya. Yang bertindak sebagai wali nikah ialah serang laki-laki yang memenuhi syarat hukum islam yakni muslim, berakal dan balig yang terdiri dari wali nasab dan wali hakim. Pemilihan wali diprioritaskan dimulai dari bapak, kakek, buyut, kakak laki-laki dst.

Ijab dalam akad nikah menurut Syaikh Samsudin Muhammad bin Al Khotib dalam kitabnya Mughni Al-Muhtaj dan kebanyakan madzhab Syafi’i mengatakan bahwa “redaksi ijab harus menggunakan lafadz yang mempunyai arti waktu yang telah lampau (past future tense)  zawajtuka atau ankahtuka ibnati (jika yang dinikahkan adalah anak kandungnya).

  • Kabul Dari Calon Suami 

Salah satu tatacara ijab kabul adalah dilakukan tanpa adanya jeda antara ijab dan kabul. Sehingga terjadi satu kesatuan dan tidak ada yang memisahkan antara ijab dan kabul, begitu pula dengan ijab kabul dalam akad nikah.

Redaksi penerimaan ijab dari wali atau yang mewakilkannya bisa dengan menggunakan berbagai versi seperti qobiltu nikakhaha atau qobiltu tazwijaha. Walaupun wali nikah menggunakan kata zawajtuka calon suami boleh mengucapkan qabul dengan kata qobiltu nikakhaha.

Perlu kita ketahui bahwa ijab qabul boleh dilaksanakan dengan menggunakan bahasa selain arab dengan catatan harus memiliki arti yang sama dengan bahasa arab seperti yang telah berlaku di kalangan masyarakat.

 

Syarat Nikah

Syarat merupakan unsur-unsur yang harus terpenuhi sebelum dan selama melakukan kegiatan (ibadah) seperti contoh syarat shalat adalah suci dari hadats, menutup aurat dan lainnya. Begitupula dengan syarat nikah.

Syarat nikah telah diatur dalam Undang-Undang No. 1 Tahun 1974 dengan penjelasan sebagai berikut:

Pasal 6

  • Didasarkan atas persetujuan kedua calon memperlai
  • Apabila belum mencapai umur 21 tahun harus mendapat ijin kedua orang tua
  • Apabila salah satu orang tua meninggal atau tidak mampu menyatakan kehendaknya, ijin diperoleh dari orang tua yang masih hidup atau orang tua yang mampu menyatakan kehendaknya
  • Apabila kedua orang tua meninggal dunia atau tidak mempu menyatakan kehendaknya, ijin diberikan oleh wali
  • Atau oleh pengadilan

Pasal 7

  • Perkawinan hanya diijinkan jika pihak pria sudah mencapai umur 19 tahun dan pihak wanita mencapai umur 16 tahun
  • Bila terjadi penyimpangan, harus mendapat ijin dari pengadilan atau pejabat lain yang ditunjuk kedua orang tua kedua calon mempelai

 

Rukun Nikah 

Rukun pernikahan dalam Islam merupakan unsur yang wajib ada dan penentu sah atau tidaknya perbuatan (pernikahan). Rukun merupakan hal termasuk dalam rangkaian perbuatan tersebut seperti ketika shalat harus membaca surat al-fatihah, jika tidak maka tidak sah shalatnya. Begitu juga dengan rukun nikah, semua unsur harus terpenuhi supaya sah nikahnya.

Jumhur ulama mengatakan bahwa rukun dari akad nikah ada lima poin. Kelima poin tersebut adalah: calon suami, calon istri, wali, dua orang saksi, sighat akad nikah (ijab qabul). Rukun tersebut sudah sesuai dengan mayoritas ulama lintas madzhab dan sudah di standarisasi oleh kompilasi hukum Islam.

Calon suami, syarat-syaratnya:

  • Beragama Islam.
  • Jelas ia laki-laki.
  • Tertentu orangnya.
  • Tidak sedang berihram haji/umrah.
  • Tidak mempunyai isteri empat, termasuk isteri yang masih dalam menjalani iddah thalak raj’iy.
  • Tidak mempunyai isteri yang haram dimadu dengan mempelai perempuan, termasuk isteri yang masih dalam menjalani iddah thalak raj’iy.
  • Tidak dipaksa.
  • Bukan mahram calon isteri.

Calon Isteri, syarat-syaratnya: 

  • Beragama Islam
  • Jelas ia perempuan.
  • Tertentu orangnya.
  • Tidak sedang berihram haji/umrah.
  • Belum pernah disumpah li’an oleh calon suami.
  • Tidak bersuami, atau tidak sedang menjalani iddah dari laki-laki lain.
  • Telah memberi izin kepada wali untuk menikahkannya.
  • Bukan mahram (orang-orang yang diharamkan untuk dinikahi-lihat QS. An-Nisa’ ayat 23) calon suami.[2]

Wali. Syarat-syaratnya:

  • Beragama Islam.
  • Jelas ia laki-laki.
  • Sudah baligh (telah dewasa).
  • Berakal (tidak gila).
  • Tidak sedang berihram haji/umrah.
  • Tidak mahjur bissafah (dicabut hak kewajibannya).
  • Tidak dipaksa.
  • Tidak rusak fikirannya sebab terlalu tua atau sebab lainnya.
  • Tidak fasiq.

Dua Orang Saksi Laki-Laki. Syarat-syaratnya:

  • Beragama Islam.
  • Jelas ia laki-laki.
  • Sudah baligh (telah dewasa).
  • Berakal
  • Dapat menjaga harga diri (bermuru’ah)
  • Tidak fasiq.
  • Tidak pelupa.
  • Melihat
  • Mendengar
  • Dapat berbicara
  • Tidak ditentukan menjadi wali nikah.
  • Memahami arti kalimat dalam ijab qabul. [3]

Ijab dan Qabul

Seperti yang telah saya sampaikan di atas, Ijab akad pernikahan ialah: “Serangkaian kata yang diucapkan oleh wali nikah atau wakilnya dalam akad nikah, untuk menerimakan nikah calon suami atau wakilnya”.

khutbah nikah

Khutbah Nikah 

Seperti yang sudah saya sampaikan di atas, khutbah nikah merupakan sesuatu yang sunnah dilakukan ketika prosesi akad nikah. Boleh disampaikan oleh wali, pencatat nikah (KUA), calon atau pihak-pihak lain.

Kesunahan khutbah nikah tersebut bisa anda kutip di kitab Al-Bayan fi Madzhabi al-Imam al-Syafi’i (Jeddah: Dar al-Minhaj, 2000), juz IX, hal. 23, tulisan Imam Abul Husain Al-Yamani.

Berikut ini contoh khutbah nikah yang bisa anda buka di NU Online tentang khutbah nikah.

 

Penghalang Nikah 

Salah satu tujuan syariah Islam (maqashid syariah) adalah menjaga keturunan yaitu menjaga nasab keturunan agar tidak terhenti dan masih bisa dideteksi. Selain itu juga supaya kualitas keturunan orang muslim berkualitas dan menjadi lebih baik.

Untuk mewujudkan maqashid syariah tersebut Islam mengatur sedemikian rupa supaya maqashid tersebut tercapai salah satunya dengan mengatur pernikahan. Tidak semua perempuan yang ada boleh dinikahi atau dikawini. Islam mengatur hal tersebut dengan sangat detail, hal ini untuk mencapai keluarga yang baik dan berkualitas.

Menurut syariat islam wanita yang haram dinikah secara garis besar dibagi menjadi dua kelompok yaitu:

  1. Haram untuk selamanya
  2. Haram untuk sementara

Wanita Yang Haram Dinikahi Selamanya 

Perkawinan yang dilarang sudah tertulis dalam Undang-Undang pasal 8 Nomor 1 Tahun 1974. Dalam pasal tersebut dijelaskan secara umum sebab-sebab perkawinan dilarang, diantaranya karena keharaman karena status keturunan dan kekerabatan.

Golongan ini haram dinikahi untuk selamanya karena beberapa sebab yang secara global dapat dibagi menjadi 3 golongan. Selengkapnya mari kita simak tulisan berikut:

Haram Dinikahi Karena Hubungan Darah (Nasab) 

Salah satu efek dari menikahi orang yang dekat dengan nasab adalah kualitas mental anak yang kurang dan juga kesehatan yang rentan tertular penyakit genetik. Sehingga sebelum teori dari medis tersebut muncul Islam telah memberikan warning supaya tidak menikah dengan orang yang masih memiliki hubungan kekerabatan dan mengharamkan nikah dengan orang yang memiliki hubungan sedarah.

Secara global Al-Qur’an memberikan penjelasan mengenai keharaman menikah dengan orang masih memiliki hubungan sedarah. Penjelasan tersebut termuat dalam QS. An-Nisa ayat 23.

Dalil keharaman menikah karena nasab

حُرِّمَتْ عَلَيْكُمْ أُمَّهَاتُكُمْ وَبَنَاتُكُمْ وَأَخَوَاتُكُمْ وَعَمَّاتُكُمْ وَخَالاتُكُمْ وَبَنَاتُ الأخِ وَبَنَاتُ الأخْتِ وَأُمَّهَاتُكُمُ اللاتِي أَرْضَعْنَكُمْ وَأَخَوَاتُكُمْ مِنَ الرَّضَاعَةِ وَأُمَّهَاتُ نِسَائِكُمْ وَرَبَائِبُكُمُ اللاتِي فِي حُجُورِكُمْ مِنْ نِسَائِكُمُ اللاتِي دَخَلْتُمْ بِهِنَّ فَإِنْ لَمْ تَكُونُوا دَخَلْتُمْ بِهِنَّ فَلا جُنَاحَ عَلَيْكُمْ وَحَلائِلُ أَبْنَائِكُمُ الَّذِينَ مِنْ أَصْلابِكُمْ وَأَنْ تَجْمَعُوا بَيْنَ الأخْتَيْنِ إِلا مَا قَدْ سَلَفَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ غَفُورًا رَحِيمًا (23) }

 

“Diharamkan atas kamu (mengawini) ibu-ibumu; anak-anakmu yang perempuan; saudara-saudaramu yang perempuan, saudara-saudara bapakmu yang perempuan; saudara-saudara ibumu yang perempuan; anak-anak perempuan dari saudara-saudaramu yang laki-laki; anak-anak perempuan dari saudara-saudaramu yang perempuan; ibu-ibumu yang menyusui kamu;

Saudara perempuan sepersusuan; ibu-ibu isterimu (mertua); anak-anak isterimu yang dalam pemeliharaanmu dari isteri yang telah kamu campuri, tetapi jika kamu belum campur dengan isterimu itu (dan sudah kamu ceraikan), Maka tidak berdosa kamu mengawininya; (dan diharamkan bagimu) isteri-isteri anak kandungmu (menantu); dan menghimpunkan (dalam perkawinan) dua perempuan yang bersaudara,

 kecuali yang telah terjadi pada masa lampau; Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

Penjelasan dari ayat di atas tersebut adalah sebagai berikut:

  1. Ibu Kandung perempuan yang melahirkan kita. yaitu termasuk ibu kandung sendiri, ibunya ibu, neneknya ibu, ibunya bapak, neneknya bapak dan terus keatas dari golongan perempuan.
  2. Anak perempuan kandung : semua anak yang dilahirkan istri dan anak perempuan dari garis keturunan lurus ke bawah yaitu cucu perempuan baik dari anak laki-laki maupun anak perempuan dari golongan perempuan.
  3. Saudara perempuan : semua perempuan yang lahir dari ibu dan bapak yang sama, sebapak, seibu.
  4.  Bibi dari pihak ayah adalah saudara perempuan dari ayah ke atas atau ke bawah atau semua perempuan yang  menjadi saudara ayah baik lahir dari kakek dan nenek yang sama maupun salah satunya, bibi perempuan dari pihak ibu yaitu saudara perempuan bapaknya ibu
  5.  Bibi dari pihak ibu adalah saudara perempuan dari ibu ke atas atau ke bawah atau semua perempuan yang menjadi saudara ibu dari nenek dan kakek yang sama maupun salah satunya termasuk ada juga perempuan ayah yaitu saudara perempuan dari ibunya ayah
  6. Anak perempuan dari saudara laki-laki yaitu anak perempuan saudara laki-laki baik sekandung atau tiri
  7. Anak perempuan saudara perempuan yaitu anak perempuan dari  saudara perempuan baik sekandung atau tiri
Haram Dinikahi Karena Satu Susuan 

Dalam peraturan pernikahan dalam Islam, Wanita yang satu susuan diharamkan dinikah. Maksudnya adalah ketika seorang bayi perempuan menyusu kepada seorang dengan intensitas susuan yang berulang kali (lebih dari tiga kali).

Jika baru menyusu sekali atau dua kali (menyedot air susunya) dan masuk ke dalam perut  hal ini tidak menyebabkan haramnya kawin, karena tidak disebut menyusu dan tidak bisa pula mengenyangkan. Sehingga susuan tersebut menjadikan darah daging di tubuh bayi yang disusui.

Batasan umur bayi (ketika menyusu) yang diharamkan dinikah adalah tidak lebih dari dua tahun sebagaimana diterangkan di dalam Al-Qur’an, sebab pembentukan darah daging seorang bayi paling efektif pada usia tersebut.

HR Muslim, Rasullullah bersabda

“ sesungguhnya karena radha’ah (susuan) diharamkan sebagaimana diharamkan karena wilayah (nasab)

Secara rinci perempuan yang haram di nikahi karena susuan adalah

  1. Ibu susu karena ia telah menyusuinya maka diannggap sebagai ibu dari yang menyusu
  2. Orang tua ibu susu karena dianggap sebagai neneknya
  3. Ibu dari bapak susunya/orang tua suami ibu susu, karena ia merupakan neneknya juga
  4. Saudara perempuan dari ibu susunya, karena ia menjadi bibi susunya
  5. Saudara perempuan suami ibu susu karena ia menjadi bibi susunya
  6. Cucu perempuan ibu susunya karena mereka menjadi anak perempuan saudara laki-laki dan perempuan sesusuan dengannya
  7. Saudara perempuan sesusuan baik yang sebapak atau seibu atau sekandung

Wanita Yang Haram Dinikahi Sementara 

Wanita yang haram dinikah adalah wanita-wanita yang masih mempunyai status-status tertentu semisal masih menjadi istri orang lain, masih dalam masa iddah. Untuk lebih jelasnya mari kita simak penjelasan berikut:

  1. Dua orang perempuan bersaudara

Dua perempuan yang masih ada hubungan saudara (kandung), perempuan dengan bibi ayahnya, perempuan dengan bibi ibunya haram hukumnya untuk dinikahi secara bersamaan atau dimadu.

HR Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah Rasulullah bersabda “sesungguhnya Nabi saw melarang memadu seorang perempuan dengan bibi dari ayahnya atau bibi dari ibunya

  1. Istri orang lain

Wanita yang masih terikat perkawinan dengan laki-laki lain haram untuk dinikahi oleh seorang laki-laki

  1. Bekas istri orang lain yang masih iddah

Perempuan yang sedang iddh baik iddah cerai atau iddah ditinggal mati suaminya haram untuk dinikahi sampai selesai masa iddah

  1. Perempuan yang telah di talak tiga kali

Perempuan yang telah ditalak 3 kali oleh suaminya maka ia haram untuk dinikahi oleh suami yang telah mentalak 3 kali tersebut sebelum ia dikawini oleh laki-laki lain dengan perkawinan yang sah (tidak dengan melalui nikah muhallil)

  1. Perempuan yang sedang ihram

Orang yang sedang ihram (laki-laki maupun perempuan) haram untuk melakukan perkawinan, baik dilakukan sendiri atau diwakilkan dan kawinnya orang yang sedang berihram adalah batal

  1. Budak wanita

Para ulama berbeda pendapat bahwa budak laki-laki boleh kawin dengan budak perempuan, dan perempuan merdeka boleh di kawini oleh budak laki-laki asalkan dia dan walinya rela.

Jumhur ulama berpendapat bahwa tidak boleh laki-laki merdeka kawin dengan budak perempuan kecuali dengan syarat :

  1. Karena tidak mampu kawin dengan wanita merdeka
  2. Karena takut terjerumus ke dalam zina
  1. Perempuan zina

Laki-laki tidak dihalalkan mengawini perempuan zina dan juga perempuan tidak dihalalkan  kawin dengan laki-laki zina kecuali mereka sudah melakukan taubat dan menghentikan perbutannya.

Tujuan diharamkannya semata-mata untuk menjaga kesucian dan kehormatan lembaga perkawinan dan kehormatan orang yang melakukan perkawinan

  1. Perempuan atau bekas istri yang telah li’an atau dilaknati

Tidak halal laki-laki mengawini kembali istrinya yang pernah sama-sama mengadakan sumpah kelaknatan, karena bila telah terjadi saling sumpah pelaknatan seperti ini, maka perempuan itu haram baginya untuk selamanya. Dasar pengharaman perkawinan ini adalah QS An Nuur ayat 6-9

  1. Wanita Musyrik

Para ulama sepakat bahwa laki-laki muslim tidak halal kawin dengan perempuan penyembah berhala, perempuan zindiq, perempuan yang telah keluar dari Islam, penyembah sapi, perempuan beragama politeisme. Dasar diharamkannya perempuan musyrik untuk dikawini adalah QS al baqarah ayat 221

 

 

[1] Wahbah Al-Zuhaili, Al-Fiqh Al-Islami wa Adillatuh, (Beirut: Daar al-Fikr, 1989), cet. Ke-3, hlm.29

[2]Slamet Abidin dan Aminuddin, Fiqih Munakahat, Jilid I, Bandung: CV Pustaka Setia, 1999, hlm. 64.

[3]Zahry Hamid, op. cit, hlm. 24-28. Tentang syarat dan rukun pernikahan dapat dilihat juga dalam Ahmad Rofiq, Hukum Islam di Indonesia, Jakarta: PT.Raja Grafindo Persada, 1977, hlm. 71.

«     »

One comment on “Pernikahan Dalam Islam

Questions & Feedback

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.