Kang Santri

Catatan Kang Santri

Pengertian Tawadhu’ dan 8 Tanda-Tandanya

Home Catatan Pengertian Tawadhu’ dan 8 Tanda-Tandanya

Tawadhu’ memiliki arti sama dengan rendah hati. Seperti dalam peribahasa orang yang taawadhu’ bagaikan padi yang semakin berisi semakin menunduk (rendah hati). Semakin memiliki jabatan tinggi semakin rendah hati, semakin memiliki kekuasaan semakim belas kasihan terhadap yang lemah. Tawadhu’ merupakan salah satu akhlakul karimah atau akhlak yang mulia, akan tetapi semakin cepat perubahan zaman, semakin merosot pula akhlak.

pengertian tawadhu
Sumber: wajibbaca.com

Pengertian Tawadhu’

Secara etimologi, kata tawadhu berasal dari kata wadha’a yang berarti merendahkan, serta juga berasal dari kata ittadha’a dengan arti merendahkan diri. Sedangkan secara istilah, tawadhu adalah menampakan kerendahan hati kepada sesuatu yang diagungkan.

Tawadhu yaitu perilaku manusia yang mempunyai watak rendah hati, tidak sombong, tidak angkuh, atau merendahkan diri agar tidak kelihatan sombong, angkuh, congkak, besar kepala atau kata-kata lain yang sepadan dengan tawadhu’.

Tawadhu’ merupakan status pemberian atau penilaian seseorang kepada orang lain, sehingga tidak bisa menyebut dirinya dengan seorang yang rendah hati. Sifat ini merupakan sifat hati yang lembut dan harus hati-hati dalam menatanya. Pasalnya setan dengan sangat cerdik menipu manusia dalam perkara menata hati.

Tidak bisa dikatakan orang yang tawadhu’ ketika seseorang mengklaim dirinya paling rendah hati karena hal tersebut bertententangan dengan pengertian tawadhu’ itu sendiri. Jika seseorang sudah merasa tawadhu’ dan menilai yang lain belum bisa tawadhu’ maka sejatinya itu adalah suatu kesombongan yang nyata.

Tawadhu’ yang sejati adalah merendahkan hati karena melihat kebesaran dan keagungan sifat Allah. Seperti hikmah yang disampaikan oleh Ibnu ‘Athoillah As-Sakandary.

الْمُتَوَاضِعُ الْحَقِيْقِيُّ هُوَ مَا كَانَ نَاشِئًا عَنْ شُهُوْدِ عَظَمَتِهِ وَتَجَلِّيْ صِفَتِهِ

“Sikap tawadhu yang sejati timbul karena menyadari akan keagungan Allah dan sifat-sifat-Nya yang begitu nyata.”

tanda-tanda tawadhu'
Sumber: silaturahmidakwah.blogspot.com

Tanda-Tanda Tawadhu’

Sikap seseorang merupakan refleksi dari isi hatinya, jika hati seseorang memiliki sifat dermawan akan nampak secara lahir sifat dermawannya. Jika seseorang memiliki sifat pendendam, maka akan kelihatan secara lahiriyah pendendamnya. Begitu pula dengan sifat tawadhu’ akan kelihatan secara dhohir apabila di dalamnya terdapat sifat tawadhu’.

Berikut ini beberapa tanda-tanda orang yang memiliki sifat tawadhu’:

  1. Tawadhu’ takut dan penuh harap kepada Allah SWT. Saat berdoa

Berdoa merupakan inti dari penghambaan kepada Allah, dalam bahasa arab disebutkan Ad du’a mukhkhul ibadah. Pada saat berdoa biasanya seseorang akan menghayati apa yang dia minta kepada Allah. Dengan demikian orang yang benar-benar tawadhu’ akan menyaksikan keagungan Allah dan keluhuranNya. Dengan menyaksikan hal tersebut seseorang berdoa dengan penuh harap dan takut kepada Allah.

Tawadhu' bersikap baik kepada sesama
K.H. Mutawakkil (Pengasuh PP. Zainul Hasan, Genggong) dan K.H. Zuhri Zaini (Pengasuh PP. Nurul Jadid, Paiton) saling berusaha mencium tangan saat bersalaman.
Sumber: https://twitter.com/jas_hijau
  1. Tawadhu’ juga berkaitan dengan sikap baik terhadap sesama manusia.

Dalam pembahasan sebelumnya saya telah menulis mengenai riya’ dan macam-macamnya . Salah satu tanda orang yang tawadhu’ adalah jauh dari riya’, mamandang bahwa orang lain lebih sempurna dari pada dirinya. Kesempurnaan tersebut bisa berupa sempurna ilmu, akhlak, pengetahuan, maupun yang lain.

Oleh karena dia memandang orang lain lebih sempurna, maka akan timbul tawadhu dan menghormati kepada sesama manusia, yang sebaya maupun yang lebih kecil, lebih-lebih kepada yang tua.

  1. Tidak membangga-banggakan diri dengan apa yang kita miliki

Ujub terhadap diri sendiri merupakan salah satu bukti bahwa dia adalah orang yang sombong, sehingga dia tidak bisa menerima kelebihan orang lain. Berawal dari sinilah orang tidak bisa menghargai, tidak bisa toleransi kepada yang berbeda dari dirinya.

Dengan berfikir bahwa semua nikmat yang ada di bumi ini adalah anugrah dari Allah hal tersebut (ujub) tidak akan terjadi, karena semua adalah qudrah dari Allah.

  1. Tidak suka atau tidak berambisi menjadi orang terkenal

Orang bekerja tanpa pamrih merupakan orang-orang yang iklas yang tak memerlukan popularitas, tidak mencari muka apalagi mencari pujian. Karena berawal dari populer biasanya akan muncul sifat sombong dan yang sejenisnya.

  1. Menjunjung tinggi kebenaran dan bersedia menerimanya tanpa memandang hal-hal duniawi

ciri Tawadhu'
Sumber: islam.nu.orid

Selanjutnya salah satu tanda orang tawadhu’ adalah orang yang menerima dan memandang bahwa kebenaran bisa erasal dari mana saja, asalkan yang disampaikan adalah hal yang benar maka akan dia terima. Seperti dalam nasihat Sayyidina Ali bin Abi Tholib Radhiyallahu Anhu ”undhur man qaala, wala tandhur man qala” lihatlah apa yang dikatakan seseorang dan jangan melihat siapa yang mengatakan.

Hal demikian sangat berat diterima bagi orang-orang yang tidak mempunyai jiwa tawadhu’ dan lapang dada, biasanya orang cenderung gengsi menerima dari orang yang tidak disukainya dan menolak.

  1. Tidak segan-segan untuk bergaul dengan fakir miskin

Nabi Muhammad Shallahu Alaihi wasallam merupakan figur yang sempurna dalam memberikan tauladan yang baik yang mempunyai gelar uswatun hasanah. Keteladanan Nabi ditunjukkan dalam pergaulan kepada golongan fakir miskin. Nabi tidak sungkan dan dengan tulus mencintai mereka.

Dalam kitab maulidir rosul yang berjudul Al Barzanji karya Syaikh Ja’far bin Husin bin Abdul Karim bin Muhammad Al-Barzanji disebutkan

وكان صلى الله عليه وسلم شديد الحياء والتواضع يخصف نعله………ويحب الفقراء والمساكن ويجلس معهم ويعود مرضاهم…

Rasulullah SAW adalah pribadi yang sangat pemalu dan amat tawadhu’… beliau mencintai fakir miskin dan tidak segan-segan bergaul dengan duduk bersama mereka dan menjenguk mereka yang sakit.

  1. Ringan tangan dalam membantu orang-orang yang memerlukan bantuan sehingga bersedia bertindak atas nama mereka

Bagi orang tawadhu’ bergaul dengan orang yang tidak sederajat dalam urusan dunia maupun akhirat merupakan hal yang biasa. Sehingga sifat toleran, simpati dan empati tidak kaku yang tidak hanya berlaku kepada sesama golongannya.

syukur berterima kasih
Tanda tawadhu’, suka berterima kasih. Sumber: pngdownload.id
  1. Tidak merasa berat untuk mengucapkan terima kasih kepada siapa saja yang telah membantu menunaikan kewajibannya,

Tanda orang tawadhu’ yang terahir adalah ringan dalam mengucapkan terima kasih kepada siapa saja yang memberikan pertolongan dan bantuan kepadanya. Dalam sebuah hadits disebutkan “man lam yasykurin naas, lam yaskurillaah” siapa yang tidak bisa berterimakasih kepada manusia dia tidak bisa syukur kepada Allah.

Ungkapan terima kasih kepada manusia ini merupakan refleksi dari syukur kepada Allah karena yang menggerakkan hati manusia untuk menolong sejatinya adalah Allah, sehingga melihat kuasa Allah dia selalu merendahkan hati dan berujung ungkapan terima kasih kepada manusia.

Demikian pembahasan pada kesempatan ini mengenai pengertian tawadhu’ dan tanda-tandanya. Semoga kita selalu dibimbing Allah untuk bisa mengikuti akhlak Rasulullah sehingga kelak benar-benar diakui sebagai ummatnya. Wassalamualaikum.

 

«     »

Questions & Feedback

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.