Kang Santri Kangsantri.id merupakan bentuk usaha kami dari para santri dan alumni untuk menjaga tradisi keilmuan pesantren yang mengedepankan wasathiyah, salafiyah. 🤲

Pengertian Sujud Sahwi Dan Pendapat Ulama

4 min read

Sujud sahwi

Pengertian Sujud Sahwi Dan Pendapat Ulama- Di dalam shalat sujud merupakan suatu perbuatan yang wajib dikerjakan, karena memang termasuk rukun shalat, akan tetapi ketika kata sujud digabung dengan kata sahwi hingga membentuk kata sujud sahwi, maka pengertiannya menjadi lain.

Pengertian Sujud Sahwi

Sujud sahwi sebagai pengganti sunnah yang tertinggal

Dari segi bahasa sujud sahwi berasal dari dua suku kata yaitu “sujud” dan “sahwi”. Sujud berarti suatu gerakan yang dikerjakan setelah ruku’ dan i’tidal di dalam shalat. Sedangkan sahwi berarti lupa.

Sujud sendiri berasal dari fi’il madhi “Sajada” سجد .yang berarti sujud atau menundukkan kepala sampai ke tanah.

Ahmad Mujab dalam “Hadist-hadist Ahkam” mengatakan bahwa, sujud sahwi adalah melakukan sujud karena adanya sebab-sebab tertentu.

Pengertian ini memberikan suatu gambaran bahwa sujud sahwi dikerjakan apabila ada sebab-sebab tertentu. Dengan demikian tanpa adanya sebab otomatis tidak ada sujud sahwi.

Sedangkan para Fuqoha dalam memberikan pengertian sujud sahwi berbeda-beda menurut keyakinan masing-masing.

Ulama dari golongan Hanafiah misalnya, menjelaskan bahwa sujud sahwi adalah suatu ibarat atau ungkapan kepada seseorang yang mengerjakan sujud setelah salam dari kanannya.

Sedangkan para Ulama Syafiiyyah mengartikan bahwa sujud sahwi adalah sujud yang dikerjakan sebelum salam dengan niat di dalam hati mengerjakan sujud sahwi.

Dari beberapa gambaran di atas dapat kita tarik kesimpulan, bahwa sujud sahwi adalah sujud yang dikerjakan karena ada hal-hal yang menyebabkannya, baik dikerjakan sebelum maupun sesudah salam.

Baca juga : Hukum Meninggalkan Sunnah Dalam Shalat

Pendapat Para Ulama Tentang Sujud Sahwi

Sujud sahwi

Sujud sahwi merupakan syari’at yang diajarkan oleh Rasul SAW. sehingga tidak heran apabila terjadi banyak perbedaan pendapat di kalangan para Ulama.

Begitu banyak Ulama yang berkomentar akan hal ini.. sehingga tidak mungkin untuk dapat merangkum semua pendapat tersebut.

1. Pendapat Ulama Syafi’iyyah

Para Ulama Syafi’iyyah sepakat bahwa ketika seseorang lupa dalam shalatnya, maka disunnahkan baginya mengerjakan dua kali sujud sahwi sebelum salam.

Sujud sahwi tiak begitu saja dikerjakan, akan tetapi ada hal-hal yang menyebabkannya. Sebagaimana hadist Nabi :

عن ابي هريرة رضى الله عنه : أنرشو ل الله صلىالله عليه وسلم قال : إن احد كم إذا فام يصلى جاءه الشيطان فلبس عليه, حتي لايدري كم صلى, فإذا وجد ذلك أحد كم فليشجد سجد تين وهو جالس. رواه مسلم

Artinya : “Sungguh ketika salah satu kalian hendak mengerjakn shalat, Syetan mendatanginya untuk mengganggunya hingga ia tidak tahu berapa rakaat telah ia kerjakan, maka apabila salah satu kalin menemukan hal seperti itu, maka sujudlah dua kali dalam keadaan duduk.”HR. Muslim.

Hadist inilah yang menjadi salah satu acuan bagi golongan ini. Diterangkan oleh Al Ghomrowi bahwa secara garis besar sujud sahwi disebabkan oleh dua hal, yaitu meninggalkan perintah dan mengerjakan larangan.

Lebih lanjut ia menjelaskan, yang dimaksud perintah adalah mencakup perintah yang sifatnya wajib serta perintah yang sifatnya sunnah.

Dicontohkan seseorang yang meninggalkan perintah wajib seperti meninggalkan ruku’, karena lupa, maka disunnahkan sujud sahwi.

Mengenai larangan, seseorang yang mengerjakan larangan, selama larangan tersebut apabila dikerjakan dengan sengaja tiak membatalkan shalat, maka disunnahkan juga sujud sahwi.

Contohnya, duduk di antara dua sujud merupakan rukun yang tidak boleh dipanjangkan, apabila dipanjangkan dengan sengaja maka batal shalatnya.

Namun apabila tidak sengaja memanjangkan atau karena lupa, maka shalat tetap sah, tetapi disunnahkan sujud sahwi.

Adapun menurut pendapat ini, baik itu karena lupa meninggalkan perintah atau karena lupa mengerjakan suatu larangan, maka sujud sahwi tetap sama, yaitu dikerjakan sebelum salam.

Baca juga : Niat dan Doa Shalat Dhuha

2. Ulama Hanafiyah

rukun sholat yang harus terpenuhi

Imam Abu Hanifah merupakan Ulama yang besar pengaruhnya terhadap golongan ini, di mana beliaulah pendirinya.

Walaupun menurut sejarah beliau sendiri tidak pernah membukukan tulisannya, namun pendapatnya dapat kita ketahui melalui tulisan para santri serta para pengikutnya.

Menurut pendapat mereka , sujud sahwi dikerjakan setelah salam. Sebagaimana diterangkan oleh Muhyiddin Al Maisy dalam “Muqoddimah Al Ghaznawy”,

وسجود السهو بعد السلام عند نا

Artinya : “Dan sujud sahwi itu dikerjakan setelah salam menurut (golongan) kami”.

Adapun bagaimana sujud sahwi itu dikerjakan, lebih rinci ia memaparkan. Bahwa ketika seseorang itu lupa dalam shalatnya dari mengerjakan perbuatan sunnah atau ia menambah suatu perbuatan, maka baginya wajib sujud sahwi.

Shalat merupakan modifikasi antara perbuatan (af’al) dan ucapan (adzkar). Seseorang yang lupa dalam perbuatan (af’al) maka wajib sujud sahwi.

Sebagai contoh, seseorang yang lupa mengerjakan duduk di tempat berdiri, atau ruku’ di tempat sujud maka wajib sujud sahwi. Berbeda dengan ucapan (adzkar). Seseorang yang lupa dalam ucapan (adzkar) maka tidak wajib sujud sahwi.

Hanya saja ketika seseorang lupa dalam lima hal yang termasuk ucapan (adzkar), maka wajib sujud sahwi. Lima hal tersebut adalah takbir shalat ‘Id (Idul Fitri dan Idul Adha), qunut, bacaan tahiyat, bacaan surat-surat pilihan dan salam.

Baca juga : Tata Cara Wudhu Lengkap Beserta Do’a Dan Bacaan Latin

3. Ulama Malikiyyah

Bagi Ulama ini, sujud sahwi ada dua ketentuan, yaitu apabila penyebab dari sujud sahwi itu karena mengurangi (nuqshon) maka sujud sahwi sebelum salam.

Apabila penyebabnya dikarenakan menambah sesuatu (ziyadah) maka sujud sahwi setelah salam. Hal ini sebagaimana disampaikan oleh Imam Malik.

كل سهو كان نقصا نا من الصلاة فان سجوده قبل السلام وكل سهو كان زيادة في الصلاة فان سجوده بعدالسلام

Artinya : “Setiap lupa karena mengurangi sesuatu dalam shalat maka sujud sahwinya sebelum salam, dan setaip lupa karena menambah sesuatu dalam shalat, maka sujud sahwinya setelah salam”.

Dalam pelaksanaannya dua hal tersebut mempunyai konsekuensi tersendiri. Bagi sujud sahwi yang dikerjakan sebelum salam, maka tidak dibutuhkan niat (mengerjakan sujud sahwi).

Hal ini dikarenakan masih dalam kategori shalat (bagian dari shalat). Adapun apabila sujud sahwi dikerjakan setelah salam, maka harus dengan niat. Sujud sahwi ini bukan bagian dari shalat.

Baca juga : Pengertian dan Macam-macam Zakat Yang Wajib Kamu Ketahui

4. Ulama Hanabilah

Para Ulama Hanabilah berpendapat bahwa sujud sahwi itu boleh dikerjakan sebelum salam atau sesudah salam. Akan tetapi yang lebih diberatkan adalah sujud sahwi sebelum salam.

Hal ini terlihat jelas ketika ada dua sebab sujud sahwi terkumpul menjadi satu, yaitu sebab karena mengurangi (nuqshon) dan sebab karena menambahkan (ziyadah).

Dalam keadaan seperti ini maka yang diutamakan adalah sujud sahwi sebelum salam.
Adapun mengenai tata caranya dijelaskan bahwa untuk sujud sahwi setelah salam, maka sebelum seseorang itu mengerjakan salam yang kedua, terlebih dahulu ia mengerjakan tahiyyat. Untuk sujud sahwi sebelum salam, maka tidak perlu ada dua tahiyyat.

5. Pendapat Ulama Lain

Selain dari empat golongan tersebut yang memang merupakan golongan terbesar, masih banyak Ulama lain yang ternama juga. Yang banyak memberikan kontribusinya dalam agama Islam.

Seperti Muhammad Amin Al Kurdi. Dia adalah pengarang kitab “Tanwir Al Kulub”. Dalam karyanya bahwa sujud sahwi itu dikerjakan karena semata-mata untuk menutupi celah atau cacat di dalam shalat.

Sehingga dapat dikatakan bahwa belum sempurna sesuatu yang ada lubangnya apabila belum ditambal. Menurutnya walaupun kerusakan itu parah (banyak), maka tidak ada sesuatu yang bisa mencegah untuk dapat memperbaikinya.

Ia mencontohkan, seorang yang merusakkan puasanya satu hari saja akan tetapi berakibat rusaknya puasa satu bulan, maka baginya berkewajiban untuk memerdekakan hamba sahaya.

Apabila ia tidak mampu maka ia wajib berpuasa enam puluh hari berturut-turut sebagai gantinya.
Selain Muhammad Amin ada Muhammad Abubakar Al-Syar’iy.

Dalam karyanya “Zadu al-Ma’ad” menerangkan bahwa sifat lupa di dalam shalat termasuk dalam kesempurnaan nikmat Allah SWT atas umat-Nya.

Sebagai gambaran, Nabi Muhammad SAW sendiri di mana kapasitasnya sebagai rasul pilihan pun dapat lupa ketika shalat, apalagi manusia biasa.

Sedangkan Sayid Sabiq dalam “Fiqih Sunnah”nya tidak begitu panjang lebar memaparkan argumennya mengenai sujud sahwi.

Baginya sujud sahwi adalah suatu syari’at bagi umat Islam. Sebagai suatu syari’at maka menurutnya, dalam pelaksanaanya sujud sahwi hendaklah sesuai dengan apa yang pernah dikerjakan oleh Rasul SAW semasa hidupnya.

Yaitu sujud dua kali setelah salam atau sebelum salam. Karena Nabi pernah mengerjakan demikian.

Kesimpulan pada pembahasan kali ini adalah ketika seseorang melakukan suatu perbuatan yang dilarang dalam shalat (tidak membatalkan shalat) dan meninggalkan perintah.

Maka seyogyanya melakukan sujud sahwi sebagai bentuk penggantian atas kesalahan kita.

Demikian pembahasan pada kesempatan ini mengenai Pengertian Sujud Sahwi Dan Pendapat Ulama. Semoga bermanfaat untuk kita semua. Amin

Kang Santri Kangsantri.id merupakan bentuk usaha kami dari para santri dan alumni untuk menjaga tradisi keilmuan pesantren yang mengedepankan wasathiyah, salafiyah. 🤲

Sebarkan Kebaikan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: