Kang Santri Kangsantri.id merupakan bentuk usaha kami dari para santri dan alumni untuk menjaga tradisi keilmuan pesantren yang mengedepankan wasathiyah, salafiyah. 🤲

Kredit Sama Dengan Riba? Simak Pemahaman Lengkapnya di Sini

3 min read

wakaf uang

Kredit sama dengan riba? Simak penjelasan ini. Tidak dimungkiri bahwa sistem kredit menjadi salah satu sistem transaksi yang banyak ditawarkan dan dilakukan, terlebih di zaman ini. Jika disimak, ada banyak tawaran transaksi barang mulai dari kendaraan bermotor, rumah atau bahkan handphone yang kini sudah berubah menjadi salah satu kebutuhan pokok untuk masyarakat modern.

Keberadaan sistem kredit tentu memberikan warna yang baru dalam pola transaksi masyarakat. Banyak kalangan yang mengatakan bahwa sistem kredit membantu mereka mendapatkan barang yang diinginkan dengan lebih mudah sekalipun mereka harus membayar angsuran.

Bahkan, pendapat umum mengatakan bahwa kredit cenderung terasa lebih ringan karena seseorang tidak perlu membayar uang secara langsung dalam jumlah banyak.

Lantas, bagaimana Islam memandang sistem transaksi kredit tersebut?

Hukum Kredit Dalam Islam dan Kaitannya Dengan Riba 

Islam adalah agama rahmat bagi setiap makhluk. Oleh karenanya, Islam memiliki aturan yang jelas dan lengkap tentang segala permasalahan kehidupan, termasuk sistem kredit dalam sebuah transaksi yang dilakukan.

Secara umum, hukum sistem transaksi kredit dalam Islam adalah boleh secara hukum agama. Hal ini didasarkan pada firman Allah pada surat Al Baqarah ayat 282,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا تَدَايَنْتُمْ بِدَيْنٍ إِلَى أَجَلٍ مُسَمًّى فَاكْتُبُوهُ

Yang artinya:

“Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu melakukan mualamah tidak secara tunai untuk waktu yang telah ditentukan, hendaklah kamu menuliskannya.”

Selain dalil di atas, ada cerita mengenai Nabi Muhammad yang membeli makanan dari seorang yahudi dengan cara berhutang serta menggadaikan perisai yang beliau miliki.

Kedua dalil di atas menunjukkan bahwa ada dalil agama terkait transaksi kredit sehingga umat muslim bisa menerapkannya. Hanya saja, setiap muslim harus berhati-hati karena kredit yang kebanyakan terjadi cenderung bermuatan riba yang dilarang oleh agama secara tegas.

Jika digambarkan, kredit yang banyak berlaku di masyarakat mensyaratkan denda atas keterlambatan dalam pembiayaan. Selain itu, misalnya pada kasus kredit kendaraan bermotor, pihak leasing yang menjadi mitra kredit sebenarnya belum memiliki kendaraan bermotor yang dijadikan objek kredit tersebut. Hal inilah yang membuat kredit tersebut bermuatan riba.

Terkait hukum riba, Islam secara tegas melarang dan mengharamkannya. Dalam salah satu riwayat, Allah berfirman bahwa Ia (Allah) mengharamkan riba dan menghalalkan jual beli. Selain itu, dalam riwayat yang lain dijelaskan bahwa Allah akan melakukan peperangan secara langsung pada para pelaku riba.

Dalil tersebut tentu merupakan sebuah ancaman yang nyata bagi para pelaku riba. Oleh karenanya, seorang muslim yang beriman harus senantiasa berusaha untuk menjauhi riba dengan sungguh-sungguh. Salah satu cara yang harus dilakukan tentu saja mempelajari kaidah kredit menurut Islam yang bebas dari riba.

Pelajari juga :

Riba ; Pengertian Dan Dalil-dalilnya

Macam-Macam Riba

Rambu-Rambu Kredit Bebas Riba Menurut Islam

Kredit sama dengan riba?
hukum kredit dalam islam

Jika timbul pertanyaan apakah kredit sama dengan riba? Tentu saja jawabannya adalah tidak secara otomatis. Memang, dalam praktiknya, ada kredit yang mengandung riba dan hal tersebut banyak ditemukan. Namun, di sisi lain ada kredit yang bebas dari riba dengan beberapa rambu-rambu tertentu berdasarkan hukum agama.

Adapun beberapa rambu-rambu kredit yang diperbolehkan dalam Islam dan bebas dari perkara riba adalah sebagai berikut:

Objek Kredit Bukan Komoditas atau Barang Riba 

Dalam Islam, ada beberapa barang yang disebut sebagai komoditas riba. Pada jenis barang tersebut terdapat aturan tertentu di mana barang yang dimaksud tidak boleh dijadikan objek kredit dan pertukarannya harus senilai.

Adapun barang-barang yang masuk dalam komoditas riba adalah emas, perak, uang, gandum, beras, kurma dan makanan pokok tahan lama lainnya. Misalnya, jika seseorang hendak menukar emas dengan perak, maka nilai dari keduanya harus sama dan juga harus dilakukan secara tunai.

Namun, jika pertukaran tersebut menggunakan benda riba beda kelompok, misal dalam transaksi pembelian beras, di mana uang dan beras menjadi objek pertukaran, maka transaksi piutang diperbolehkan. Hanya saja, dalam transaksi ini, harus jelas takaran nilai, jumlah biaya dan juga waktu pembayaran yang akan dilakukan.

Menghindari Penundaan Setelah Barang Diterima

Dalam kredit menurut hukum Islam, maka tidak boleh ada penundaan serah terima barang yang dilakukan. Hal ini dikarenakan penundaan tersebut merupakan bentuk dari praktik jual beli hutang dengan hutang yang lain di mana diharamkan secara mutlak oleh ulama berdasarkan hadis Nabi Muhammad, yang artinya “Nabi melarang melakukan jual beli hutang dengan hutang” (HR. Hakim: 2343).

Oleh karenanya, ketika transaksi kredit sudah dilakukan, maka pihak pembeli harus segera mendapatkan barang yang ia beli secara kredit tanpa penundaan. Hukumnya terlarang jika akad kredit dilakukan hari ini sedangkan barang didapatkan keesokan harinya.

Penegasan Transaksi

Hal lain yang penting dan merupakan rambu kredit yang dibolehkan dalam Islam serta bebas dari riba adalah penegasan dalam transaksi. Seluruh transaksi kredit yang dilakukan harus ditegaskan dan dijadikan sebuah kesepakatan bersama.

Hal-hal yang menjadi penegasan tersebut adalah terkait satu harga yang akan digunakan untuk transaksi tersebut, besaran angsuran yang dibayarkan, serta jangka pembayaran yang disepakati. Kedua pihak harus menyetujui beberapa hal tersebut dengan jelas.

Tidak Ada Denda Atas Keterlambatan 

Perbedaan dari kredit yang mengandung riba dan yang bebas riba adalah denda dari keterlambatan. Untuk melakukan kredit yang bebas dari kandungan riba, maka tidak ada denda dari keterlambatan yang dijadikan sebuah kesepakatan.

Hal ini didasarkan pada salah satu ajaran Islam di mana seseorang hendaknya memberikan kelonggaran pada orang lain yang berhutang kepadanya.

Hanya saja, di sisi lain pihak peminta kredit juga harus mawas diri. Ia harus berusaha menunaikan kewajibannya dengan baik sebagaimana keuntungan kredit yang telah ia dapatkan.

Demikian beberapa ulasan tentang kredit dan riba. Islam memiliki solusi yang tepat agar seorang muslim bisa melakukan kredit dan bebas dari jerat riba. Sudah jelaskan pembahasan mengenai apa kredit sama dengan riba?

Jika ada pertanyaan, saran dan komentar silahkan sampaikan di kolom komentar.

Kang Santri Kangsantri.id merupakan bentuk usaha kami dari para santri dan alumni untuk menjaga tradisi keilmuan pesantren yang mengedepankan wasathiyah, salafiyah. 🤲

One Reply to “Kredit Sama Dengan Riba? Simak Pemahaman Lengkapnya di Sini”

  1. Assalamualaikum warahmatullahi wa barrakatuh.

    Apa yang harus dilakukan setelah pengkredit/pembeli telah diberi kelonggaran tanpa denda namun tetap juga tidak melunasi (tidak bertanggungjawab) apakah harus terus diberi kelonggaran? Dan pada akhirnya kita harus mengikhlaskan demi menghindari Riba?

    Saya sudah membaca artikel namun tidak menemukan solusi untuk ini.
    Riba lebih ditekankan pada yang menjual bagi pembeli yang tidak bertanggung jawab tidak jelas hukumnya?

    MOHON JAWABANNYA SEGERA DAN DIUPDATE KEMBALI ARTIKELNYA. Terimakasih Jazakallahu …

    Wassalamu’alaikum warahmatullahi wa barrakatuh.

    NOTE: Orang non muslim bisa juga mempelajari hukum riba agar usahanya dagangannya bisa diterima oleh semua kalangan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

%d blogger menyukai ini: