Kang Santri Kangsantri.id merupakan bentuk usaha kami dari para santri dan alumni untuk menjaga tradisi keilmuan pesantren yang mengedepankan wasathiyah, salafiyah. 🤲

Kewajiban Dan Hak Buruh – Majikan

5 min read

Gajian pekerja setiap bulan

Kewajiban dan hak antara buruh dan majikan – undang-undang Ketenagakerjaan diatur dengan sedemikian rupa dan di update dari tahun ke tahun. Hal ini bertujuan untuk memberikan keseimbangan antara hak dan kewajiban antara buruh dan majikan.

Sehingga tidak ada tumpang tindih antara hak dan kewajiban masing-masing orang yang bersangkutan. Balance antara hak dan kewajiban yang harus terpenuhi antara buruh dan majikan.

Sebenarnya di dalam ajaran Islam telah diatur sedemikian rupa mengenai sistem kerja. Walaupun dalam teorinya masih klasik dan belum terdapat pembaharuan-pembaharuan. Sehingga umat muslim sekarang dituntut untuk beradaptasi dengan kemajuan zaman.

Selanjutnya Bagaimanakah ketentuan mengenai kewajiban dan hak seorang buruh dan majikan? Selengkapnya Mari kita bahas ulasan di bawah.

Kewajiban Dan Hak Buruh – Majikan

Setelah kita menelusuri pemahaman tentang perjanjian kerja dalam perspektif hukum islam, maka berikut ini penulis paparkan bagaimana kewajiban dan hak buruh dan majikan.

A. Kewajiban Buruh

Kewajiban buruh

Konsekuensi adanya relasi kerja yang termanifestasikan dalam perjanjian kerja adalah munculnya hak dan kewajiban, di mana terpenuhinya hak dan kewajiban sangat berpengaruh terhadap kesehatan relasi antara buruh dan majikan.

Kewajiban-kewajiban buruh pada majikan adalah buruh harus bertanggungjawab pada pekerjaanya dan harus jujur.

Dalam bekerja, buruh harus bertanggung jawab terhadap pekerjaanya, dia harus menjaga amanat yang telah dibebankan padanya dalam bekerja. Sebagaimana firman Allah dalam al-Qur’an:

وَلَوْ شَآءَ ٱللَّهُ لَجَعَلَكُمْ أُمَّةً وَٰحِدَةً وَلَٰكِن يُضِلُّ مَن يَشَآءُ وَيَهْدِى مَن يَشَآءُ ۚ وَلَتُسْئلُنَّ عَمَّا كُنتُمْ تَعْمَلُونَ

Artinya : Dan kalau Allah menghendaki, niscaya Dia menjadikan kamu satu umat (saja), tetapi Allah menyesatkan siapa yang dikehendaki-Nya dan memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan sesungguhnya kamu akan ditanya tentang apa yang telah kamu kerjakan. (QS. An-Nahl : 93)

Dan dalam riwayat Muslim dan Bukhori:
Artinya : buruh adalah penggembala dalam harta tuanya dan dia akan dimintai pertanggungjawaban atas apa yang dia gembalakan itu.

Selain itu buruh juga bertanggungjawab dalam hal kejujuran, karena kejujuran adalah kunci terbangunnya relasi yang sehat antara buruh dan majikan. Sebagaimana firman Allah dalam suatu ayat:

قَالَتْ إِحْدَىٰ هُمَا يَٰٓأَبَتِ ٱسْتَـْٔجِرْهُ ۖ إِنَّ خَيْرَ مَنِ ٱسْتَـْٔجَرْتَ ٱلْقَوِىُّ ٱلْأَمِينُ

Artinya : Salah seorang dari kedua wanita itu berkata: “Ya bapakku ambillah ia sebagai orang yang bekerja (pada kita), karena sesungguhnya orang yang paling baik yang kamu ambil untuk bekerja (pada kita) ialah orang yang kuat lagi dapat dipercaya”. (QS. Al-Qashash:26)

Menurut Ibnu Katsir dalam kitab tafsirnya, ayat ini turun karena dalam berkaitan dengan dua putri nabi Syu’aib a.s. sewaktu menggembala kambing, bertemu dengan Musa a.s. Nabi Musa membantu menyingkirkan batu besar yang menghalangi jalan kedua putri Nabi Syu’aib dan gembalanya.

Kedua putri itu kemudian mengajak Musa untuk bertemu dengan ayahnya. Dan sepanjang perjalanan, Musa sangat menghormati kedua putri Nabi Syu’aib.

Bahkan ketika urat salah satu dari keduanya terlihat, Musa membuang muka. Hal itu mendorong kedua putri Nabi Syu’aib untuk mempekerjakanya.

B. Hak dasar buruh dalam hukum Islam

Hak buruh (pekerja)

Selain memberikan kewajiban pada buruh, Islam juga sangat memperhatikan hak-hak buruh. Hal ini di karenakan Islam melihat posisi buruh yang lemah, sehingga dibutuhkan rambu-rambu yang kuat yang diberikan pada pengusaha untuk menunaikan hak-hak buruh :

1. Hak buruh atas upah kerjanya

Gajian pekerja setiap bulan

Adalah sudah menjadi hak buruh sebagai pengganti dari tenaga produktivitas buruh. Relasi manusia dengan Tuhan juga menggarisbawahi persoalan upah (pahala), dimana Allah berjanji tidak akan menyia-siakan setiap amal (kerja) manusia (termasuk buruh). Allah sudah berjanji dalam firman-Nya:

مَن كَانَ يُرِيدُ ٱلْحَيَوٰةَ ٱلدُّنْيَا وَزِينَتَهَا نُوَفِّ إِلَيْهِمْ أَعْمَٰلَهُمْ فِيهَا وَهُمْ فِيهَا لَا يُبْخَسُونَ

Artinya : “Barangsiapa yang menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya Kami berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna dan mereka di dunia itu tidak akan dirugikan”.

Upah dalam pandangan Islam tidak hanya dilihat sebagai hadiah, akan tetapi upah adalah hak yang harus diterima, dalam ayat lain Allah berfirman:

فَٱسْتَجَابَ لَهُمْ رَبُّهُمْ أَنِّى لَآ أُضِيعُ عَمَلَ عَٰمِلٍ مِّنكُم مِّن ذَكَرٍ أَوْ أُنثَىٰ ۖ بَعْضُكُم مِّنۢ بَعْضٍ

Artinya : Maka Tuhan mereka memperkenankan permohonannya (dengan berfirman): “Sesungguhnya Aku tidak menyia-nyiakan amal orang-orang yang beramal di antara kamu, baik laki-laki atau perempuan, (karena) sebagian kamu adalah turunan dari sebagian yang lain.

Ayat ini menurut suatu riwayat turun berkaitan dengan pernyataan Ummu Salamah yang memepertanyakan kepada Rasul terkait hijrah, akan tetapi prinsip dasarnya adalah bahwa setiap pekerjaan seharusnya mendapat imbalan yang setimpal.

Maksudnya, sebagaimana laki-laki berasal dari laki-laki dan perempuan, maka demikian pula halnya perempuan berasal dari laki-laki dan perempuan. Kedua-duanya sama-sama manusia, tak ada kelebihan yang satu dari yang lain tentang penilaian iman dan amalnya .

Baca juga : Pengertian Dan Syarat Rukun Akad Ijarah

2. Hak buruh sesuai dengan nilai kerjanya

Hak buruh mendapatkan upah sesuai dengan skill

Upah buruh seharusnya diberikan atas dasar nilai kerjanya, dan tidak cukup hanya memberinya makan minum sebagai ganti dari tenaga yang hilang.

Upah atas dasar nilainya sama artinya dengan dengan upah harus mempertimbangkan partisipasi buruh dalam menghasilkan laba sehingga buruh berhak pula atas laba. Memberikan upah buruh tanpa menyertakan nilai laba adalah perbuatan dzalim.

Menurut Assiba’î, majikan harus membayar penuh upah buruh sebagaimana mestinya, meskipun buruh tersebut bersedia menerima upah di bawah sewajarnya.

Majikan tidak boleh membayar upah buruh asal buruh itu merasa suka atau bersedia terutama sekali ketika buruh itu merasa membutuhkan sekali dan terpaksa dengan upah buruh yang diterima.

Majikan dalam kondisi demikian harus memenuhi upah buruh sebagaimana mestinya buruh menerima upahnya.

Prinsip dasarnya adalah tidak ada yang didzalimi, mengambil upah adalah dzalim karena mengambil hak orang lain.

Sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Abdullah bin Umar r.a. menyebutkan bahwa Nabi pernah bercerita tentang orang yang mempekerjakan buruh di mana buruhnya setelah bekerja padanya pergi tanpa mengambil upahnya.

Majikan tersebut menginvestasikan upah buruh tersebut sehingga bertambah jumlahnya. Setelah beberapa tahun buruh tersebut datang menagih upahnya yang ditinggal pada waktu yang lampau.

Majikan tersebut memberikan upah buruh yang terdahulu, ditambah dengan laba atas pengembangan upahnya terdahulu.

3. Hak buruh atas upah sebagai nafkah keluarga

Menafkahi keluarga dengan harta yang halal

Tujuan seseorang dalam bekerja adalah mencari harta yang halal dan berkah. Dengan bekerja seseorang bisa menafkahi keluarga, anak dan istri.

Firman allah:

وَلَقَدْ كَرَّمْنَا بَنِىٓ ءَادَمَ وَحَمَلْنَٰهُمْ فِى ٱلْبَرِّ وَٱلْبَحْرِ وَرَزَقْنَٰهُم مِّنَ ٱلطَّيِّبَٰتِ وَفَضَّلْنَٰهُمْ عَلَىٰ كَثِيرٍ مِّمَّنْ خَلَقْنَا تَفْضِيلًا

Artinya : Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam, Kami angkut mereka di daratan dan di lautan, Kami beri mereka rizki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan.

4. Hak buruh untuk bekerja sesuai dengan kemampuan

Tidak memaksakan tenaga dan fikiran buruh sesuai dengan kemauan bos
Ilustrasi pekerja buruh angkut barang

Rasulullah pernah bersabda:

Artinya: “Janganlah kamu membebankan (sesuatu) kepada buruh itu sesuatu yang mereka tidak kuasa (melaksanakannya), apabila kamu paksa mereka (melebihi apa yang ditetapkan), maka berilah mereka pertolongan. (HR. Bukhori dan Muslim).

Jika dalam kondisi tertentu, tenaga buruh dibutuhkan di luar batas kewajaran maka seharusnya buruh mendapat upah ekstra atau tambahan.

5. Hak buruh atas waktu beristirahat

Hak buruh untuk istirahat
Ilustrasi pekerja istirahat saat pengerjaan proyek

Kekuatan fisik buruh adalah kekuatan fisik seorang manusia yang mempunyai kadar batas, karena begitu majikan juga harus memberikan waktu istirahat pada buruh. Sebagaimana sabda Nabi Muhammad SAW:

Artinya : sesungguhnya Tuhanmu mempunyai hak atasmu, tubuhmu juga mempunyai hak atasmu, istrimu pun mempunyai hak atasmu, dan matamupun mempunyai hak atasmu. (HR. Al-Bukhori)

6. Hak buruh atas perlindungan dari kekerasan

Terhindar dari kekerasan adalah sebagian hak pekerja

Posisi buruh yang lemah telah disinyalir oleh nabi muhammad, dalam sabdanya beliau memberikan hukuman yang besar bagi orang yang menganiaya buruhnya. Dalam sebuah hadits disebutkan yang artinya: “barang siapa menampar budaknya (buruh) atau memukulnya

, ….. maka kifaratnya adalah memerdekakanya” (HR. Al- Bukhori)

Dan hal ini dikuatkan dalam al-qur’an, sebagaimana tercantum dalam al-Qur’an Surat an-Nisaa’ayat 36 :

Artinya : Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun. Dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapa, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, dan teman sejawat, ibnu sabil; dan hamba sahayamu. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri.

Baca juga : Zakat Profesi Wajibkah? Nisab dan Ketentuannya

7. Hak buruh atas jaminan sosial

Buruh berhak mendapatkan jaminan sosial

Prinsip dasar dari hak ini adalah bahwa harta dan seluruh kekayaan yang ada baik yang di langit maupun di bumi adalah milik Allah semata, manusia hanya wakil Allah dan bukan pemilik mutlak atas harta yang ada dirinya. Sebab pada dirinya ada hak orang lain.

Pada sistem kapitalistik, masa produktif buruh dipersembahkan untuk mengabdi pada majikan, yaitu untuk mencari keuntungan sebanyak mungkin.

Karenanya majikan sebagai wakil Allah di bumi harus menyelenggarakan hak buruh pada saat buruh tidak produktif lagi baik disebabkan oleh usia, kecelakaan maupun lainya dengan sistem jaminan sosial.

Peraturan yang tertuang di dalam Undang Undang ketenagakerjaan tahun 2013 menyebutkan setiap pekerja wajib mendapatkan perlindungan sosial. Dengan mendaftarkan setiap pekerja di BPJS Ketenagakerjaan.

Sebagaimana firman Allah:

ءَامِنُوا۟ بِٱللَّهِ وَرَسُولِهِۦ وَأَنفِقُوا۟ مِمَّا جَعَلَكُم مُّسْتَخْلَفِينَ فِيهِ ۖ فَٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ مِنكُمْ وَأَنفَقُوا۟ لَهُمْ أَجْرٌ كَبِيرٌ

Artinya : Berimanlah kamu kepada Allah dan Rasul-Nya dan nafkahkanlah sebagian dari hartamu yang Allah telah menjadikan kamu menguasainya Maka orang-orang yang beriman di antara kamu dan menafkahkan (sebagian) dari hartanya memperoleh pahala yang besar.

Ayat ini masih di kuatkan oleh surat lain, yang juga menyuratkan agar para majikan memberikan kelebihan hartanya kepada budak-budak yang mereka miliki, seperti firman allah dalam surat an-Nur ayat 33 :

Artinya : Dan budak-budak yang kamu miliki yang memginginkan perjanjian, hendaklah kamu buat perjanjian dengan mereka , jika kamu mengetahui ada kebaikan pada mereka, dan berikanlah kepada mereka sebahagian dari harta Allah yang dikaruniakan-Nya kepadamu.

8. Penghargaan atas masa kerja

Seharusnya diberikan oleh majikan kepada buruh sebagai penghargaan atas relasi yang terbangun antara keduanya dan disebabkan pula buruh telah berjasa memberikan manfaat laba kepada majikan. Seperti Firman Allah SWT dalam surat al-Qasas ayat : 27

قَالَ إِنِّىٓ أُرِيدُ أَنْ أُنكِحَكَ إِحْدَى ٱبْنَتَىَّ هَٰتَيْنِ عَلَىٰٓ أَن تَأْجُرَنِى ثَمَٰنِىَ حِجَجٍ ۖ فَإِنْ أَتْمَمْتَ عَشْرًا فَمِنْ عِندِكَ ۖ وَمَآ أُرِيدُ أَنْ أَشُقَّ عَلَيْكَ ۚ سَتَجِدُنِىٓ إِن شَآءَ ٱللَّهُ مِنَ ٱلصَّٰلِحِينَ

Artinya : Berkatalah dia (Syu’aib): “Sesungguhnya aku bermaksud menikahkan kamu dengan salah seorang dari kedua anakku ini, atas dasar bahwa kamu bekerja denganku delapan tahun dan jika kamu cukupkan sepuluh tahun maka itu adalah (suatu kebaikan) dari kamu, maka aku tidak hendak memberati kamu. Dan kamu Insya Allah akan mendapatiku termasuk orang- orang yang baik.”

Kesimpulan

Kesimpulan dari pembahasan Pada kesempatan kali ini adalah bahwa pemberi kerja memiliki hak yang harus digunakan sebagai kewajiban pekerja.

Bekerja dengan sungguh-sungguh dan bertanggung jawab atas pekerjaannya, bekerja sesuai dengan kesepakatan saat proses recruitment merupakan kewajiban seorang buruh sekaligus menjadi hak pemberi kerja.

Sedangkan kita mempunyai hak yang harus diberikan oleh pemberi kerja dan berstatus sebagai kewajiban yang harus dipenuhi oleh pemberi kerja. Yaitu memberikan upah Sesuai dengan kesepakatan kerja dan memberikan ibadah istirahat dan yang lainnya.

Dalam ajaran agama Islam semuanya telah tertata dengan rapi. Tinggal bagaimana seorang muslim bisa mengelolanya dengan baik. Sehingga relasi antara pekerja dan pemberi kerja terjalin dengan baik dan saling menguntungkan.

Kang Santri Kangsantri.id merupakan bentuk usaha kami dari para santri dan alumni untuk menjaga tradisi keilmuan pesantren yang mengedepankan wasathiyah, salafiyah. 🤲

Sebarkan Kebaikan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: