Kang Santri Kangsantri.id merupakan bentuk usaha kami dari para santri dan alumni untuk menjaga tradisi keilmuan pesantren yang mengedepankan wasathiyah, salafiyah. 🤲

Hukum Mengucapkan Selamat Natal Bagi Seorang Muslim

4 min read

Hukum mengucapkan selamat Natal bagi seorang muslim kepada non muslim – Di Indonesia sebuah hukum yang khilafiyah sangat berpotensi menjadi sebuah konflik katakan saja hukum tentang mengucapkan selamat Natal mengucapkan selamat Imlek dan yang lainnya.

Selain itu ada juga beberapa hukum yang statusnya masih khilafiyah menimbulkan pro dan kontra yang beredar liar di masyarakat. sehingga potensi ini perlu diwaspadai dan juga dipahamkan kepada masyarakat supaya tidak terjadi di perpecahan di kalangan masyarakat ataupun disintegrasi.

Pasalnya status hukum fiqih yang masih khilafiah ini bisa saja menjadi bom waktu yang setiap saat meledak jika ada oknum-oknum ataupun golongan yang yang memanfaatkan moment-moment tertentu untuk memecah belah persatuan bangsa Indonesia.
Salah satu dari status hukum fiqih tersebut adalah pemain yang setiap tahun di lewati oleh warga negara Indonesia yaitu hari raya keagamaan umat umat tertentu seperti Natal dan Imlek.
Banyak orang yang mengatakan bahwa mengucapkan selamat Natal kepada kaum Nasrani merupakan hal yang sangat fatal dilakukan oleh umat muslim.

Akan tetapi juga ada yang membolehkan mengucapkan selamat Natal kepada mereka yang merayakan.
Perbedaan dua pendapat ini bermuara pada pemahaman awal dari sebuah teks teks Suci seperti Alquran dan hadis, pemahaman tentang sosio kultural.

Pada kesempatan kali ini Kang Santri berusaha untuk menjembatani orang-orang yang pro terhadap bolehnya mengucapkan selamat Natal dan orang-orang yang kontra terhadap orang yang mengucapkan selamat Natal.

Sehingga harapan kami Anda bisa mengambil kesimpulan dari apa yang ulama katakan baik yang memperbolehkan ataupun mengharamkan mengucapkan selamat Natal mengucapkan selamat Imlek ataupun ucapan-ucapan yang berhubungan dengan kegiatan keagamaan agama selain Islam.

Pendapat Ulama’ yang membolehkan

pohon natal

Hukum fikih yang masih ikhtilaf memang berpotensi adanya perselisihan pendapat. Hal ini disebabkan karena karakteristik hukum fikih itu sendiri statis dan bersifat dhanni. Sedangkan sifat syariat adalah pasti. Seperti kebanyakan produk fikih yang lainnya. Hukum mengucapkan selamat hari natal kepada pemeluk agama nasrani juga berpotensi menjadi perselisihan.

Mereka yang memperbolehkan ini terdiri dari akademisi Al-Azhar dan juga ulama’-ulama yang lainnya. Seperti syaikh Wahbah Az-Zuhaili, Yusuf Qardhawi, Dr. Muhammad Zarqa’, darul ifta Mesir, Majelis Fatwa Eropa. Sedangkan yang dari Indonesia ulama’ yang memperbolehkan seperti KH. Said Aqil Siraj, HM Din Syamsudin, Prof. Quraisy Shihab, Buya Syafi’i Ma’arif.

Hukum mengucapkan selamat Natal menurut Buya Syafi’i Maarif

Buya Syafi’i Ma’arif berpendapat bahwa mengatakan selamat natal merupakan hal yang wajar-wajar saja. Menurut Buya Syafii, ucapan itu sah-sah saja dilihat dari sisi agama. Sebab tak akan merusak akidah seorang muslim yang telah benar-benar memahami ajaran agama Islam. Larangan pengucapan selamat natal merupakan pandangan sempit, kalau istilah medsos itu kelompok sumbu pendek.

Apa keberatannya mengucapkannya? Selamat Natal, Idul Fitri, apa keberatannya? Di sisi apa? Pengucapan itu Tidak akan salah itu,
Bagi Buya, mengucapkan selamat Natal dan Tahun Baru kepada pemeluk agama lain merupakan bagian dari sikap menghormati dalam pergaulan antar umat beragama. Ucapan Selamat Natal dan Tahun Baru, kembali ditegaskan Buya tidak merusak akidah.

Mengucapkan Selamat Natal Menurut Quraisy Shihab

pendapat quraisy shihab tentang mengucapkan selamat natal

Selama aqidah anda tetap terjaga maka bisa saja kamu ucapkan Selamat Natal. boleh saja karena aku bahkan kalau saya mau berkata Selamat Natal itu di Quran ada selamat natal yang pertama mengucapkan selamat Natal itu bisa nabi Isa Alaihissalam

وَالسَّلَامُ عَلَيَّ يَوْمَ وُلِدتُّ وَيَوْمَ أَمُوتُ وَيَوْمَ أُبْعَثُ حَيًّا (مريم :٣٣)

Wahyu ma kamu tuh ya salam sejahtera bagi ku pada hari Kelahiranku itu tidak Tapi kita tetap percaya bahwa dalam aqidah Isa adalah Bukan Anak Allah dia adalah rasul itu sebabnya ini hanya di Asia Tenggara di Mesir itu Grand Syekh Al Azhar pergi berkunjung untuk mengucapkan selamat kepada mereka.

Saya senang hadir di dalam majelis pada hari-hari tertentu yang mengumpulkan orang-orang Hindu, Budha, Kristen dan Islam. Tapi prinsip lakum dinukum waliyadin tetap dijaga.

Pendapat mengucapkan selamat natal menurut Habib Ali Al Jufri

pendapat habib ali bin jufri

ما مسألة الحكم الشرعي لتهنئة أهل الكتاب مجردا عن تنزيله على الواقع فهو اجتهاد لم يُبنَ على نص صريح من كتاب أو سنة فى الجواز أو المنع ، بل كان من المسائل الاجتهادية لدى الفقهاء، فكان محل تفصيل وخلاف. أما التفصيل فمنهم من أباح التهنئة في المناسبات الدنيوية دون الدينية، وأما الخلاف فهو ثابت في عموم التهنئة ؛ فقد نص الإمام أحمد بن حنبل على جواز التهنئة في أحد أقواله المروية عنه كما نقل ذلك المرداوي في الإنصاف دون تقييد بالمناسبات الدنيوية

وإن اعتمد الحنابلة رواية التحريم مما يردّ زعم الإمام الحافظ ابن القيم أن التحريم محل اتفاق فالعلماء الذين نفّوا عن التهنئة بنوا النهي على علة نص عليها عدد منهم في فتواهم وهي التباس التهنئة بإقرار أهل الكتاب على العقائد المخالفة لعقيدة الإسلام، وهذا التعليل كان صحيحا في إطار الثقافة السائدة في المجتمع الإنساني آنذاك من ارتباط التهنئة بتبني إقرار الأمر الذي تكون التهنئة بصدده ، وهذه العلة قد انعدمت بالكلية في الثقافة الإنسانية المعاصرة

“ Mengenai hukum mengucapkan selamat pada ahli kitab (Nasrani serta Yahudi), terlepas dari konteks apapun, perihal tersebut merupakan hasil ijtihad yang tidak berdasar pada nash sharih baik dari Alquran maupun Hadis apakah perihal itu boleh ataupun dilarang. Perihal ini murni permasalahan ijtihadi, maka ada perbedaan serta perincian.

Terdapat ulama yang memperbolehkan mengucapkan selamat dalam urusan duniawi saja,( seperti selamat atas sesuatu pencapaian serta prestasi) sebaliknya hari raya tidaklah urusan duniawi melainkan urusan agama, hingga mengucapkan selamat hari raya tidak diperbolehkan, Imam Ahmad dalam salah satu pendapatnya yang diriwayatkan Al- Mardawi dalam kitab Al- Inshaf menjelaskan boleh mengucapkan selamat pada ahli kitab tanpa membatasinya dengan urusan duniawi saja.

Ulama yang tidak membolehkan

Hukum mengucapkan selamat natal

Ulama yang berkomentar tidak boleh, mendasari pendapatnya kalau perkataan selamat kepada mereka sama dengan menganggap benar agama mereka. Sebab ini masuk akal pada peradaban masa itu (jaman dulu) yang berpandangan kalau perkataan selamat erat kaitannya dengan perihal yang dirayakan. Tetapi perihal ini telah tidak dijumpai lagi di masa sekarang.

Sebagian ulama lagi ada yang mengharamkan seorang muslim mengucapkan selamat natal atau sejenisnya. Diantara mereka adalah Syekh Bin Baz, Syekh Ibnu Utsaimin, Syekh Ibrahim bin Ja’far, Syekh Ja’far At-Thalhawi dan sebagainya.

Di indonesia sendiri muncul silang pendapat yang membahas mengenai ini. Diantara mereka yang melarang mengucapkan ini adalah ust. Adi Hidayat, Ust. Abd. Somad, Habib Abu Bakar Assegaf dan lain sebagainya.

Ulama’-ulama’ tersebut menggunakan beberapa dalil untuk menetapkan fatwa haram mengucapkan selamat natal. Diantaranya adalah firman Allah dalam QS. Al-Furqan ayat 72.

وَالَّذِينَ لَا يَشْهَدُونَ الزُّورَ وَإِذَا مَرُّوا بِاللَّغْوِ مَرُّوا كِرَامًا

Artinya; ”Serta orang- orang yang tidak memberikan persaksian palsu, serta apabila mereka berjumpa dengan( orang- orang) yang mengerjakan perbuatan- perbuatan yang tidak berfaedah, mereka lalui( saja) dengan memelihara kehormatan dirinya.”

Pada ayat tersebut, Allah subhanahu wa ta’ ala menuturkan karakteristik orang yang akan menemukan martabat yang besar di surga, ialah orang yang tidak membagikan kesaksian palsu. Sebaliknya, seseorang Muslim yang mengucapkan selamat Natal berarti ia sudah membagikan kesaksian palsu serta membetulkan kepercayaan umat Kristiani tentang hari Natal. Dampaknya, ia tidak hendak menemukan martabat yang besar di surga. Dengan demikian, mengucapkan selamat Natal hukumnya haram.

Di samping itu, mereka pula berpedoman pada hadits riwayat Ibnu Umar, kalau Nabi shallallahu’ alaihi wasallam bersabda:

مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَمِنْهُمْ

” Barangsiapa menyamai sesuatu kaum hingga ia termasuk bagian kalangan tersebut.”( HR. Abu Daud, no 4031).

Orang Islam yang mengucapkan selamat Natal berarti menyamai tradisi kaum Kristiani, hingga dia dikira bagian dari mereka. Dengan demikian, hukum perkataan diartikan merupakan haram.

Fatwa Ibnu Taimiyah

Ibnu Taimiyah (ulama referensi salafi wahabi) dengan tegas mengharamkan absolut perkataan selamat hari raya kepada orang kafir disebabkan tasyabbuh kepada mereka, syirik serta sesat. Dikatakan kalau:

Hingga tidak halal buat ikut dan bersama ahli kitab serta orang- orang musyrik dalam menyelenggarakan hari- hari raya mereka, baik dengan cara membagikan hadiah- sekecil apapun- kepada mereka ataupun dengan membagikan perkataan selamat hari raya kepada mereka. Seluruh ini dalam rangka memutuskan benih- benih kesyirikan, menampakkan kemuliaan serta keistimewaan Islam di atas para pengikut kesesatan, serta bagaikan perwujudan dari perintah Allah serta Rasul- Nya.

Fatwa Utsamain

Sebagaimana ada dalam Majma’ Fatawa Muhammad bin Shalih al-‘ Utsaimin,( Jilid. III, h. 44- 46, Nomor. 403), disebutkan kalau mengucapkan selamat kepada mereka hukumnya haram, sama saja apakah terhadap mereka (orang- orang kafir) yang ikut serta bisnis dengan seorang (muslim) ataupun tidak.

Jadi, jika mereka menucapkan selamat kepada kita dengan perkataan selamat hari raya mereka, kita dilarang menjawabnya, sebab itu bukan hari raya kita, serta hari raya mereka bukanlah diridhai Allah.

Fatwa Ibnul Qoyyim

Dalam kitabnya Ahkamu Ahlidz Dzimmah Ibnul Qoyyim Al Jauziyah mengatakan,“ Ada pula mengucapkan selamat berkenaan dengan syi’ ar- syi’ ar kekufuran yang khusus untuk mereka merupakan haram bagi konvensi para ulama. Sebabnya sebab perihal itu memiliki persetujuan terhadap syi’ ar- syi’ ar kekufuran yang mereka jalani.

Larangan perkataan selamat Natal secara mutlak ataupun semisalnya merupakan mayoritas bersumber dari ulama- ulama referensi salafi wahabi semacam di atas serta pula yang lain seperti Bin Bazz, Saleh Al Fauzan, Alu Syeikh (ulama- ulama generasi dari Muhammad bin Abdul Wahhab, pendiri sekte Wahabi) serta pasti saja dari komisi fatwa Arab Saudi.

Dari beberapa pendapat di atas sudah sangat jelas hujjah argumen mereka. Kita sebagai mukallaf bisa menakar dan menimbang fatwa mana yang sekiranya cocok dengan tigkat keimanan kita. Sekali lagi pendapat-pendapat tersebut merupakan hasil ijtihad. Dengan demikian hasil ijtihad tersebut memiliki potensi salah dan benar. Sehingga kita sebagai orang awam dapat memilih fatwa-fatwa yang sudah mereka keluarkan.
Demikian semoga bisa memberi manfaat dan juga wawasan keilmuan. Wallahul muwaffiq ila aqwamith thoriq. Wassalamualaikum wr. wb.

Kang Santri Kangsantri.id merupakan bentuk usaha kami dari para santri dan alumni untuk menjaga tradisi keilmuan pesantren yang mengedepankan wasathiyah, salafiyah. 🤲

Masuk Surga Kurang Dari 2 Menit No Hoax

Masuk surga kurang dari 2 menit – banyak orang yang beranggapan bahwa masuk surga merupakan hal yang sangat sulit. Dibutuhkan kriteria yang sedemikian rupa...
Kang Santri
1 min read

Sebarkan Kebaikan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: