Cinta Tanah Air Perspektif Al-Qur’an Dan Hadits

4 min read

hubbul wathon minal iman

Cinta tanah air perspektif al-qur’an dan hadits – merupakan hal sangat dibutuhkan oleh warga negara indonsia saat ini. Pasalnya timbulnya disintegrasi maupun perpecahan di negara ini salah satu faktor penyebabnya adalah karena dua golongan saling beda pendapat. Yang tidak bangga dengan negara sendiri dan golongan yang bangga. Salah satu contohnya adalah golongan yang meng-engelu-elukan negara Selain Indonesia lebih baik daripada indonesia.

Maka dari itu ada hal yang harus dibenahi dalam mental orang Indonesia, sehingga cinta tanah air bisa diimplementasikan dalam keseharian warga. Hal ini selaras dengan yang disampaikan oleh presiden Joko Widodo yang dilansir oleh Kemenkominfo menyampaikan perlu menamkan cinta tanah air dengan cara kekinian.

Dengan cinta tanah air warga negara akan sadar bahwa dia wajib menjunjung tinggi cita-cita negara. Dengan kesadaran tersebut akan menjadikan ghiroh cinta terhadap apa-apa yang ada di negaranya. Taat membayar pajak dan zakat, suka dengan produk dalam negeri dan lain sebagainya.

Cinta Tanah Air Perspektif Al-Qur’an Dan Muffasir

hubbul wathon minal iman
Sumber: kaderislamnusantara.blogspot.com

Imam Fakhruddin Ar-Razi memiliki pandangan yang bagus dalam memberikan dalil dari Al-Qur’an terkait cinta tanah air yang menegaskan bahwa cinta tanah air adalah dorongan fitrah yang sangat kuat di dalam jiwa manusia. Dia mengatakan hal itu ketika menafsirkan firman Allah ta’ala ” Dan sesungguhnya kalau Kami perintahkan kepada mereka: “Bunuhlah dirimu atau keluarlah kamu dari kampungmu” (QS. An-Nisa: 66) ia berkata Allah menjadikan meninggalkan kampung halaman sekitar dengan bunuh diri.

Seakan Allah ta’ala berfirman seandainya aku perintahkan kepada mereka salah satu dari 2 kesulitan terbesar di alam semesta maka mereka pasti tidak akan melaksanakannya dua kesulitan terbesar itu adalah bunuh diri dan meninggalkan tanah air.” Allah menjadikan kesulitan untuk melakukan bunuh diri sama persis dengan kesulitan meninggalkan tanah air.

Meninggalkan tanah air bagi sebagian orang yang berakal adalah perkara yang sangat sulit sekali sama seperti sakitnya bunuh diri. Hal ini menunjukkan bahwa mencintai tanah air merupakan perkara yang sangat dalam maknanya pada setiap diri manusia.

Cinta Tanah Air Menurut Mufassir Imam Mulla Ali Al-Qari

Imam Mulla Ali Al-Qari dalam Mirqat Al-Mafatih mengatakan:” meninggalkan tanah air adalah ujian yang sangat berat karena pembusukan yang disebut di dalam firman Allah ta’ala: “fitnah lebih kejam daripada pembunuhan” dalam surat Al Baqarah ayat 191 ditafsirkan dengan mengeluarkan seseorang dari tanah airnya karena ayat ini urutannya adalah setelah firman Allah ta’ala : “dan usirlah mereka dari tempat mereka telah mengusir kamu” di dalam surat Al Baqarah ayat 191.

Baca juga: biografi Imam Syafi’i, formulator fikih pembela sunnah

Oleh karena itu setiap ayat yang berbicara mengenai keutamaan hijrah maka pengertiannya dikembalikan ke pokok ini yaitu bersabar menahan sakitnya meninggalkan tanah air tercinta. Ini menunjukkan adanya sebuah makna yang mulia di dalam cinta tanah air begitu mulia makna ini sehingga seseorang dituntut untuk bersabar dalam menanggung kesulitan besar saat meninggalkan halaman tercinta.
Seorang penyair berkata:

“Kesabaran terasa sulit saat tiga hal melanda
Dan akal sehat pun tak mampu memikirkannya
Meninggalkan tanah air tercinta secara terpaksa
Berpisah dengan sahabat dan kehilangan orang tercinta”.

 

Cinta Tanah Air Dalam Perspektif Hadis Dan Para Pesyarahnya

Cinta Tanah Air
Sumber: Bangkitmedia.com

Diriwayatkan oleh Imam Bukhari, Ibnu Hibban dan Imam At Tirmidzi dari hadits Anas radhiAllahu anhu bahwa Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wasallam ketika kembali dari bepergian dan melihat dinding-dinding kota madinah beliau mempercepat laju untanya dan jika beliau menunggangi unta maka beliau menggerakkannya -untuk mempercepat- karena kecintaan beliau kepada Madinah

Hadits yang mulia ini menceritakan tentang perbuatan baginda Nabi Shallallahu alaihi wasallam yang maksum dan mendapatkan wahyu yang dibarengi dengan getaran hati beliau. Di balik perbuatan itu ada ilham dan wahyu akan kecintaan dan kerinduan hati kepada kampung halaman. Sehingga Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam menggerakkan untanya ke Madinah Al Munawaroh setelah kembali dari bepergian untuk melihat dinding-dinding bangunan karena kecintaan beliau kepada kota Madinah.

Cinta Tanah Air Menurut Al Hafidz Ibnu Hajar

Oleh karena itu Al Hafidz Ibnu Hajar dalam kitabnya Fathul Bari berkata: “hadits ini menunjukkan akan keutamaan Madinah serta disyariatkannya cinta tanah air. Hal senada juga diungkapkan oleh Imam Al Badrul Aini dalam Umdah Al-Qari.
Hadits yang mulia ini menunjukkan akan sebuah sunnah Nabi Shallallahu alaihi wasallam sunah yang sama dengan sunah-sunah lainnya yang berkaitan dengan ibadah, etika dan akhlak, pekerjaan dan keahlian dan yang berkaitan dengan hubungan antar bangsa. Serta sunnah-sunnah beliau lainnya yang membentuk kepribadian seseorang manusia muslim yang sempurna.

Cinta Tanah Air Menurut Al Hafiz Al Zahabi

Al Hafiz Al Zahabi dalam Siyar A’lam An-Nubala mengatakan Nabi Shallallahu alaihi wassalam mencintai Aisyah dan ayahnya (Abu Bakar) mencintai Usamah dan kedua cucu beliau Hasan dan Husein mencintai manisan dan madu mencintai gunung Uhud dan tanah air beliau, mencintai kaum anshar dan hal-hal lainnya yang jumlahnya tidak terhitung yang dibutuhkan oleh seorang mukmin.

Bahkan para ulama menjadikan cinta tanah air sebagai illah (sebab) beratnya perjalanan secara mutlak. Sehingga sebagian besar hadits berpendapat demikian ketika menafsirkan hadis yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan At Thabrani dari hadits Abdullah Bin Amir Al Juhani bahwasanya Nabi Shallallahu alaihi wasallam bersabda:

ثلاثة يستجاب دعوتهم : الوالد لولده، والمسافر ، والمظلوم على ظالمه

Ada tiga orang yang doanya pasti dikabulkan yaitu doa orang tua kepada anaknya musafir dan orang yang teraniaya terhadap orang yang menganiayanya.

Para ulama yang ahli hadits memberikan alasan tentang sebab dikabulkannya doa orang tersebut salah satunya orang musafir. Yaitu penderitaannya yang meliputi kekurangan bekal, kekurangan kebutuhan dan kesediaan karena meninggalkan rumah, tanah air dan keluarganya.

Cinta Tanah Air Menurut Imam Al Munawi

Imam Al Munawi dalam kitabnya Faidl Al Qadir ketika menjelaskan hadist tersebut mengatakan bepergian akan menyebabkan hati hancur karena meninggalkan tanah air dalam waktu yang lama. Menanggung kesulitan dan hancurnya hati termasuk penyebab terbesar terkabulnya doa.

Sebagian orang bijak mengatakan bahwa mencintai tanah air termasuk dari kelembutan hati kelembutan hati bagian dari perhatian dan perhatian termasuk dari kasih sayang sedangkan kasih sayang termasuk kemuliaan fitrah dan kemuliaan fitrah merupakan kesucian hidayah.

Allah ta’ala memberikan fitrah kepada seluruh manusia untuk mencintai tanah airnya. Allah subhanahu wa ta’ala juga telah menitipkan ketenangan dan kelapangan di dalam jiwa seluruh makhluk hidup. Bahkan siapapun yang merenungkannya pasti akan mengetahui bahwa hal itu terdapat pada seluruh jenis makhluk hidup. Singa dan anaknya akan kembali ke sarangnya unta akan mencintai kandangnya serta semut dan burung mencintai sarangnya. Sedangkan manusia secara fitrah sangat mencintai tanah airnya Ibnu Al Jauzi dalam kitab Mautsir Al-Gharam berkata:”tanah air selamanya tercinta.

Jika seluruh jenis makhluk hidup di sekitar kita meskipun mereka tidak dapat berbicara dengan kita. Namun dengan memperhatikan karakter dan kondisinya terbukti mereka sangat setia dan mencintai tempat asalnya. Maka seharusnya manusia lebih berhak untuk berbuat demikian daripada makhluk-makhluk lainnya. Karena manusia memiliki banyak keistimewaan yang menjadikannya sebagai makhluk dengan berbagai akhlak mulia. Terutama loyalitas dan harga diri sehingga ahmad syauqi rahimahullahu ta’ala berkata:

Tanah air dalam darah setiap orang merdeka
Memiliki jasa dan hutang yang harus dibayar

Berkenaan dengan hal itu saya ingin mengatakan bahwa manusia karena kesempurnaan sifatnya lebih berhak daripada makhluk-makhluk itu untuk memiliki loyalitas kepada tanah air serta mencintai dan menjaganya.

Dikutip dari buku : Islam Radikal (telaah kritis radikalisme dari ihwanul muslimin hingga ISIS).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: