Biografi Imam Malik Bin Anas Imam Dar Al-Hijrah

7 min read

Biografi Imam Malik Bin Anas

Biografi Imam Malik Bin Anas Imam Dar Al-Hijrah – AIhamdulillah, masih dengan kangsantri.id dalam serial sejarah biografi tokoh-tokoh ulama salaf. Kalau sebelumnya membahas mengenai biografi Imam Abu Hanifah, sekarang akan dijelaskan biografi seorang imam dan panutan bagi orang-orang yang berada di Dar Al-Hijrah. Dia adalah Malik bin Anas. Malik bagaikan bintang bagi ulama-ulama hadits, pewaris ilmu Nabi dan penjaga sunah yang ada di Madinah.

Biografi Imam Malik Bin Anas

Biografi Imam Malik Bin Anas

Imam Adz-Dzahabi berkata, “Imam Malik merupakan pimpinan orang-orang salaf dan tokoh ulama yang mempunyai sifat-sifat menonjol seperti rasamalu, berparas tampan, hamba yang giat. Rumah tangganya membanggakan,banyak dikaruniai nikmat dan mempunyai derajat yang tinggi di dunia dana khirat.

Imam Malik mau menerima hadiah, memakan makanan yang halal dan mengerjakan pekerjaan yang baik. Abu Mush’ab berkata, “Pada suatu hari orang-orang berdesak-desakan di pintu rumah Imam Malik. Karena banyaknya orang, mereka saling dorong-mendorong. Sedang kami bersamanya dan dia tidak berbicara sesuatu apapun atau menoleh ke suatu arah tertentu.

Orang-orang mendongakkan kepalanyaagar bisa melihat Malik, menanyakan sesuatu kepadanya dan mendengarkan pembicaraannya. Dan dia hanya menjawab, “Tidak atau ya. Meski begitu, tidak ada seorang pun yang menanyakan dasar jawabannya itu”. Mempelajari biografi Imam Malik akan mengetahui sebab-sebab yang menjadikannya orang besar dan terhormat, sebagaimana dari serial sejarah bigrafi ulama-ulama salaf yang lain.

Sesungguhnya Malik sangat menghormati hadits. Jika dia ingin membicarakannya, maka dia mandi terlebih dahulu. Memakai wangi-wangian, merapihkan jenggotnya, duduk dengan baik, dan dia tidak akan berhenti berbicara kecuali pembahasannya telah selesai.

Motivasi Imam Malik dalam belajar

Benarlah ucapan yang mengatakan “Barangsiapa memuliakan agama Allah, maka Dia akan memuliakannya. Dan barangsiapa menolong agama Allah maka Dia akan menolongnya. Allah telah berfirman,

“Sesungguhnya Allah pasti menolong orang yang menolong (agama)-Nya.”(Al-Hajj: 40)

Karena ayat di atas inilah, maka Imam Malik sangat giat dalam menolong Sunnah dan memerangi orang-orang yang menuruti hawa nafsunya danberbuat bid’ah. Dan, karena ayat di atas dia juga sangat berhati-hati dalam meriwayatkan hadits.

Malik tidak meriwayatkan kecuali dari orang yang bisa dipercaya dan orang yang sudah dikenal dengan periwayatnnya bahwa dia adalah ahli hadits.

Malik pernah berkata, “Tidak akan diterima ilmu yang berasal dari empat orang. Yaitu orang yang suka menumpahkan darah dan dia merasa banggadengan tindakannya itu, meskipun banyak orang yang meriwayatkan darinya; orang yang berlaku bid’ah dan mengajak kepada orang lain; dariorang yang mendustakan hadits kepada orang-orang; dan dari orang yangsaleh yang banyak melakukan ibadah dan mempunyai kehormatan, namundia tidak hafal terhadap hadits yang dibicarakan.

Dari sinilah diketahui bahwa sanad yang paling shahih adalah sanad dari Malik dari Nafi’ dari Ibnu Umar. Dan kitab yang paling shahih dalam meriwayatkan hadits pada zamannya adalah AI-Muwaththa’ karangan Imam Malik, sebagaimana dikatakan Imam Asy-Syafi’i sebelum munculnya kitab Shahihain. Semoga Allah mengampuninya dan mengampuni kita semua dan memasukan ke dalam surga-Nya yang tinggi. Amin.

Nama, Kelahiran dan Sifat-sifatnya

Nama Lengkap Imam Malik

Adalah Malik bin Anas bin Malik bin Abi Amir bin Amr bin Al-Harits bin Ghaiman bin Khutsail bin Amr bin Al-Harits Al-Ashbahi Al-Humairi. Abu Abdillah Al-Madani dan merupakan imam Dar Al-Hijrah.

Nenek moyang mereka berasal dari Bani Tamim bin Murrah dari suku Quraisy. Malik adalah sahabat Utsman bin Ubaidillah At-Taimi, saudara Thalhah bin Ubaidillah.

Kelahirannya

Adz-Dzahabi berkata, “Menurut pendapat yang lebih shahih, Imam Malik lahir pada tahun 93 Hijriyah, yaitu pada tahun dimana Anas, pembantu Rasulullah, meninggal. Malik tumbuh di dalam keluarga yang bahagia dan berkecukupan.

Sifat-sifatnya

Dari Mathraf bin Abdillah, dia berkata, “Malik bin Anas mempunyai perawakan tinggi. Ukuran kepalanya besar dan botak, rambut kepala dan jenggotnya putih. Sedang kulitnya sangat putih hingga kelihatan agak pirang.

Dari Isa bin Umar Al-Madani, dia berkata, “Aku tidak pernah melihat ada orang yang mempunyai kulit putih dan mempunyai wajah yang kemerah-merahan, sebagus yang dimiliki Malik. Dan aku tidak melihat pakaian yang lebih putih dari pakaian yang dikenakan Malik.

Dari Abdurrahman bin Mahdi, dia berkata, “Aku tidak melihat ada orang yang lebih mulia dari Malik, dan aku tidak melihat ada orang yang lebih sempurna akal dan ketakwaannya dari Malik,”

Mulai Menuntut llmu dan Sanjungan Para Ulama Terhadapnya

Adz-Dzahabi berkata, “Malik mulai menuntut ilmu ketika umurnya menginjak belasan tahun, sedang Malik mulai memberikan fatwa dan memberikan keterangan tentang hukum ketika umurnya 21 tahun.

Dan, orang-orang telah mengambil hadits darinya di saat dia masih muda belia. Orang-orang dari berbagai penjuru sudah mulai menuntut ilmu kepadanya sejak pada akhir kekuasaan Abu Ja’far Al-Manshur.

Orang-orang mulai ramai menuntut ilmu kepadanya ketika pada zaman khalifah Ar-Rasyid sampai Malik meninggal. Dari Abdullah bin Al- Mubarak, ia mengatakan,” Saya tidak memandang terdapat orang yang memiliki perawakan besar semacam Malik bin Anas, ia tidak banyak melaksanakan shalat serta puasa, tetapi ia memiliki jiwa yang luhur.

Abdullah bin Ahmad mengatakan, Saya bertanya kepada ayahku,” Di antara sahabat- sahabat Az- Zuhri, siapakah yang sangat shahih haditsnya?” bapak menanggapi,” Malik lebih shahih dalam seluruh perihal.

Imam Asy- Syafii pula mengatakan” Kalau menyebut tentang para ulama, hingga Malik merupakan bintangnya. Dari Ibnu Uyainah, ia mengatakan,” Malik merupakan cendekiawannya penduduk Hijaz serta hujjah pada zamannya.

Adz- Dzahabi mengatakan,” Cendekiawan yang terdapat di Madinah sehabis Rasulullah serta para teman- temannya merupakan Zaid bin Tsabit, Aisyah, Ibnu Umar. Said bin Musayyab, Az- Zuhri, Ubaidillah bin Umar setelah itu Malik.Adz-Dzahabi berkata demikian karena setelah periode generasi Tabi’in. Tidak ada orang yang bisa menyamai keunggulan Malik, baik dalam hal ilmupengetahuan, ilmu fikih, kemuliaan dan kekuatan hafalan. Padahal, pada periode itu ada orang-orang besar seperti Said bin Musayyib, ulama fikih yang berjumlah tujuh, Qasim, Salim, Ikrimah, Nafi’ dan orang-orang yang hidup sezaman dengannya.

Kemudian ada Zaid bin Aslam,Ibnu Syihab, Abu Az-Zinad, Yahya bin Said, Shafwan bin Sulaim. Rabi’ah binAbi Abdirrahman dan orang-orang yang sezaman dengannya. Namun ketika mereka dipertemukan maka yang akan muncul dan unggul adalah Malik.

Di antara mereka juga ada Ibnu Abi Dza’ab, Abdul Aziz bin Al-Majisyun, Pulaih bin Sulaiman, Ad-Darawardi dan orang-orang yang hidupsezaman dengannya, dan jika mereka semua di pertemukan maka secara mutlak Malik-lah yang lebih unggul.”

Kemuliaan Jiwanya dan Penghormatannya Terhadap Hadits Nabi

Dari Ibnu Abi Uwais, dia berkata, “Jika Malik ingin menceritakan sebuah hadits, maka dia berwudhu terlebih dahulu. Merapikan jenggotnya, duduk dengan tenang dan sopan. Kemudian dia baru berbicara.

Seseorang bertanya tentang hal itu kepadanya, Malik menjawab, “Aku ingin memuliakan Hadits Rasulullah, dan aku tidak mau menceritakan suatu hadits kecuali aku dalam keadaan suci dan tenang.

Malik tidak suka berbicara di jalan, sedang dia dalam keadaan berdiri atau sedang tergesa-gesa. Dia telah berkata, “Aku ingin orang-orang faham terhadap apa yarg amsampaikan tentang hadits dari Rasulullah .”

Akhlak Imam Malik dalam menuntut ilmu

akhlak biografi imam malik
Sumber: caironewss.com

Dari Ma’an bin Isa, dia berkata, “Jika Malik bin Anas ingin menceritakan sebuah hadits maka dia mandi terlebih dahulu, memakai wangi-wangian. Ketika ada yang mengeraskan suara pada majelisnya maka dia akan memarahinya. Dia telah berkata, “Allah telah berfirman,

“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu meninggikan suaramu melebihi dari suara Nabi.” (Al-Hujurat: 2)

Maksud dari ayat di atas adalah barangsiapa meninggikan suara ketika hadits Nabi sedang dibacakan, maka dia seperti meninggikan suaranya atas suara Nabi ketika beliau masih hidup.

Dari Umar bin Al-Mihbar Ar-Ra’ini, dia berkata, “Setelah Al-Mahdi datang ke Madinah, dia mengutus seseorang untuk mendatangkan Malik, dan Malik pun datang memenuhi panggilannya.

Al-Mahdi berkata kepada Harun dan Musa, “Perdengarkan suatu hadits dari Malik.”Maka, kedua orang ini mendatangi Malik. Namun Malik tidak mau menjawab, setelah kedua orang itu memberitahukan kepada Malik tentang siapa jati diri Al-Mahdi, maka Malik berkata kepada Al-Mahdi,”Wahai Amirul Mukminin, ilmu itu diberikan kepada orang yang sudah ahlinya.

Amirul Mukminin berkata, “Telah benar perkataan Malik, ikutilah dia.” Mereka pun mengikuti perkataan Malik.Seorang guru kerajaan berkata kepada Malik, “Bacakanlah suatu hadits untuk kami? “Malik menanggapi,” Sebetulnya, di Madinah murid- muridnya yang membacakan kepada gurunya, sebagaimana seseorang anak yang belajar membacakan kepada gurunya, bila mereka bersalah hingga si guru hendak membenarkannya.

Maka orang-orang meminta pendapat Al-Mahdi, lalu Al-Mahdi mempersilahkan Malik untuk melanjutkan berbicara. Imam Malik berkata”Aku mendengar Ibnu Syihab berkata, “Kami mengumpulkan ilmu ini kepada sekelompok orang.

Malik menambahkan,” Wahai Amirul Mukminin, mereka ialah Said bin Musayyib, Abu Salamah, Urwah, Al- Qasim, Salim. Kharijah bin Zaid, Sulaiman bin Yasar, Nafi’, Abdurrahman bin Hurmuz. Dan orang-orang setelah generasi mereka adalah Abu Az-Zinad, Rabi’ah, Yahya bin Said dan Ibnu Syihab.

Mereka semua membacakan hadits-hadits kepada sebagian yang lain.Amirul Mukminin berkata, “Pada diri mereka terdapat suritauladan, makabacakan kepadanya” dan mereka pun melakukannya.

Guru dan Murid-muridnya

Biografi Imam Malik yang diriwayatkan An-Nawawi. An- Nawawi mengatakan,” Al- Imam Abu Al- Qasim Abdul Malik bin Zaid binYasin Ad- Daulaqi dalam kitab Ar- Risalah Al- Mushannafah fi Bayani Subulissunnah. berkata, “Al-Imam Abu Al-Qasim Abdul Malik bin Zaid binYasin Ad-Daulaqi dalam kitab Ar-Risalah Al-Mushannafah fi Bayani Subulissunnah. Al-Musyarrafah berkata, “Malik mengambil hadits dari sembilan ratus orang guru. Yaitu tiga ratus orang dari generasi Tabi’in dan enam ratus orang dari generasi Tabi’ Tabi’in.

Guru-guru Malik adalah orang-orang yang dia pilih, dan pilihan Malik didasarkan pada ketaatannya beragama, ilmu fikihnya. Cara meriwayatkan hadits, syarat-syarat meriwayatkan dan mereka adalah orang-orang yang bisa dipercaya.

Malik meninggalkan perawi yang banyak mempunyai hutang dan suka mendamaikan yang mana riwayat-riwayat mereka tidak dikenal. Adz- Dzahabi mengatakan,” Pertama kalinya Malik mencari ilmu pada tahun 120 Hijriyah, ialah tahun dimana Hasan Al- Bashri wafat.

Malik mengambil hadits dari Nafi’ yaitu orang yang tidak bisa ditinggalkannya dalam periwayatan. Juga, dari Said Al-Maqburi, Nu’aim Al-Mujammar, Wahab bin Kaisan,Az-Zuhri, Ibnu Al-Munkadir. Amir bin Abdillah bin Az-Zubair, Abdullah bin Dinar, Zaid bin Aslam, Shafwan bin Salim. Ishaq bin Abi Thalhah, Muhammad bin Yahya bin Hibban, Yahya bin Said. Ayyub As-Sakhtiyani, Abu Az-Zinad, Rabi’ah bin Abi Abdirrahman dan banyak lagi orang-orang selain mereka dari ulama-ulama Madinah.

Malik jarang meriwayatkan hadits dari orang-orang yang berasal dari luar Madinah.”Sedangkan, orang-orang yang meriwayatkan dari Malik dan mereka termasuk guru-gurunya adalah Az-Zuhri, Rabi’ah, Yahya bin Said dan yang lain.

Sedangkan, dari orang-orang yang hidup sezaman dengan Malik adalah Al-Auza’i, Ats-Tsauri, Al-Laits dan yang lain.ASelain mereka, orang-orang yang meriwayatkan dari Malik adalah IbnuAl-Mubarak, Yahya bin Said Al-Qaththan, Muhammad bin Al-Hasan, IbnuWahab, Ma’an bin Isa, Asy-Syafi’i.

Abdurrahman bin Mahdi, Abu Mashar,Abu ‘Ashim, Abdullah bin Yusuf At-Tunisi, Al-Qa’Nabi. Said bin Manshur,Yahya bin Yahya, Yahya bin Yahya Al-Qurthubi, Yahya bin Bakir, An-Nufaili,Mush’ab Az-Zubaidi, Abu Mush’ab Az-Zuhri, Qutaibah bin Said, Hisyam binAmmar, Suwaid bin Said, ‘Utbah bin Abdillah Al-Maruzi, Ismail bin MusaAs-Saddi dan orang-orang lain seperti Ahmad bin Ismail As-Sahmi.”

Al-Muwaththa’ Karangan Imam Malik dan Keunggulannya

Biografi Imam Malik bin Anas dalam periwayatan hadits yang diutarakan Al-Qadhi Abu Bakar bin Al-Arabi berkata. “Al-Muwaththa` adalah dasar utama dan inti dari kitab-kitab hadits, sedang karya Al-Bukhari adalah dasar kedua, dan dari keduanya muncul kitab yang menjadi penyempurna, seperti karya Imam Muslim dan At-Tirmidzi.

Imam Malik mengarang Al-Muwaththa’ bertujuan untuk mengumpul kanhadits-hadits shahih yang berasal dari Hijaz, dan di dalamnya disertakan pendapat-pendapat dari para sahabat, tabi’in dan tabi’ tabi’in.

Malik telah mengumpulkan hadits-hadits dalam Al-Muwaththa’ sebanyak sepuluh ribu hadits. Malik senantiasa meneliti hadits-hadits tersebut setiap tahunnya, dan banyak hadits yang ter-eliminasi, sehingga hanya tersisa seperti yang ada sekarang.

Ibnu Abdul Bar menceritakan dari Umar bin Abdil Wahid, teman Al-Auza’i, dia berkata, “Aku memperlihatkan Al-Muwaththa kepada Malik setiap empat puluh hari sekali. Dia pernah berkata, “Kitab ini aku tulis selama empat puluh tahun. Dan aku mengoreksinya setiap empat puluh hari sekali,tidak ada hadits yang ada di dalamnya yang tidak aku pahami.

Malik juga berkata, “Aku telah memperlihatkan kitabku ini kepada 70 ulama fikih yang ada di Madinah. Mereka semua memberikan masukan dan menyetujuinya (watha’a). Maka aku menamakannya dengan Al-Muwattaha”.

Ibnu Abdul Bar telah mengarang kitab yang meneliti isi Al-Muwaththa’. Dia menjelaskan hadits-hadits Mursal, Mun’qati’ dan Mua’dhal. Dia berkata, “Didalamnya ada redaksi “Ballighni” dan redaksi “”An Tsiqah” yang belum diketahui sanadnya sebanyak 61 hadits. Semua sanadnya bukan dari Malik, dan ada empat hadits yang tidak diketahui sanadnya.

Ibnu Shalah telah mengarang satu kitab yang di dalamnya hanya membahas empat hadits tersebut. Prof. Muhammad Fuad Abdul Baqi’ berkata, “Mengherankan, kalau Ibnu Shalah mengatakan bahwa semua hadits yang ada di dalam Al-Muwaththa sanadnya sampai kepada Rasulullah. Sehingga empat hadits yang diutarakan Abdul Bar itu bukan merupakan hadits Mauquf.

Ibnu Shalah juga mengatakan bahwa hadits-hadits yang ada di dalam Al-Muwaththa’ adalah hadits shahih dan dia merupakan kitab dasar. Dan dikatakan bahwa manhaj dan periwayatan yang digunakan dalam Shahihain hampir sama dengan yang digunakan Malik.

Ahmad Syakir berkata, “Sesungguhnya Malik tidak menyebutkan sanad. Sebagaimana yang dikatakan Al-Fallani. Ibnu Shalah mengatakan bahwa hadits-hadits yang ada di Al-Muwaththa adalah sampai kepada Rasulullah.

Meninggalnya Imam Malik

Dalam biografi Imam Malik berusia 89 tahun, dan meninggal pada tahun 179 Hijriyah.”Ismail bin Abi Uwais berkata, “Malik telah sakit dan meninggal, dan aku bertanya kepada keluarganya tentang apa yang dikatakan Malik ketika dia menghadapi sakaratul maut.

Mereka menjawab, “Malik mengucapkan dua syahadat kemudian dia membaca ayat Al-Qur’an yang artinya,”Bagi Allah-lah urusan sebelum dan sesudah (mereka menang).” (Ar-Rum: 4)

Malik meninggal di waktu shubuh pada tanggal 14 Rabiul Awal tahun179 Hijriyah. Orang-orang telah mengantarkan jenazahnya sampai di kuburnya. Malik meninggalkan wasiat agar dikafani dengan kain putih dan dishalatkan di atas tempat janazah.

Kemudian dia berjalan di depan jenazahnya dan memberikan kafan kepadanya seharga lima dinar. Ibnu Al-Qasim berkata, “Malik meninggalkan seratus budak perempuan. Belum lagi yang lain.”Ibnu Abi Uwais berkata, “Setelah Malik meninggal, perkakas yang ditinggalkan dijual dan hanya seharga lima ratus dinar.

Biografi Imam Malik Bin Anas Disarikan dari buku 60 Biografi Ulama Salaf

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.