Biografi Imam An-Nawawi

10 min read

Biografi Imam An-Nawawi

Biografi Imam An-Nawawi – dalam pembahasan pada kali ini kita akan mempelajari mengenai biografi Imam An-Nawawi yang lahir di Damaskus. saya tekankan bahwa pembahasan pada kali ini bukan Syekh Nawawi yang lahir di daerah Banten.

Imam An-Nawawi adalah ulama yang paling banyak mendapatkan cinta dan Lsanjungan makhluk. Orang yang mempelajari biografinya akan melihat adanya wira’i, zuhud, kesungguhan dalam mencari ilmu yang bermanfaat, amal saleh, ketegasan dalam membela kebenaran dan amar makruf, nahi mungkar, takut dan cinta kepada Allah dan kepada Rasul-Nya.

Semua itu menjelaskan rahasia mengapa ia dicintai oleh banyak orang. Imam An-Nawawi telah melebihi ulama-ulama yang semasa dengannya. Menurut pendapat yang rajih, ia meninggal dunia sementara umurnya tidak lebih dari 45 tahun.

Biografi Imam An-Nawawi

Biografi Imam An-Nawawi

Ia telah meninggalkan berkas-berkas, ketetapan-ketetapan dan kitab-kitab ilmiah yang berbobot. Dengan peninggalan-peninggalan tersebut, ia telah menunjukkan bahwa ia melebihi ulama-ulama dan imam- imam pada masanya.

Ini adalah biografi Imam An-Nawawi yang aku hadiahkan kepada saudara-saudara kami yang sedang mencari ilmu. Barangkali biografi tersebut menjadi faktor pendorong semangat mereka dalam menuntut ilmu, zuhud dari dunia fana dan suka melakukan amal akhirat yang kekal.

Imam An-Nawawi telah menikah dengan ilmu-ilmu yang bermanfaat, rela dengan pondok yang disediakan untuk para siswa, merasa puas dengan makanan roti Al-Ka’k dan buah Tin.

Ia memanfaatkan semua waktu dan tenaganya untuk melayani umat Islam. Ia memakai pakaian tambalan dan tidak menghiraukan dengan perhiasan dunia, agar mendapatkan ridha Sang Raja Maha Pemberi.

Ia tidak mendapatkan sesuatu dari perhiasan dunia dan syahwatnya, tidak pula dunia mendapatkan sesuatu darinya. Semua hidupnya hanyalah untuk Allah . Ia terus menuntut ilmu, ibadah, zuhud, menyusun karya dan mengajar sampai meninggalkan dunia.

Semoga Allah memberikan rahmat yang luas kepadanya dan memasukkannya dan kami dalam surga yang tinggi yang buah-buahannya dekat. Semoga shalawat, salam dan berkah selalu tercurah kepada Nabi Muhammad, keluarganya dan sahabat-sahabatnya.

Nama, Panggilan, Gelar, Kelahiran dan Sifat-sifatnya

Nama Lengkap Imam An-Nawawi

Nama lengkap Imam An-Nawawi

Nama lengkap Imam An-Nawawi Adalah Yahya bin Syaraf bin Muri bin Hasan bin Husain bin Muhammad bin Jum’ah bin Hizam Al-Hizam Al-Haurani Ad-Dimasyqi Asy- Syafi’i.

Panggilan Imam An Nawawi

Nama panggilan beliau adalah Abu Zakaria. Namun panggilan ini tidak sesuai dengan aturan yang biasa berlaku. Para ulama telah menganggapnya sebagai suatu kebaikan sebagaimana yang dikatakan Imam An-Nawawi dalam Al-Majmu’.

“Disunnahkan memberikan panggilan kunyah kepada orang-orang yang saleh baik dari kaum lelaki maupun perempuan, mempunyai anak atau tidak mempunyai anak. Memakai panggilan anaknya sendiri atau anak orang lain, dengan Abu Fulan atau Abu Fulanah bagi seorang lelaki dan Ummu Fulan atau Ummu Fulanah bagi seorang perempuan.

Adapun Imam An-Nawawi dijuluki Abu Zakaria karena namanya adalah Yahya. Orang Arab sudah terbiasa memberi julukan Abu Zakaria kepada orang yang namanya Yahya karena ingin meniru Yahya Nabi Allah dan ayahnya, Zakariya Alaihuma As-Salam, sebagaimana juga seseorang yang namanya Yusuf dijuluki Abu Ya’qub, orang yang namanya Ibrahim dijuluki Abu Ishaq dan orang yang namanya Umar dijuluki Abu Hafsh. Pemberikan julukan seperti di atas tidak sesuai dengan aturan yang berlaku sebab Yahya dan Yusuf adalah anak bukan ayah, namun gaya pemberian julukan seperti itu sudah biasa didengar dari orang-orang Arab.

Gelar Imam An-Nawawi

Gelar yang disematkan oleh umat muslim kepadanya adalah Muhyiddin. Namun, ia sendiri tidak senang diberi gelar ini. Al-Lakhami mengatakan, “Diriwayatkan secara shahih bahwasanya Imam An-Nawawi mengatakan, “Aku tidak senang dengan julukan Muhyiddin yang diberikan orang kepadaku.”

Ketidak-sukaan itu disebabkan rasa tawadhu’ yang tumbuh pada diri Imam An-Nawawi, meskipun sebenarnya dia pantas diberi julukan tersebut karena dengan dia Allah menghidupkan sunnah, mematikan bid’ah, menyuruh melakukan perbuatan yang makruf, mencegah perbuatan yang mungkar dan memberikan manfaat kepada umat Islam dengan karya- karyanya. Allah-lah yang sebenarnya memperlihatkan julukan sehingga diketahuilah posisi Imam An-Nawawi dengan disebutkannya julukan tersebut. Dalam sebuah hadits disebutkan, “Apabila Seseorang tawadhu’ kepada Allah, maka Allah akan mengangkat derajatnya.

Kelahiran Imam An-Nawawi

An-Nawawi dilahirkan pada bulan Muharram tahun 631 Hijriyah dan wafat pada tahun 24 Rajab 676 H. sesuai dengan kesepakatan para sejarahwan.

Sifat-sifat Imam An-Nawawi

Adz-Dzahabi mengatakan, “Imam An-Nawawi berkulit sawo matang, berjenggot tebal, berperawakan tegak, berwibawa, jarang tertawa, tidak bermain-main, dan terus bersungguh-sungguh dalam hidupnya.

Ia selalu mengatakan yang benar, meskipun hal itu sangat pahit baginya dan tidak takut hinaan orang yang menghina dalam membela agama Allah.” Imam Adz-Dzahabi juga menyifatinya bahwa jenggotnya hitam namun ada beberapa rambut putih yang terlihat, penampilannya teduh dan prilakunya tenang.

Adapun mengenai pakaiannya, maka Adz-Dzahabi dalam Tarikh Al-Islam mengatakan, “Imam An-Nawawi mengenakan pakaian sebagaimana para ahli fikih di Hauran mengenakannya, namun ia tidak terlalu memperhatikan masalah berpakaian.

Dalam Tadzkirah Al-Huffazh, Imam Adz-Dzahabi mengatakan, “Imam An- Nawawi memakai pakaian berkualitas rendah dan tidak pernah memasuki pemandian umum. Sementara, ibunyalah yang mengirim pakaian dan barang- barang lain yang diperlukannya.”?

Perkembangan Hidup dan Upayanya dalam Mencari Ilmu

Saat Imam An-Nawawi sudah mencapai umur tamyiz (kurang lebih delapan tahun), Allah membimbingnya agar nantinya mengemban syariat Islam yang suci. Pada saat berumur tujuh tahun, Allah sudah memperlihatkan tanda-tanda bimbingan-Nya kepadanya.

Hal itu terjadi pada malam dua puluh tujuh Ramadhan, yaitu ketika ia tidur di samping ayahnya – sebagaimana yang diriwayatkan Ibnu Al-Aththar dari orangtua Imam An- Nawawi- tersingkap rahasia Allah dalam bulan Ramadhan yang diberkahi yang mana rahasia itu disembunyikan dari kebanyakan orang.

Rahasia tersebut tidak lain adalah Lailatul Qadar. Pada saat tengah malam, Imam An-Nawawi yang masih kecil itu terbangun. Namun, ia kaget dengan cahaya yang memenuhi rumahnya yang biasanya gelap gulita.

Karena masih kecil, ia belum mengerti bahwa malam tersebut adalah malam yang diberkahi, malam yang paling diharapkan Lailatul Qadarnya, sebagaimana pendapat jumhur ulama.

Melihat peristiwa aneh ini, ia segera membangunkan ayahnya untuk menanyakan kepadanya peristiwa aneh tersebut. Ia berkata, “Wahai ayah, apakah cahaya yang memenuhi rumah ini?” Semua keluarganya ikut bangun.

Namun, mereka tidak melihat apapun. Ayah An-Nawawi akhirnya mengetahui bahwa malam tersebut adalah malam Lailatul Qadar.

Barangkali Allah menyingkap rahasia tersebut agar kedua orangtuanya dan keluarganya menghidupkan malam tersebut dengan ibadah dan merendah diri kepada Allah.

Barangkali doa yang baik yang dikabulkan menjadi sebab kebahagiaan An-Nawawi di dunia dan akhirat. Peristiwa itu terjadi dengan taufik Allah Esa. Maka, ayahnya merasa bahwa anaknya akan menjadi orang besar pada masa yang akan datang.

Ayahnya telah menanamkan dalam hati An-Nawawi sumber segala kebaikan dan keutamaan, yaitu Al-Qur’an. Ayahnya mengajaknya pergi menuju ke sekolah tempat anak-anak belajar.

Biografi Imam An-Nawawi, Upayanya dalam Mencari Ilmu

Semangat Imam An-Nawawi dalam mencari ilmu

Imam An-Nawawi mengikuti pelajaran dengan baik. Yaitu dengan telinga yang peka dan hati yang menjaga. Ketika Imam An-Nawawi sudah terbius dengan Al-Qur’an. Ia tidak rela meninggalkan waktunya sia-sia tanpa membaca dan menghafal Al-Qur’an.

Naluri anak-anak untuk bersuka-ria tidak mampu mengalahkan kesibukanya membaca Al-Qur’an. Ia tidak suka segala sesuatu yang mengganggu kesibukan membaca Al-Qur’an.

Pada suatu hari, anak-anak kecil yang sebaya dengannya memaksanya untuk bermain dengan mereka. Ia berusaha lari dari paksaan itu, ia menangis karena mereka memaksanya bermain dengan mereka. Paksaan mereka itu tidak mampu manahannya untuk suka membaca Al-Qur’an Tiba-tiba, ada seorangtua yang berpenampilan saleh melihat peristiwa tersebut. Hatinya menjadi senang karena ia melihat seorang anak yang mempunyai prilaku yang berbeda dengan teman-teman sebayanya.

Pada saat itu, An-Nawawi belum genap berumur sepuluh tahun, suatu umur anak-anak yang kesukaannya hanya bermain-main dan bersuka-suka. Ayahnya pernah menempatkannya dalam sebuah toko.

Namun, meskipun dalam toko, ia tidak sibuk dengan jual belí tetapi sibuk dengan Al- Qur’an. Orangtua yang berpenampilan saleh tersebut meramalkan bahwa anak ini, jika diberi umur panjang, akan mempunyai keistimewaan.

Kemudian, orangtua saleh itu pergi menemuí pengajarnya dan berwasiat kepadanya dengan mengatakan, “Dia diharapkan akan menjadi orang yang paling alim dan paling zuhud pada masanya serta berguna bagi masyarakatnya.” Pengajarnya itu berkata, “Apakah kamu seorang peramal?” Orangtua saleh itu menjawab, “Tidak, akan tetapi Allah yang membuatku bicara seperti itu.

Dalam waktu empat bulan setengah, ia sudah hafal kitab At-Tanbih kemudian dílanjutkan dengan menghafal serempat kitab Al-Muhadzdzab. Ia terus bersama dengan Syaikh Kamaluddin Ishaq bin Ahmad Al-Magrabi, kemudian pergi haji bersama ayahnya.

Setiap hari, ia mempelajari dua belas pelajaran dengan guru- gurunya, baik dalam syarah, tashih, fikih, hadits, ushul, nahwu, bahasa dan lain-lain sampai ia mempunyai kecakapan yang tinggi dalam ilmu-ilmu tersebut dan diberkahi dalam umurnya meskipun pendek serta diberi ilmu yang banyak oleh Allah.

Sanjungan Para Ulama Terhadapnya

Murid Imam An-Nawawi, Ibnu Al-Aththar mengatakan, “Imam An- Nawawi adalah guruku dan panutanku yang mempunyai karya-karya yang bermanfaat dan terpuji, ulama yang tiada bandingannya pada masanya, orang yang banyak berpuasa, shalat, zuhud dari dunia, suka akhirat, pemilik akhlak yang terpuji dan kebaikan yang disukai.

la adalah seorang ulama yang disepakati oleh manusia dalam keilmuan, keimaman, keagungan, zuhud, kewara’an, ibadah, ucapan, perbuatan dan prilakunya. la juga mempunyai karamah yang tinggi dan jelas. Mengorbankan dirinya dan hartanya untuk kaum muslimin, memenuhi hak-hak umat Islam dan para pemimpin mereka dengan nasehat dan doa. Sungguh-sungguh dalam beramal, bekerja keras untuk memahami fikih sampai detil, berusaha keluar dari khilaf ulama, meskipun keluar jauh, mencapai derajat ahli tahqiq dalam ilmu dan segala yang bertalian dengannya.

la juga menghafal hadits Rasulullah , mengetahui macam-macam hadits dari shahih, dhaif, gharib (aneh) lafalnya, makna shahihnya, penggalian hukum fikih darinya, hafal madzhab Asy-Syafi’i berserta kaidah, pokok dan cabangnya.

Mengetahui madzhab para sahabat dan tabi’in, khilaf dan kesepakatan ulama serta pendapat yang masyhur dari mereka. Dalam semua itu, ia mengikuti madzhab salaf.

Ia telah menggunakan seluruh waktunya untuk beramal dengan bermacam-macam bentuknya, yaitu mengarang, mengajar, shalat, membaca dan tadabur Al-Qur’an. Dzikir kepada Allah dan menyuruh melakukan perbuatan yang makruf dan mencegah perbuatan yang mungkar.”

Syaikh Qutbuddin Musa Al-Yunini Al-Hambali mengatakan, “Imam An- Nawawi adalah ahli hadits, ahli zuhud, ahli ibadah, ahli wira’i, ulama yang dibanggakan ilmunya, pemilik karya-karya yang bermanfaat, ulama yang tiada duanya dalam kewara’an, kezuhudan, ibadah dan usaha keras dalam menulis kitab-kitab, Semua itu ia sertai dengan besarnya tawadhu’, kesederhanaan pakaian dan makanan, amar makruf dan nahi mungkar.”

Kehilangan dirinya adalah musibah dan ujian terbesar, bak panah-panah yang dilemparkan ke arah hamba-hamba Allah oleh sang pemanah. Semoga Allah memberikan rahmat kepadanya, memberikan manfaat kepada kita dengan barakahnya dan mengumpulkan kita bersamanya di akhirat, negeri kemuliaan.”

Sebab-sebab Kepandaiannya

Ustadz Ahmad Abdul Aziz Qasim mengatakan, “Ada baiknya kita menjelaskan secara rinci pembentukan kepribadian yang besar ini. Setelah mempelajari biografinya secara keseluruhan, aku melihat bahwa faktor-faktor yang membentuk kepribadian itu terbagi dalam dua macam, antarai lain:

Pertama

Faktor-faktor yang biasa dilakukan para pencari ilmu.

Hanya saja pelaksanaannya yang berbeda antara satu murid dengan murid yang lain seperti halnya perbedaan tujuan yang mereka inginkan. Tips Imam Nawawi dalam mencari ilmu tersebut adalah sebagai berikut:

  1. Melakukan perjalanan dalam mencari ilmu.
  2. Keberadaannya di Madrasah Ar-Rawahiyah.
  3. Bersungguh-sungguh dalam belajar.
  4. Banyak belajar dan mendengar.
  5. Banyak menghafal dan menelaah.
  6. Belajar dari guru-guru besar dan mendapat perhatian dari mereka.
  7. Tersedianya kitab-kitab secara lengkap.
  8. Sering mengajar.

Kedua

Faktor-faktor yang tidak biasa,

yaitu faktor bakat yang diberikan Allah kepada hamba yang dikehendaki-Nya seperti yang telah difirmankan-Nya,

“Allah menganugrahkan al-hikmah (kepahaman yang dalam tentang Al Qur’an dan As Sunnah) kepada siapa yang Dia kehendaki.” (AI-Baqarah: 269)

Namun, pemberian hikmah disyaratkan dengan takwa dan takut kepada- Nya. Allah berfirman,

واتقوا الله ويعلمكم الله

“Dan bertakwalah kepada Allah; Allah mengajarmu.” (Al-Baqarah: 282)

Ustadz Ahmad Abdul Qasim kemudian menjelaskan perincian faktor- faktor di atas, namun kami tidak mengutipnya secara sempurna karena sangat panjang dan memang kami hanya ingin yang ringkas saja.

Termasuk kutipan yang indah adalah permintaan maaf Al-Hafizh Ibnu As-Subki ketika diminta untuk menyempurnakan kitab Al-Majmu’.

Ia mengatakan sebagai berikut: “Bisa saja karena kemampuanku yang kurang, aku berbuat salah dan zhalim ketika aku menjelaskan kitabnya.

Bagaimana aku melakukan seperti yang telah ia lakukan, ia telah mendapatkan pertolongan serta takdir telah memihaknya sehingga pertolongan dan takdir tersebut mendekatkan apa yang jauh darinya.

Keahlian Imam An-Nawawi Dalam Menghasilkan Karya Besar

Tidak diragukan lagi bahwa untuk menghasilkan karya besar, setelah mempunyai keahlian membutuhkan tiga perkara:

Pertama

Hati yang tenang dan waktu yang luas. Dan, Imam An-Nawawi mempunyai hati yang tenang dan waktu yang luas. Ia tidak tersibukkan dengan kerja mencari rezeki dan mengurusi keluarga.

Kedua

Terkumpulnya kitab-kitab yang digunakan untuk mempelajari dan menelaah pendapat para ulama. Dan Imam An-Nawawi mendapatkan kitab-kitab yang ia inginkan karena banyak tersedia dan mudah didapatkan di daerahnya.

Ketiga

Niat yang baik, wira’i, zuhud dan amal-amal saleh memancarkan cahaya-cahayanya.

Imam An-Nawawi telah melakukan hal- hal ini secara sempurna. Barangsiapa yang terkumpul padanya tiga perkara tersebut maka ia akan menyamai Imam An-Nawawi atau paling tidak mendekatinya.

Kemudian As-Subki melakukan penyempurnaan kitab Al-Majmu’ dengan harapan dapat barakah dari Imam An-Nawawi. Namun, ia tidak sampai merampungkannya sehingga penyempuraannya diteruskan oleh Al-Muthi’i.

Zuhud, Wira’i dan Ibadahnya

Zuhud

Yaitu meninggalkan sesuatu karena tidak butuh dan menganggap remeh terhadap sesuatu tersebut.

Sebaliknya, senang atau melakukan sesuatu yang lebih baik dari yang ditinggalkan tersebut. Zuhud tumbuh karena adanya keyakinan terhadap akhirat dan pengetahuan kadar perbedaan antara dunia dan akhirat dan bahwasanya akhirat lebih baik dan lebih kekal daripada dunia.

Imam An-Nawawi tidaklah orang yang tergiur dengan dunia beserta perhiasannya. Ia mengambil bagian dunia seperti seorang pengendara onta yang membawa bekal dalam sebuah perjalanan. Ini adalah sesuai suri teladan dari Rasulullah yang bersabda

“Antara aku dan dunia adalah seperti seorang pengendara yang beristirahat di bawah sebuah pohon yang teduh kemudian pergi meninggalkannya.”

Imam An-Nawawi rela dengan makanan, minuman dan pakaian yang sedikit. la biasanya memakan roti Al-Ka’k dan buah Zaitun Hauran yang dikirim ayahnya.

Ini disebabkan ia tidak punya banyak waktu untuk memasak atau makan. Itulah makanan yang biasa ia makan.

la rela memakai pakaian yang ditambal dan menempati asrama yang dipersediakan untuk para siswa. Kamarnya dipenuhi dengan kitab-kitab.

Apabila ada tamu yang datang mengunjunginya, maka ia menumpuk kitab-kitab tersebut agar dapat ditempati para tamu yang datang. Sebagaimana yang diriwayatkan darinya, ia tidak memasuki kamar mandi umum dimana di dalamnya terdapat pemanas air, tidak memakan buah-buahan karena menjalani wira’i seperti yang akan diterangkan nanti.

Zuhud manakah yang menyamai atau mendekati zuhud Imam An- Nawawi ini? la tidak punya waktu untuk menikah dengan wanita yang cantik atau memiliki budak perempuan.

Seluruh hidupnya ia gunakan untuk nasehat, mendalami ilmu, mengajar, mengarang, ibadah, zuhud, lebih-lebih zuhud dari nafsu, yang merupakan zuhud yang paling berat.

Imam An-Nawawi telah menempatkan dirinya pada posisi yang berbahaya ketika ia menasehati pemerintah pada waktu itu.

Dalam suratnya kepada Ibnu An-Najjar, ia mengatakan, “Alhamdulillah, aku termasuk orang yang suka meninggal dalam keadaan taat kepada Allah .

Wira’i

Al-Yunini mengatakan, “Perkara yang menyebabkan ia berada di barisan terdepan dari para ulama adalah banyaknya zuhud, taat agama dan wira’inya di dunia.”

Sedangkan yang dimaksud wira’i adalah mencegah diri dari perkara yang diharamkan, menjauhi perkara yang status hukumnya belum jelas (syubhat) karena takut terjerumus pada haram dan meninggalkan perkara yang diperbolehkan karena takut terjatuh pada perkara yang tidak diperbolehkan. Sifat wira’i sangat tampak dengan jelas pada Imam An-Nawawi.

Hal ini dapat kita ketahui dalam perkataan As-Subki, “Tidak berhasil terkumpul suatu ilmu setelah tabi’in seperti terkumpulnya ilmu pada Imam An-Nawawi dan tidak juga kemudahan-kemudahan yang diterima seperti yang diterima Imam An-Nawawi.

Ini lebih disebabkan wira’inya yang sangat kuat yang telah menjadikan dunianya rusak dan menjadikan agamanya terbangun megah.” Ibnu Katsir juga mengatakan, “Kewara’an Imam An-Nawawi adalah suatu wira’i yang tidak pernah kita dengar bahwa ada seseorang yang menyamai kewara’annya pada masanya atau masa sebelumnya dalam rentang waktu yang panjang.

Karena sifat wira’i, ia tidak makan dari buah-buahan Damaskus dengan alasan di Damaskus banyak buah-buahan wakaf dan milik orang-orang yang tidak diperbolehkan secara hukum mempergunakan hartanya.

Maka dari itu, menurutnya, tidak boleh serampangan dalam memakan buah-buahan di Damaskus dengan alasan ingin memiliki atau memperoleh masalahat tertentu. Di samping itu, proses penggarapan pertanian buah-buahan di Damaskus.

Kitab-kitab Karyanya

Karya Imam An-Nawawi

Ustadz Ahmad Abdul Aiz Qasim mengatakan, “Tidak lama dalam mencari ilmu, Imam An-Nawawi sudah merasakan bahwa dirinya punya keahlian menulis kitab. Maka, pada tahun 670 ia mulai menulis kitab-kitab yang sangat bermanfaat. la melakukan hal ini karena para ulama sudah mengatakan bahwa seorang murid hendaknya menyusun sebuah karya, jika ia mempunyai keahlian untuk itu.

Al-Hafizh Ibnu Shalah yang mengutip Al-Khatib Al-Baghdadi mengatakan, “Hendaklah seorang murid mulai menganalisis, mengarang dan menyusun karya, apabila ia sudah mempunyai keahlian untuk itu.

Sebab, suatu tulisan akan menetapkan hafalan, menjernihkan hati, membersihkan watak, melatih kemampuan menerangkan, menyingkap yang masih samar, mendapatkan nama harum yang disebut-sebut dan melanggengkan pengarangnya sampai akhir masa. Tidak mahir dalam ilmu hadits, mengetahui rahasia-rahasianya dan memahami faedah-faedahnya kecuali orang yang membiasakan diri dengan mengarang.”

Yaitu menjadikan karya tulis sebagai sesuatu yang ila hasilkan dan perjuangkan yang mana karya tulis itu akan memberikan manfaat bagi orang yang membacanya. la menjadikan penyusunan karya tulis sebagai penghasilan dan menjadikan penghasilannya sebagai penyusunan karya tulis. Ini adalah tujuan yang benar dan indah.

Jika tidak karena hal itu itu, maka tidak mungkin ia mempunyai karya-karya sebanyak itu.” Dengan kata-katanya tersebut, Al-Isnawi ingin menegaskan banyaknya karya-karya yang dihasilkan Imam An-Nawawi, suatu karya-karya yang memenuhi perpustakaan-perpustakaan dan mewujudkan impian orang- orang yang beridealisme tinggi.

Dan, memang tidak diragukan lagi bahwa karya-karyanya berjumlah lebih dari lima puluh buah. Ini baru yang ia sebutkan, barangkali yang belum ia sebutkan lebih banyak. Ada yang mengatakan bahwa setiap hari ia menghasilkan dua buku kecil atau lebih.

Muridnya, Ibnu Al-Aththar telah meriwayatkan bahwa Imam An-Nawawi memerintahkan kepadanya untuk menjual sekitar seribu buku tulis yang sebelumnya telah ia beri tulisan dengan khatnya sendiri.

Namun, tulisan tersebut dicetak lewat ahli kertas. Imam An-Nawawi menakut-nakuti muridnya tersebut jika tidak mengikuti perintahnya.

Ibnu Al- Aththar mengatakan, “Aku tidak berdaya apa-apa untuk tidak taat padanya. Dan, sampai sekarang aku menyesal atas pencucian itu.”

Kitab-kitab karyanya dalam bidang hadits

  1. Syarh Muslim yang dinamakan Al-Minhaj Syarh Shahih Muslim Al-Hajjaj.
  2. Riyadh Ash-Shalihin.
  3. Al-Arbain An-Nawawiah.
  4. Khulashah Al-Ahkam min Muhimmat As-Sunan wa Qawa’id Al-Islam.
  5. Syarh Al-Bukhari (baru sedikit yang ditulis).
  6. Al-Adzkar yang dinamakan Hilyah Al-Abrar Al-Akhyar fi Talkhish Ad-Da’awat wa Al-Adzkar.

Kitab-kitab karyanya dalam bidang ilmu hadits

  1. Al-Irsyad.
  2. Al-Tagrib.
  3. Al-Isyarat ila Bayan Al-Asma’ Al-Mubhamat.

Kitab-kitab karyanya dalam bidang fikih /h3

  1. Raudhah Ath-Thalibin.
  2. Al-Majmu’ Syarh Al-Muhadzdzab (belum sempurna, namun disempurnakan As-Subki kemudian Al-Muthi’i).
  1. Al-Minhaj.
  2. Al-Idhah.
  3. Al-Tahqiq.

Kitab-kitab karyanya dalam bidang pendidikan dan etika

  1. Adab Hamalah Al-Qur’an.
  2. Bustan Al-Arifin.

Kitab-kitab karyanya dalam bidang biografi dan sejarah

  1. Tahdzib Al-Asma’ wa Al-Lughat.
  2. Thabaqat Al-Fuqaha’.

Kitab-kitab karyanya dalam bidang bahasa

  1. Tahdzib Al-Asma’ wa Al-Lughat bagian kedua.
  2. Tahrir At-Tambih.

Semua karya-karya Imam An-Nawawi telah diterima dan disukai semua orang dan semua kalangan ahli ilmu. Terutama kalangan pesantren yang ada di nusantara yang mengkaji kitab-kitab karya Imam An-Nawawi.

Anda tidak melihat seseorang yang tidak membutuhkan karya-karyanya. Apabila ada orang yang merujuk kepada karya-karyanya, maka dia telah memberikan landasan pendapatnya dan memperkuat hujjahnya.

Dan, tidak ada seseorang yang membaca karya-karyanya kecuali dia akan memberikan pujian dan mendoakan untuknya agar ia mendapat rahmat. Ini disebabkan karena ia telah melayani ilmu dan ahli ilmu dengan karya-karya yang amat berbobot tersebut. Semoga Allah memberikan rahmat kepadanya dengan rahmat yang banyak.

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.