Kang Santri Kangsantri.id merupakan bentuk usaha kami dari para santri dan alumni untuk menjaga tradisi keilmuan pesantren yang mengedepankan wasathiyah, salafiyah. 🤲

Perlakuan Majikan Terhadap Buruh Dan Pekerja , Bagaimana Seharusnya

3 min read

Ilustrasi seorang bos

Bagaimana seharusnya perlakuan majikan terhadap buruh dan pekerjanya? – Lahirnya undang-undang Ketenagakerjaan merupakan manifestasi dari praktik perburuhan yang tumpang tindih. Buruh tidak terlindungi hak-haknya. Dan banyak lagi hal-hal yang merugikan pekerja.

Di dalam undang-undang ditentukan hak-hak buruh dan kewajiban-kewajiban yang harus dikerjakan oleh pekerja. Di antaranya hak buruh untuk mendapatkan kesejahteraan mendapatkan upah ah perlindungan sosial dan seterusnya.

Lantas bagaimana perlakuan majikan yang seharusnya terhadap buruh? Pada kesempatan kali ini kita akan membahas mengenai bagaimana akhlak seorang majikan kepada seorang buruh. Bagaimana perlakuan majikan terhadap buruh dilihat dari sisi hukum Islam.

Perlakuan Majikan Terhadap Buruh dalam Hukum Islam

Ilustrasi seorang bos
Ilustrasi seorang bos

Posisi majikan dalam relasi buruh-majikan berada dalam posisi yang kuat, terutama disebabkan karena majikan menguasai alat-alat produksi dan memiliki modal.

Majikan dengan posisinya dapat menentukan syarat-syarat kerja sesuai dengan kepentingannya. Pada strata sosial majikan memiliki strata yang lebih tinggi dibandingkan dengan buruh.

Majikan memiliki akses yang cukup kuat dengan pemegang kekuasaan dan penentu kebijakan.

Diantara keduanya ada kecenderungan untuk saling menguatkan, tapi tidak demikian hubungan penentu kebijakan dengan para buruh, diantaranya selalu ada ketidakseimbangan.

Dalam Al-Muqaddimah Ibnu Khaldun menuliskan bahwa kekuasaan atau bahkan peradaban akan hancur bila pelanggaran pada prinsip moral (syari’ah) telah mencapai suatu titik bimasakti (poin of no return).

Ada tiga dosa sejarah menurut Ibnu Khaldun yang mempercepat proses keruntuhan, yakni dosa keangkuhan, dosa kerakusan dan dosa kemewahan.

Dengan mempertimbangkan potensi lemahnya buruh di satu sisi, yang demikian menjadikan nilai-nilai al-Qur’an banyak menentukan batasan-batasan normatif etika majikan terhadap buruh, agar majikan tidak melakukan pelanggaran pada buruh.

Dan rambu-rambu yang harus dipenuhi oleh majikan antara lain:

Berbuat baik para buruhnya

Perlakuan baik bos terhadap pekerja

Perlakuan Majikan terhadap buruhnya seyogyanya dengan baik sebagaimana kewajiban berbuat baik pada kedua orang tua, kerabat, anak yatim, orang miskin, tetangga dekat, dan tetangga jauh.

Hal ini terkodifikasi dalam firman-Nya dalam QS. an-Nisa/ 4: 36.

Memperlakukan buruh tanpa membedakan secara status sosial sama artinya dengan mengangkat harkat dan martabat buruh pada posisi yang mulia.

Rasulullah Saw melarang memanggil buruh dengan ungkapan yang menghina dan kata-kata yang mengandung konotasi buruh atau budak, sebab panggilan menghina adalah merendahkan martabat manusia.

Sebagaimana rasul bersabda yang artinya: “ janganlah kamu panggil buruhmu dengan “ hai, budakku, hai hambaku, tapi dia harus dipanggil dengan hai pemudaku, hai remajaku, (HR. Al-Bukhori).

Baca juga : Bagaimana Perjanjian Kerja Dalam Tatanan Hukum Islam

Membangun kesetaraan dengan buruh

Rasulullah Saw sudah mencontohkan dari hal yang paling sederhana, dari makanan, pakaian dan tempat tinggal.

Salah satu contoh kongkrit dari nabi dalam hal membangun kesetaraan antara buruh dan majikannya adalah dengan mengajarkan pada majikan untuk makan dengan buruhnya dalam satu meja.

Sebagaimana sabda nabi yang artinya: “ Budak (Buruh) adalah saudaramu yang di jadikan allah berada di bawah kekuasaanmu. Maka siapa saja yang di bawah kekuasaanmu berilah ia makanan seperti yang kamu makan, serta berilah pakaian dari yang kamu pakai”.

Bertanggung jawab pada kesehatan buruh

Rasulullah memberikan contoh bagaimana akhlak seorang bos terhadap pekerjanya. Karena buruh sudah memberikan waktu produktifnya untuk menjalankan produksi dan menghasilkan keuntungan.

Oleh karena itu majikan harus turut bertanggung jawab pada kesehatan buruh. Hal ini seiring dengan hadits riwayat Malik dari Abu Hurairah.

Bahwa Rasulullah bersabda: “bahwa seorang budak harus mendapatkan makanan dan pakaian yang wajar, (menurut ukuran kemanusiaan), dan ia diwajibkan untuk bekerja untuk pekerjaan yang ia mampu mengerjakannya”.

Jujur dalam menjalankan usaha

Jujur dalam segala hal

Kejujuran adalah kunci hubungan buruh majikan. Transparansi menjadi kata kunci dari pengusaha dalam menjalankan usahanya, dalam prinsip ini majikan tidak boleh menyembunyikan keuntungan yang dihasilkan dari kerja kedua belah pihak (buruh-majikan).

Hal ini sejalan dengan hadits nabi yang artinya: “Saudagar yang jujur dan amanah akan masuk ke dalam golongan para nabi, syuhada dan orang saleh pada hari kiamat. ( HR. Ibnu Majjah)

Bertanggung jawab dalam tugasnya

Selain bertanggung jawab dalam menjalankan usahanya dalam menjalankan modal. Bentuk tanggung jawab ini berkaitan dengan usahanya bersama buruh juga tanggung jawab atas buruh yang bekerja padanya. Sebagaimana Hadits Nabi:

Artinya: “Setiap orang dari kamu sekalian adalah penggembala dan semua orang akan dimintai pertanggung jawabannya mengenai gembalaannya itu” (HR. Bukhory Muslim).

Larangan memupuk modal, membekukan demi kepentingan pribadi

Islam mengutuk pembekuan modal, menyimpannya untuk tidak di belanjakan. Allah mengutuk mereka dalam Firman-Nya:

Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya sebahagian besar dari orang-orang alim Yahudi dan rahib-rahib Nasrani benar-benar memakan harta orang dengan jalan batil dan mereka menghalang-halangi (manusia) dari jalan Allah. Dan orang-orang yang menyimpan emas dan perak dan tidak menafkahkannya pada jalan Allah, maka beritahukanlah kepada mereka, (bahwa mereka akan mendapat) siksa yang pedih”. (QS. At-Taubah : 34)

“Serta mengumpulkan (harta benda) lalu menyimpannya”

Allah tidak melarang mengumpulkan harta tetapi membekukanya dalam jumlah yang banyak sementara sebagian besar lainnya hidup pas-pasan tanpa modal usaha adalah perbuatan tercela.

Larangan penyalahgunaan kekayaan

Hal ini diperingatkan oleh allah dalam surat al-Haqqah ayat 28-30:

Artinya: ”Hartaku sekali-kali tidak memberi manfaat kepadaku. Telah hilang kekuasaanku daripadaku. Peganglah dia lalu belenggulah tangannya ke lehernya.”

Menghindari berlebih-lebihan dan efektif dalam menjalankan usaha

Majikan yang hidup bermewah-mewahan, dan tidak efektif dalam menjalankan usahanya diperingatkan oleh Allah dalam surat al-A’raaf ayat 31 :

Artinya: ”Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap (memasuki) mesjid, makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan”.

”Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara syaitan dan syaitan itu adalah sangat ingkar kepada Tuhannya.”

Dengan adanya hubungan yang baik antara majikan dan buruh, pekerjanya. Maka akan terjadi imbal balik yang harmonis.

Sehingga perlakuan majikan terhadap buruh akan menjadi aset yang berharga. Dimana attitude dan akhlak ini akan menjadikan buruh menjadi lebih segan, semangat dalam bekerja.

Kang Santri Kangsantri.id merupakan bentuk usaha kami dari para santri dan alumni untuk menjaga tradisi keilmuan pesantren yang mengedepankan wasathiyah, salafiyah. 🤲

Sebarkan Kebaikan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: