Apa Itu Tasawuf? Pengertian Dan Dalil-Dalilnya

5 min read

pengertian tasawuf

Apa itu tasawuf, pengertian dan dalilnya – Pembahasan yang tak pernah ada titik temu antara dua golongan ahlussunnah dan wahabi. Mereka yang meyakini tasawuf sudah sesuai dengan tuntunan syariah terus mengamalkan. Sedangkan yang tidak sepaham secara tegas dan keras mengatakan itu adalah hal yang syirik dan bid’ah. Untuk mengetahui itu semua mari kita bahas lebih lanjut mengenai tasawuf tersebut.

Pengertian Tasawuf

pengertian tasawuf

Secara etimologis pengertian tasawuf berasal dari bahasa arab

  1. Shaf (baris), orang sufi selalu berada pada saf pertama dalam sholat sehingga mendapat kemuliaan dan pahala.
  2. Suffah (pelana), orang yang miskin karena dilarang membawa barang saat mengikuti raasulullah hijrah dari mekah ke madinah. Lalu tidur dengan alas pelana kuda.
  3. Sufi (suci),orang sufi yang mensucikan diri dari urusan duniawi melalui latian yang lama dan akhirnya mencapai kesucian.
  4. Sophos (Yunani: hikmah),orang sufi hanya mengatakan sesuatu yang membawa hikmah.
  5. Suf (kain wol), orang yang mengasingkan diri ke goa-goa dan mengenakan kain wol alu mengisi hari-harinya dengan berpuasa, menangis meminta ampunan dan membaca al-qur’an.

Pembinaan sikap mental rohaniah yang selalu memelihara kesucian diri, beribadah, hidup sederhana, rela berkorban untuk kebaikan serta bersikap bijaksana agar selalu dekat dengan tuhan. Secara terminologis tasawuf berarti Upaya mensucikan diri dengan cara menjauhkan pengaruh kehidupan dunia dan memusatkan perhatian hanya kepada Allah Swt.

Ada yang menisbahkan tasawuf dengan kata yang berasal dari bahasa Yunani, yakni “saufi” dan disamakan dengan makna dari kata “hikmah” yang berarti kebijaksanaan. Kemudian Jurzi Zaidan dalam kitabnya “Adab Lughah Al-Arabiyah” juga menyebutkan bahwa filosofis Yunani dahulu juga telah memasukkan pemikiran atau kata-katanya yang dituliskan slaam buku-buku Filsafat yang mengandung kebijaksanaan. Pendapat ini didasarkan pada argumentasi yang mengatakan bahwa istilah sufi atau tasawuf tidak ditemukan sebelum ada penerjemahan kitab-kitab yang berbahasa Yunani kedalam bahasa Arab terjadi proses asimilasi. Misal orang arab mentransliterasikan huruf “sin” menjadi “shad”, seperti dalam kata tasawuf.

Istilah Tasawuf Dalam Al-Qur’an Dan Menurut Ulama

pengertian tasawuf

Istilah tasawuf secara eksplisit kebahasaan tidak pernah disebut dalam al-Qur’an. Sebagian besar ulama tasawuf sepakat bahwa masalah tasawuf tersebut secara implisit (tersirat) dan termuat dalam istilah “zuhud”. Sementara itu istilah zuhud yang berarti orang yang tidak merasa tertarik terhadap sesuatu, hanya terdapat satu kali ditulis dalam al-Qur’an yaitu dalam surat Yusuf ayat 20:

وَشَرَوْهُ بِثَمَنٍ بَخْسٍ دَرَاهِمَ مَعْدُودَةٍ وَكَانُواْ فِيهِ مِنَ الزَّاهِدِينَ

Artinya: Dan mereka menjual yusuf dengan harta yang murah, yaitu beberapa dirham saja, dan mereka (anggota kafilah dagang) itu tidak merasa tertarik hati mereka terhadapnya (Yusuf).

Pengertian tasawuf berdasarkan istilah menurut Ali Al-Qassab tasawuf adalah akhlak yang mulia yang timbul pada masa mulia dari seseorang yang mulia ditengah kaum-kaum yang mulia.

Dan makna tasawuf berdasarkan yang telah disimpulkan Al-Junaedi tasawuf adalah membersihkan hati dari apa yang mengganggu perasaan kebanyakan makhluk, berjuang meninggalkan pengaruh budi yang asal (insting) kita, memadamkan sifat-sifat kelemahan kita sebagai manusia, menjauh dari segala seruan hawa nafsu, mendekati sifat-sifat suci kerohanian, dan bergantung pada ilmu-ilmu hakikat, memakai barang yang penting dan terlebih kekal, menaburkan nasehat kepada semua umat manusia, memegang teguh janji dengan Allah dalam hal akikat dan mengikuti contoh Rasulullah dalam hal Syari’at.

Jadi dapat disimpulkan pengertian tasawuf adalah ilmu yang mempelajari usaha membersihkan diri, berjuang memerangi hawa nafsu, mencari jalan kesucian dengan ma’rifat menuju keabdian, saling mengingatkan antar manusia, serta berbegang teguh pada janji Allah dan mengikuti Syar’i.

Dasar-Dasar Tasawuf dalam Al-Qur’an dan Hadits

Al-Qur’an dijadikan sebagai sumber tasawuf karena Al-Qur’an sebagai Nash, dimana hadist pu termasuk didalamnya. Setiap muslim dimanapun dan kapanpun harus memahami dan mengamalkannya dalam kehidupan yang nyata. Jika Nash tidak diamalkan maka disitulah akan terjadi kesenjangan. Di dalam Al-Qur’an terdapat muatan-muatan ajaran Islam, baik dalam bidang syariah, aqidah, maupun muamalah. Al-Qur’an perludipahami secara tekstual lahiriahnya saja. Maka ayat-ayat Al-qur’an akan terasa kaku, kurang dinamis ,dan akan ditemukan persoalan yang tidak dapat diterima secara psikis.

Tasawuf Sunni dan Tasawuf Falsafi serta Karakteristiknya

Secara teoritis di Indonesia terdapat dua jenis tasawuf yang sangat dikenali, disebut dengan tasawuf amali yang kemudian terbagi menjadi Tasawuf Sunni dan Tasawuf Falsafi.

Tasawuf Sunni bersumber pada keterangan yang bermaktub dalam Al-Quran dan Al-Hadist. Tasawuf sunni  memberikan ajaran yang tidak bertentangan dengan Al-Quran dan Hadist, dengan demikian tasawuf sunni sangat menekankan pada dasar hukum utama dan kedua sebagai kebenaran pragmatis. Seluruh ajarannya sesuai dengan ajaran Al-Quran dan Hadist. Selanjutnya, tasawuf sunni juga mengajarkan tentang perbedaan antara mahluk dan Allah SWT, ajaran sunni menolak kesatuan dari mahluk dan Allah.

Tasawuf Falsafi merupakan perpaduan antara filsafat dan tasawuf yang sumbernya sebagian adalah melalui pemikiran filsafat yang di padu-padankan dengan tasawuf.  Ajaran tasawuf falsafi lebih condong menyimpang ketetapan dan yang tertulis pada Al-Quran dan Hadist. Sehingga dalam hal mahluk dan Allah, diajarkan sebagai kesatuan menurut ajaran hulul dan ittihad.

Maqamat Dalam Bertasawuf

macam-macam akhlakul mahmudah
Sumber: caironewss.com

Maqamat dalam hal ini adalah pijakan atau jalan yang membawa kepada Ridho Allah SWT. Dari pijakan-pijakan tersebut akan diperoleh ahwal atau kondisi dalam hati dimana muncul rasa takut dan rasa ingin bertemu Allah SWT. Tasawuf menjadikan hati bersih dan khusyu’. Ketika manusia telah berpijak pada maqamat maka akan memiliki kondisi batiniyah ahwal, dengan tujuh pijakan hingga mencapai titik ridho.

Pijakan pertama, taubat

Akan dinyatakan taubat apabila manusia telah menyesali kesalahan yang telah dilakukan dan tidak akan mengulangi perbuatan tersebut. Dalam hal ini tentunya yang dimaksud adalah taubatan nasuha. Pada titik taubat, manusia dapat dinyatakan masih berpijak pada keduniawian, sehingga diharapkan untuk maqamat selanjutnya, rasa keduniawian ditinggalkan.

Pijakan kedua, wara’

Wara’ secara sederhana berarti meninggalkan perkara haram dan syubhat. Para ulama kerap kali memaksudkan wara’ dalam hal meninggalkan perkara syubhat dan perkara mubah yang berlebih-lebihan, serta meninggalkan perkara yang masih samar hukumnya.

Rasulullah SAW pernah menyampaikan nasehat terkait dengan wara’ yaitu HR. Ibnu Majah no.4217 yang shahih dengan arti, “Wahai Abu Hurairah, jadilah orang yang wara’, maka engaku akan menjadi sebaik-baiknya ahli ibadah. Jadilah orang yang qona’ah, maka engaku akan menjadi orang yang benar-benar bersyukur. Sukailah sesuatu pada manusia sebagaimana engkau suka jika ia ada pada dirimu sendiri, maka engaku akan menjadi seorang mukmin yang baik. Berbuat baiklah pada tetanggamu, maka engkau akan menjadi muslim sejati. Kurangilah banyak tertawa karena banyak tertawa dapat mematikan hati.

Pijakan ketiga, zuhud

Zuhud merupakan suatu sikap terpuji yang disukai Allah SWT, yaitu ketika manusia lebih mengutamakan kecintaan akhirat dan tidak terlalu mementingkan urusan dunia atau harta kekayaan. Materi dan duni yang besifat sementara hanyalah sarana atau alat untuk mencapai tujuan haqiqi, yaitu sebagai bekal kehidupan di akhirat nanti.

Pijakan keempat, shabr

Sabar adalah suatu sikap menahan emosi dan keinginan, serta dalam situasi sulit dengan tidak mengeluh. Upaya pengengendalian diri dianggap memiliki nilai tinggi dan refleksi dari kekokohan jiwa orang yang memiliki sifat tersebut. Dalam pencerminan olah bahasa, sabar adalah sesuatu yang pahit dirasakan, tetapi hasilnya lebih manis daripada madu.

Pijakan kelima, tawakal

makna tawakal
Sumber: minanews.net

Tawakal menurut bahasa berasal dari kata tawakkul yang berarti mewakilkan atau menyerahkan. Menurut bahasa diartikan sebagai perilaku berserah diri sepenuhnya kepada Allah SWT dalam menghadapi atau menunggu hasil dari suatu pekerjaan atau menanti akibat dari suatu keadaan. Imam al-Ghazali mendefinisikan tawakal, ialah menyandarkan kepada Allah SWT tatkala menhadapi suatu kepentingan, bersandar kepada-Nya dalam waktu kesukaran, teguh hati tatkala ditimpa bencana disertai jiwa yang tenang dan hati yang tentram.

Pijakan keenam, ikhlas

tingkatan ikhlas
en-gb.facebook.com

Dalam Al-Quran terdapat surat al-ikhlas tetapi tidak satu ayat pun yang menyebutkan ikhlas di dalamnya. Demikianlah ikhlas yang haqiqi yaitu melakukan sesuatu tanpa mengharapkan sesuatu yang lain, atau dalam hal ini adalah melakukan segalanya karena Allah SWT. Menurut bahasa, ikhlas berasal dari bahasa arab yang berarti mengosongkan sesuatu dan membersihkannya. Ikhlas adalah bersih, jernih, murni dan tidak mencampur tangan suatu apapun.

Pijakan ketujuh, ridho

Ridho dalam hal ini berkaitan dengan takdir qada dan qadar yang telah digariskan Allah SWT. Ridho berasal dari bahasa arab yaitu rodiya yang berarti sengang, suka, rela. Ridho merupakan sifat terpuji yang menjadi puncak maqam seseorang, dimana titik dunia telah menjadi nomor kesekian. Seseorang yang ridho maka akan mencerminkan dirinya yang berserah dan dekat dengan Allah SWT

Ketujuh tingkatan tersebut memerlukan beberapa sifat yang menjadi pendorong dan harus dilakukan tahap demi tahap menurut tasawuf. Sifat muroqobah (merasa diawasi Allah SWT), syauq (keinginan yang sangat kuat, ekstase yang muncul dari makrifat) dan mahabbah (kecintaan secara mendalam) menjadi pendorong manusia untuk melakukan satu demi satu tingkatan. Tujuh tingkatan tersebut apabila berhasil dilakukan maka bukan tidak mungkin, sifat ma’rifah akan dimiliki.

Demikian semoga pembahasan tentang pengertian tasawuf beserta dalilnya ini bermanfaat bagi kita. Apabila ada kata dan pemilihan diksi yang kurang tepat saya mohon maaf yang sebesar-besarnya. Semoga kita berjumpa pada kesempatan berikutnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: