Penjelasan 8 Asnaf, Golongan Penerima Zakat

4 min read

Penjelasan 8 asnaf, golongan penerima zakat – Telah kita ketahui bahwa zakat memiliki manfaat sosial yang sangat luar biasa jika benar-benar diterapkan di lingkungan dan masyarakat kita.

Karena menurut beberapa survei menyatakan bahwa zakat mampu mengentaskan kemiskinan seseorang menjadi keluarga yang lebih sejahtera.

Dengan cara uang hasil zakat mal, zakat profesi dikumpulkan oleh amil. Begitu zakat di BAZNAS Lazisnu ataupun Lazismu terkumpul kemudian disalurkan kepada ada orang-orang yang membutuhkan dana untuk usaha.

Akad tersebut adalah akad pinjam meminjam tanpa dikenai bunga.

Sehingga dana hasil zakat ini bisa digunakan sebagai modal. Orang yang tidak punya modal untuk usaha menjadi bisa usaha.

Dengan ikhtiar ini orang yang fakir akan menjadi keluarga yang lebih sejahtera.

Sebenarnya orang yang berhak menerima zakat tidak hanya fakir dan miskin. Lebih lengkapnya ada delapan golongan yang berhak menerima zakat atau biasa disebut asnaf. Seperti yang disampaikan dalam QS At-Taubah ayat 60 berikut:

إِنَّمَا الصَّدَقَاتُ لِلْفُقَرَاءِ وَالْمَسَاكِينِ وَالْعَامِلِينَ عَلَيْهَا وَالْمُؤَلَّفَةِ قُلُوبُهُمْ وَفِي الرِّقَابِ وَالْغَارِمِينَ وَفِي سَبِيلِ اللَّهِ وَابْنِ السَّبِيلِ

“Sesungguhnya zakat-zakat itu, hanyalah untuk [1] orang-orang fakir, [2] orang-orang miskin, [3] amil zakat, [4] para mu’allaf yang dibujuk hatinya, [5] untuk (memerdekakan) budak, [6] orang-orang yang terlilit utang, [7] untuk jalan Allah dan [8] untuk mereka yang sedang dalam perjalanan.” (Qs. At Taubah: 60)

Berikut ini penjelasan asnaf 8 orang penerima zakat.

1. Fakir

Fakir miskin penerima zakat

Menurut undang-undang yang ada di Indonesia fakir dan miskin tidak mempunyai perbedaan yang mencolok.

Pada bab 1 Pasal 1 Ayat 1 nomor 13 tahun 2011 mendefinisikan bahwa fakir dan miskin adalah orang yang tidak memiliki penghasilan sama sekali dan atau memiliki penghasilan akan tetapi tidak bisa untuk mencukupi kehidupannya sehingga tidak dikatakan layak.

Sedangkan menurut fuqaha madzhab syafi’i dan hambali, pengertian fakir adalah mereka yang tidak mempunyai harta dan mempunyai penghasilan akan tetapi tidak sebesar dengan kebutuhan pokok mereka yang menjadikan hidup mereka tidak bisa lepas dari hutang.

Jika kebutuhan mereka Rp. 50.000 dalam 1 hari dan pekerjaan yang mereka dapatkan kurang dari Rp50.000 bisa jadi Rp30.000 bisa jadi Rp40.000 dan seterusnya

Penjelasan ini sejalan dengan pengertian fakir secara bahasa yang memiliki makna tulang punggung yang patah.

Yang dimaksudkan adalah mereka yang fakir tidak bisa menahan beban hidup sampai-sampai apa yang mereka pikul menjadikan beban yang sangat berat sehingga tulang punggung yang patah.

Baca juga : Pengertian dan Macam Zakat Yang Wajib Kamu Ketahui

2. Miskin

Walaupun ada perbedaan deskripsi mengenai fakir dan miskin akan tetapi yang perlu kita garis bawahi disini adalah mereka adalah sebagian dari asnaf yang berhak dan diprioritaskan menerima zakat.

Pengertian miskin menurut Imam Syafi’i adalah mereka yang mempunyai sebagian harta. Akan tetapi penghasilan dari pekerjaan mereka tidak mampu mencukupi kebutuhan dasar mereka.

Seperti contoh mereka mempunyai rumah akan tetapi pekerjaan mereka tidak mampu menutupi kebutuhan kesehariannya.

3. Amil Zakat

Baznas amil zakatAmil zakat adalah mereka yang menangani zakat mulai dari penjemputan zakat dari Muzakki hingga mendistribusikan zakat kepada asnaf orang-orang yang berhak menerima zakat.

Amil zakat haruslah dari golongan orang muslim dan bukan dari orang yang dilarang menerima shodaqoh yaitu keluarga Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam dari Bani Hasyim dan juga Bani Abdul Muthalib.

Ini berdas berdasarkan hadis nabi dari Muthalib Bin rabiah Bin Al Haris bin Al Muthalib bahwa ada sebagian sahabat nabi berkata: 

يا رسول الله جيناك لتؤمرنا على هذه الصدقات فنصيب ما يصيب الناس من المنفعه ونؤدى اليك ما يؤدي الناس ، فقال ان الصدقات لا تنبغي لمحمد ولا لال محمد، انما هو اوساخ الناس (رواه احمد ومسلم)

Menurut badan amil zakat nasional basnas Amil adalah mereka yang mempunyai izin dari otoritas pemerintah mangga mempunyai wewenang untuk menarik zakat dari seseorang ataupun lembaga.

Jika seseorang yang tidak memiliki izin baik dari badan amil zakat nasional ataupun dari organisasi yang berada di bawahnya seperti lazisnu dan lazismu maka tidak bisa dikatakan sebagai seorang Amil.

Jika menurut PP No 14 Tahun 2014 tentang Pelaksanaan UU No 23 Tahun 2011 tentang Pengelolaan Zakat.

Seorang Amil harus ditunjuk oleh badan amil zakat nasional ataupun lembaga yang berada di bawahnya, lazismu dengan lazisnu.

Dengan demikian Jika seorang amil yang berada di masjid-masjid dan tanpa ada surat penunjukan tugas dari badan amil zakat maka tidak berhak untuk mendapatkan zakat.

Baca juga : Pengertian Zakat Fitrah yang Wajib Diketahui Setiap Muslim

4. Mualaf

Di antara dari 8 golongan yang berhak menerima zakat adalah mualaf yaitu orang yang hatinya tergerak untuk masuk islam.

Hal ini ditujukan supaya mereka lebih mantap lagi dalam beragama islam.

Akan tetapi pada pertanyaan-pertanyaan yang beredar di kalangan masyarakat bagaimana kriteria mualaf yang berhak menerima zakat.

Jika ada pertanyaan demikian maka penjelasannya adalah sebagai berikut.

Orang mualaf terbagi dalam empat golongan yaitu sebagai berikut:

A. Mualaf yang masih lemah imannya sehingga kalau tidak ada perhatian dari sesama muslim akan rentan kembali ke agamanya yang dulu. Dengan cara demikian akan menjadikan mantap iman.

B. Mualaf yang sudah kuat imannya akan tetapi karena dia mempunyai jabatan dan kedudukan yang strategis dengan memberinya zakat akan menjadikan pengikut dan fansnya akan tertarik dengan islam dan akhirnya masuk islam.

C. Orang islam yang berdampingan dengan orang-orang kafir, jika ia diberi zakat ia mau menjaga keselamatan kaum muslimin dari serangan orang-orang kafir atau para pemberontak dan bahkan sanggup memerangi mereka.

D. Orang islam yang berdampingan dengan orang-orang yang membangkang untuk membayar zakat, jika ia diberi zakat, ia sanggup memaksa mereka membayar zakat atau bila perlu memerangi para pembangkang tersebut.

Baca juga : Pengertian Zakat Mal Kewajiban Muslim yang Telah Mampu

5. Riqab

Hamba sahaya penerima zakat

Hamba sahaya atau dalam bahasa Arab disebut riqab.

Harta dari kumpulan zakat bisa digunakan sebagai sarana untuk memerdekakan budak sehingga Islam memperlihatkan pelenyapan praktik perbudakan dari muka bumi.

Teknis memerdekakan budak dengan dana zakat adalah sebagai berikut.

Budak-budak yang dijanjikan oleh pemiliknya akan dibebaskan dengan cara membayar untuk dirinya sendiri difasilitasi dengan harta dari kumpulan pembayaran zakat.

Zakat yang terkumpul inilah yang nantinya dijadikan oleh para budak-budak untuk menebus dirinya sendiri dan dibayarkan kepada pemiliknya.
Dengan cara ini lah zakat bisa digunakan untuk memerdekakan budak.

6. Orang yang terlilit hutang

Gharim orang yang terlilit hutang berhak menerima zakat

Saat ini hampir semua orang di negara Indonesia memiliki hutang entah itu berupa cicilan motor cicilan mobil ataupun cicilan rumah. Ada juga hutang untuk kebutuhan makan sehari-hari seperti belanja di warung.

Akan tetapi apakah mereka yang sedang mencuci motor mobil dan rumah merupakan salah satu dari 8 kelompok yang berhak mendapatkan zakat?

Menurut Imam Syafi’i ada dua jenis orang yang dikategorikan orang yang terlilit hutang.

  1. Orang hutang untuk memenuhi kebutuhan dirinya sendiri
  2. Orang hutang untuk memenuhi kebutuhan tidak hanya untuk dirinya melainkan kebutuhan sosial.

Orang yang berhutang untuk kebutuhan dirinya sendiri dan untuk kebutuhan primer seperti sandang, pangan dan papan maka dia layak di golongkan asnaf.

Beda lagi Ketika seseorang mempunyai aset selain kebutuhan primer yang hanya satu-satunya seperti rumah yang biasa tinggali.

Ketika seseorang mempunyai hutang tetapi ia mempunyai aset yang lain seperti rumah ada dua, mobil ada dua, tanah ada dua. Mereka ini tidak layak dikategorikan salah satu dari 8 penerima zakat.

7. Sabilillah

Belajar adalah bentuk sabilillah melawan kebodohan beragama


فعن ابي سعيد ان النبي صلى الله عليه وسلم قال لا تحل الصدقة لغني الا لخمسة لعامل عليها او رجل اشتراها بماله او غارم او غازي في سبيل الله او مسكين تصدق عليه منها فاهدى منها لغني

Artinya: Dari Abi Said bahwa Nabi saw bersabda, orang kaya tidak berhak mendapat zakat kecuali lima golongan; orang yang berperang di jalan Allah, amil zakat, orang yang berhutang, orang yang membelinya dengan hartanya, orang yang memiliki tetangga yang miskin lalu memberikan zakat pada orang miskin tersebut kemudian jirannya yang miskin itu menghadiahkannya kepada orang kaya.‛ (H.R Abu Daud).

Jumhur ulama madzhab mengatakan bahwa yang dimaksud fisabilillah adalah orang yang mengikuti kegiatan perang yang tujuannya untuk menegakkan agama Islam.

Definisi awal ini banyak dikembangkan oleh para ulama kontemporer seperti Yusuf qardhawi Sayyid Sabiq dan ulama yang lainnya.

Para ulama sepakat dan setuju bahwa makna awal dari fisabilillah adalah perang untuk menegakkan agama Islam.

Tetapi para ulama kontemporer beranggapan bahwa definisi ini tidak tepat digunakan lagi karena saat ini tidak ada perang.

Zakat untuk Sabilillah pun tidak hanya terpaku pada definisi Sabilillah perang. Bisa digunakan untuk kegiatan kegiatan amal dan ilmu yang menuju ridho Allah. Hal ini seperti yang disampaikan oleh Sayyid Sabiq.

Sedangkan Yusuf Qardhawi menyatakan pendapatnya mengenai Sabilillah zakat.

فكل جهاد أريد بو ان تكون كلمة الله هي العليا فهو فِي سبيل الله أيا كان نوع هذا الجهاد وسلاحو.

Artinya: Setiap jihad yang dimaksudkan untuk menegakkan kalimat Allah, termasuk fisabilillah, bagaimanapun keadaan dan bentuk jihad serta senjatanya.

Definisi Sabilillah menurut Yusuf Qardhawi ini membuka peluang yang sangat lebar untuk pendistribusian zakat. Selain untuk sabilillah perang yang dianggap kurang relevan dengan keadaan zaman.

Juga bisa untuk kegiatan-kegiatan yang lainnya. Substansi dari pendistribusian zakat untuk kebaikan agama Islam. Seperti pembuatan masjid, pendidikan, dakwah Islam dan lain sebagainya.

8. Ibnu sabil

Para ulama sepakat bahwa Ibnu Sabil atau musafir berhak mendapatkan zakat.

Dengan catatan orang yang melakukan perjalanan tersebut tidak untuk tujuan maksiat para ulama pun berbeda pendapat mengenai musafir yang melakukan perjalanan untuk sesuatu yang hukumnya mubah.

Sedangkan orang yang melaksanakan ibadah haji tidak berhak menerima zakat dikarenakan ibadah haji sendiri merupakan ibadah yang diwajibkan bagi orang yang mampu.

Maka dari itu tu orang yang melaksanakan Haji pasti mengatur keuangan dan perlengkapan perjalanan selama melaksanakan ibadah haji.

Demikian pembahasan mengenai ” asnaf, 8 golongan penerima zakat “. Semoga informasi dan juga sedikit ilmu ini bermanfaat untuk kita.