Kang Santri

Catatan Kang Santri

5 Rukun Khutbah Jumat Dan 9 Syarat-Syaratnya

Home Panduan Tuntunan Sholat 5 Rukun Khutbah Jumat Dan 9 Syarat-Syaratnya
Rukun khutbah jumat

Rukun khutbah jumat – khutbah Jum’at merupakan rangkaian sholat jumat, yaitu dilakukan sebelum melaksanakan sholat Jumat yang dilakukan sebanyak dua kali khotbah yang dipisah dengan duduknya Imam. Setiap ibadah yang disyariatkan dalam agama Islam mempunyai ketentuan masing-masing. Ketentuan tersebut bisa berupa rukun, syarat, tata cara, hal-hal yang membatalkan dan lain.

Rukun Khutbah Jumat

Rukun khutbah jumat
Sumber : mawdoo3.com

Dalam pembahasan yang sebelumnya mengenai rukun dan syarat sah sholat telah dijelaskan perbedaan antara rukun dan syarat dalam sholat. Dalam khutbah jumat terdapat lima rukun dan sembilan syarat yang harus terpenuhi. Kelima rukun khutbah tersebut adalah sebagai berikut:

Pertama,

memuji Allah adalah rukun pertama khotbah jumat
Sumber: kaligrafi-islam.blogspot.com

Rukun pertama saat khotbah adalah memuji Allah dengan lafadz hamdu dan cabang dari lafadz tersebut. Boleh juga dengan menggunakan lafadz alhamdu nahmadu dan ahmadu. Saat seorang Khatib khotbah pada sholat Jumat tidak diperbolehkan memuji Allah dengan menggunakan lafadz selain alhamdu.  Lafadz hamdalah merupakan lafadz yang mengekspresikan pujian kepada Allah atas sempurnanya sifat dan af’alnya.

Sedangkan syukur lebih menunjukkan kepada timbal balik a7tas nikmat Allah seperti contoh orang yang telah diberikan rezeki oleh Allah dia mengucapkan syukur.

Dengan demikian Hamdalah dan syukur memiliki tingkatan yang berbeda. Hamdalah lebih menunjukkan penghambaan seseorang kepada Allah. Sedangkan syukur digunakan lebih kepada sikap atas pemberian sesuatu.

Selanjutnya penggunaan lafadz jalalah pada kalimat Hamdalah tidak diperbolehkan diganti dengan lafadz Asmaul Husna sebagai ar-rahman jadi tidak diperbolehkan mengucapkan Alhamduli Rohman dan semacamnya.

Sehingga dapat diketahui rukun yang pertama saat khotbah adalah membaca alhamdulillah ataupun dengan susunan  lain  yang satu akar dengan kalimat  hamdu dan Allah yaitu nahmadulillah ataupun Ahmadu lillah ataupun lillahil hamd.

Ibnu Hajar Al-Haitami mengatakan :

ويشترط كونه بلفظ الله ولفظ حمد وما اشتق منه كالحمد لله أو أحمد الله أو الله أحمد أو لله الحمد أو أنا حامد لله فخرج الحمد للرحمن والشكر لله ونحوهما فلا يكفي

Disyaratkan terdapatnya pujian kepada Allah memakai kata Allah serta lafadh hamdun ataupun lafadh- lafadh yang satu pangkal kata dengannya. Semacam alhamdulillah, ahmadu- Llâha, Allâha ahmadu, Lillâhi al- hamdu, ana hamidun lillâhi, tidak lumayan al- hamdu lirrahmân, asy- syukru lillâhi, serta sejenisnya, hingga tidak memadai.”

 

Kedua,

membaca sholawat dalam dua khotbah
Sumber: islamnu.or.id

Membaca sholawat nabi di khotbah pertama dan kedua.

Salah satu bentuk keistimewaan dari Sholawat nabi adalah diberlakukannya rukun-rukun yang ada dalam ibadah dengan sholawat, seperti membaca shalawat nabi ketika sholat dan membaca shalawat ketika khotbah Jumat.

Sholawat yang dijadikan rukun dalam suatu ibadah merupakan implementasi dari firman Allah dalam suatu ayat ya ayyuhalladzina amanu Shollu Alaihi wasallimu taslima.

Pelafalan sholawat dalam khotbah Jumat harus dengan kalimat yang eksplisit tidak boleh dengan menggunakan kalimat implisit atau dalam bahasa Arab disebut dengan istilah Isim dhohir bukan Isim dhomir.

Itu harus dengan lafadz Allahumma sholli ala sayyidina muhammad atau menggunakan nama Rasulullah yang lain seperti “al-Rasul”, “Ahmad”, “al-Nabi”, “al-Basyir”, “al-Nadzir” dan lain-lain.

Contoh penggunaan kalimat yang lain yang benar adalah assolatu Ala Ahmad,   ana usholli ala muhammad.

Sedangkan contoh yang salah dalam mengucapkan sholawat adalah dengan lafadz “Sallama allahu ala muhammad, rahimallahu ala ahmad”.

 

Ketiga,

Wasiat untuk melaksanakan ketaqwaan pada khotbah pertama dan kedua.

Sholat Jumat merupakan media untuk memberikan pesan kebaikan dan ketaatan kepada Allah Ta’ala. Pesan nabi kepada Ali bahwa selama 40 hari orang tidak mendengarkan tausiah maka akan keras hatinya.

 

ياعَلي، إذا أتى على المؤمن أربعون صباحًا ولم يجالس العلماء قسى قلبه، وجسر على الكبائر؛ لأن العلم حياة القلب

Wahai Ali, kala tiba empat puluh hari kepada seseorang mukmin, serta (sepanjang itu pula) dia tidak berkumpul dengan ulama, hingga keraslah hatinya, serta berani melaksanakan dosa besar. Sebab (hakikatnya) ilmu itu (mempunyai) hati yang malu (kepada Allah).

Penggunaan kalimat untuk wasiat kepada ketaatan tidak baku dengan artian bisa dengan menggunakan kalimat-kalimat yang variatif. Bisa menggunakan kalimat “ Athi’ ullaha, taatlah kamu kepada Allah”,“ ittaqullaha, bertakwalah kamu kepada Allah”,“ inzajiruanil maksiat, jauhilah maksiat”. Tidak hanya sebatas menegaskan dari tipu daya dunia, tanpa terdapat pesan mengajak ketaatan ataupun menghindari kemaksiatan.

 

Keempat,

Membaca ayat Al Quran disalah satu dua khotbah

Rukun khutbah yang keempat adalah membaca ayat al-quran di salah satu khotbah akan tetapi biasanya paran khatib membaca ayat al-quran ini sebelum selesai khotbah yang pertama.

Membaca ayat al-quran ini umumnya berkaitan dengan ancaman dan nikmat dari Allah umat muslim yang melakukan kebaikan sehingga diberi nikmat dan yang melakukan keburukan akan diberi siksa dari Allah.

Dalam pembacaan ayat Alquran ketika khotbah diharuskan membaca ayat Alquran yang maknanya sempurna sehingga para hadirin dapat memahami Alquran tidak sepotong-sepotong.

Seperti membaca Surat Al Ashr ayat 1 sampai 3

Tidak cukup hanya mengambil ayat yang yang maknanya tidak sempurna seperti contoh

ثُمَّ نَظَرَ

 

“Kemudian dia memikirkan” (QS. Al-Muddatsir ayat 21).

 

Kelima,

Berdoa untuk kaum mukmin di khutbah terakhir

Doa dalam khotbah yang kedua di syaratkan isi kandungannya mengarah kepada hal-hal yang bersifat ukhrawi seperti doa untuk mendapat ampunan dari Allah doa untuk mendapatkan ridha dan surga nya Allah. Bukan sebaliknya yaitu berdoa untuk umat muslim akan hal-hal yang bersifat duniawi.

Berikut ini contoh doa-doa yang dipanjatkan ketika khotbah kedua sholat Jumat :

اللهم اغفر للمسلمين والمسلمات

Ya Allah, ampunilah kaum muslimin dan muslimat

اللهم اجرنا من النار

Ya Allah, semoga engkau menyelamatkan kami dari neraka.

اللهم ارحم امة سيدنا محمد

Ya Allah, rahmatilah umat sayyidina muhammad

 

Syarat Khutbah Jumat

syarat khutbah jumat
Sumber : almowaten.net

Setelah kita mengetahui tentang rukun rukun yang harus dilaksanakan dalam khotbah Jumat selanjutnya kita membahas mengenai syarat-syarat yang harus terpenuhi ketika khotbah Jumat

Besar Mazhab Syafi’i mengatakan bahwa khotbah Jumat memiliki sembilan syarat yaitu sebagai berikut:

  1. Dilakukan Setelah Matahari Tergelincir

Sholat Jumat berlangsung dengan diawali khotbah Jumat dan kemudian di langsungkan sholat Jumat. Khotbah Jumat menurut Sebagian ulama merupakan pengganti dari dua rokaat sholat dhuhur. Maksudnya adalah ketika sholat Jumat berlangsung didahului dengan dua khotbah dan dua rakaat bisa disamakan dengan empat rokaat sholat Dhuhur.

Dengan demikian disyariatkannya dilakukan setelah tergelincirnya matahari mempunyai sebab bahwa sholat dzuhur harus dilakukan setelah tergelincirnya matahari melihat alasan Seperti yang saya ungkapkan di atas (khotbah mengganti dua rakaat sholat dhuhur).

  1. Berdiri Bagi Yang Mampu

Syarat khotbah Jumat yang kedua adalah khatib diwajibkan berdiri bagi yang mampu. Disyaratkan berdiri bagi saat khotbah merupakan perbuatan yang disandarkan kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam dan para sahabatnya.

Dalam sebuah hadis meriwayatkan bahwa Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam Abu Bakar Usman dan Umar melakukan khotbah Jumat dengan berdiri sedangkan orang yang dengan duduk dimulai oleh muawiyah bin Abi Sufyan.

Muawiyah bin Abi Sufyan khotbah dengan duduk karena banyaknya lemak pada perut dan banyaknya daging sehingga dia tidak mampu khotbah dengan berdiri.

وري ابن ابي شيبه عن الطاوس  قال خطب رسول الله صلى الله عليه وسلم قائما وابو بكر وعمر وعثمان و اول من جلس على المنبر معاويه

  1. Duduk Diantara Dua Khotbah

duduk diantara dua khutbah
Sumber : bincangsyariah.com

Dalam kitab fiqih sunnah dikarang oleh Sayyid Sabiq menjelaskan bahwa sifat Jumatnya Rasul ketika khotbah adalah duduk sejenak diantara dua khotbah.

Hal ini berlandaskan dari hadis yang diriwayatkan oleh jamaah bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam khotbah Jumat dengan berdiri kemudian duduk diantara dua khotbah tersebut.

فعن ابن عمر رضي الله عنهما قال كان النبي صلى الله عليه وسلم يخطبه يوم الجمعة قائما ثم يجلس ثم يقوم كما يفعلون اليوم

  1. Bersih Dari Hadas Kecil Dan Hadas Besar

Seperti yang sudah saya sampaikan diatas bahwa khotbah sholat Jumat seperti menggantikan dua rokaat sholat zuhur sehingga diwajibkan suci dari hadas kecil dan hadas besar.

  1. Bersih Dari Najis Badan Pakaian Dan Tempat Khotbah

Selain bersuci dari hadas kecil dan hadas besar khotbah diharuskan pakaian badan dan tempatnya   harus suci dan najis.

  1. Menutupi Aurat

Ibadah sholat Jumat merupakan ibadah yang sakral sehingga Allah Subhanahu Wa Ta’ala memerintahkan kepada umat muslim untuk segera melaksanakan sholat Jumat ketika ada panggilan adzan Jumat

Karena sholat Jumat merupakan ibadah dan khotbah bagian dari sholat Jumat tersebut maka khatib wajib menutup aurat ketika sedang khotbah.

  1. Mendahulukan Khotbah Dan Mengakhirkan Sholat Jumat

Dalam madzhab Imam Syafi’i sholat Jumat harus didahului dengan dua khotbah dan kemudian Jumat dua rakaat

  1. Yang Mendengarkan Khotbah Harus Empat Puluh Orang Jamaah

Jumhur ulama Mazhab Syafi’i mengatakan bahwa salah satu syarat dalam sholat Jumat adalah dihadiri empat puluh orang jamaah laki-laki yang menetap dalam satu desa. Dia tidak dikatakan sah apabila dalam majelis sholat Jumat tersebut masyarakat setempat kurang dari empat puluh jamaah.

Dalam Mazhab Syafi’i ada ketentuan jika suatu desa terdapat dua masjid maka masjid yang terakhir kali takbiratul ihram tidak bisa dikatakan sah karena terdapat dua masjid dalam satu desa.

Ketika hal tersebut terjadi ada satu solusi untuk menggantikan sholat Jumat yang tidak sah tersebut yaitu dengan melakukan shalat i’adah.

  1. Rukun Khutbah Jumat Menggunakan Bahasa Arab

Rukun-rukun yang ada dalam khotbah Jumat harus menggunakan bahasa Arab. Hukum tersebut diposisikan seperti Takbiratul Ihram dan tasyahud pada sholat sehingga sholat tidak sah jika tidak menggunakan bahasa Arab. Begitu pula ketika khotbah jumat harus menggunakan bahasa Arab dalam menetapkan rukun-rukunnya. Hal ini didasari dari hadis Nabi Shallallahu Alaihi Wa Sallam yang mengatakan “Shollu Kama roaitumuni usholli”. shalatlah kalian sebagaimana kalian melihat aku sholat.

 

Demikian pembahasan pada kesempatan ini mengenai lima rukun khutbah Jumat dan sembilan syarat-syaratnya. Semoga apa yang kita pelajari pada kesempatan kali ini memberikan manfaat dan menjadikan ridho Allah kepada kita semua. Dan akhirnya wallahul muwafiq Ila aqwamith Thariq Wassalamualaikum

«     »

Questions & Feedback

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.