Kang Santri

Catatan Kang Santri

17 Rukun Dan 8 Syarat Sah Shalat

Home Panduan Tuntunan Sholat 17 Rukun Dan 8 Syarat Sah Shalat
rukun sholat yang harus terpenuhi

Rukun dan syarat sah sholat – shalat memiliki rukun dan syarat yang harus terpenuhi supaya shalat tersebut sah. Dalam pembahasan fiqih terdapat rukun yang jumlahnya berbeda-beda karena hasil ijtihad masing-masing Imam Madzhab berbeda. Sebelum membahas mengenai poin-poin dari pembahasan rukun dan syarat shalat kita bedakan dulu antara rukun dan syarat.

Pengertian Rukun Dan Syarat

rukun sholat yang harus terpenuhi
Sumber: m.elwatannews.com

Shalat merupakan salah satu dari rukun Islam yang harus dipenuhi oleh setiap muslim. Orang yang mendirikan sholat sejatinya sedang menegakkan agama Islam. Selain itu seseorang yang mendirikan shalat menujukkan bahwa dia seorang yang beragama Islam dan iman kepada Allah.
Rukun adalah unsur-unsur yang harus terpenuhi ketika pelaksanaan suatu ibadah atau muamalah atau kegiatan yang lain. Seperti contoh rukun dari pernikahan adalah harus ada kedua mempelai, wali, ijab, qabul, dua orang saksi.

Semua unsur tersebut tidak boleh yang kurang walaupun hanya satu, jika kurang maka tidak sah pernikahannya. Begitu juga dengan shalat, semua rukun harus terpenuhi tanpa terkecuali untuk menggapai sahnya shalat dan pahala yang sempurna.

Sedangkan yang dinamakan syarat adalah segala sesuatu yang harus terpenuhi selama melaksanakan ibadah, muamalah atau hal lain. Seperti contoh syarat mumayiz (cakap hukum) melakukan perdagangan maka selama belum cakap hukum belum boleh melakukan transaksi perdagangan. Hal-hal tersebut -yang berkaitan dengan shalat- akan kita bahas pada poin selanjutnya.

Rukun Shalat

rukun dan syarat sah Shalat

Shalat merupakan ibadah yang tuntunannya sudah dijelaskan secara detail oleh Rasulullah Muhammad SAW. melalui hadits yang diriwayatkan oleh para sahabatnya. Rasulullah memerintahkan kita untuk shalat seperti apa yang Rasulullah perintahkan “shallu kama raaitumuni ushalli (shalatlah kamu semua sebagaimana aku shalat)HR. Al-Bukhari”.

Secara sederhana dan terperinci Rasulullah menjelaskan rukun shalat dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Syaikhani Bukhari Muslim.

إذا قمت الى الصلاة فكبر ثم اقرأ ما تيسر معك من القران ثم اركع حتى تطمئن راكعا ثم ارفع حتى تعتدل قائما ثم اسجد حتى تطمئن ساجدا ثم ارفع حتى تطمئن جالسا ثم افعل ذلك في صلاتك كلها (رواه البخاري مسلم)

Berangkat dari hadits ini para fuqaha menjelaskan mengenai rukun shalat yang harus dilakukan oleh seorang yang shalat salah satunya Syaikh Samsudin Muhammad Bin Al-Khatib Asy-Syarbini dan Syaikh Nawawi Al-Bantani yang akan kita bahas dalam artikel ini.

Dalam melaksanakan sholat wajib hukumnya melakukan fardhu-fardhunya supaya sholat kita sah dan diterima oleh Allah. Pelaksanaan rukun dan syarat tersebut berlaku untuk sholat lima waktu dan sholat sunnah.

Dilansir dari islam.nu.or.id  menjelaskan mengenai pengertian rukun sebagai berikut :

“ Arti rukun. Rukun dalam suatu perbuatan yakni bagian mendasar dari suatu tersebut, semacam tembok untuk bangunan. Bagaikan bagian- bagian shalat merupakan rukun- rukunnya semacam ruku’ serta sujud. Tidak hendak sempurna keberadaan shalat serta tidak hendak jadi legal kecuali apabila seluruh bagian shalat tertunaikan dengan wujud serta urutan yang setimpal sebagaimana sudah dipraktekkan oleh Nabi SAW” (Mustafa al-Khin dan Musthafa al-Bugha, Al-Fiqh al-Manhaji ‘ala Madzhab al-Imâm al-Syâfi’i (Surabaya: Al-Fithrah, 2000), juz I, hal. 129)

Rukun shalat menurut Syaikh Samsudin Muhammad Bin Al-Khatib Asy-Syarbini dalam kitab karangannya Mughni Al-Muhtaj terdapat tiga belas. Jumlah rukun ini berbeda dengan yang disampaikan oleh Syaikh Nawawi Al-Bantani yang berjumlah tujuh belas. Perbedaan tersebut dikarenakan Syaikh Nawawi menambahkan tuma’ninah (diam sejenak) yang jumlahnya empat sebagai rukun shalat. Rukun shalat tersebut adalah sebagai berikut:

  1. Niat

Setelah muadzin mengumandangkan adzan kemudian iqamat berarti menandai sholat berjamaah sudah akan dimulai. Rukun yang pertama dalam sholat adalah niat dalam hati. Sudah kita maklumi dan sering kita dengarkan bahwa setiap amal membutuhkan niat. Seperti hadits yang menjelaskan tentang niat “innamal a’malu bin niat” yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari yang bersumber dari Sahabat Umar  No. Hadits 4904. Terlebih lagi ibadah shalat yang merupakan tiang dari agama dan amal orang muslim tanpa niat akan sia-sia.

Tempat niat adalah di dalam hati akan tetapi mengucapkan niat merupakan kesunahan karena dengan mengucapkan tersebut membantu hati menjadi khudzur (krentek;bahasa jawa) sehingga tidak ada was-was. Niat diwajibkan harus bersamaan dengan takbiratul ihram.

Niat dalam shalat wajib mengandung unsur yang pertama tujuan shalat, jika niat shalat maka harus di sebut shalatnya dengan lafadz “usholli”. Kedua mengandung wajib atau sunnahnya shalat. Ketiga penentuan shalat semisal shalat dhuhur maka harus terkandung dalam niat. Keempat mengucapkan lillahi ta’ala.

1.1Niat Shalat Subuh

اُصَلِّيْ فَرْضَ الصبح ركعتين مُسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةِ اَدَاءً (مَأْمُوْمًا / إِماَمًا) لله تعالى

Ushalli fardhas subhi rak’ataini mustaqbilal qiblati ada’an (makmuman / imaman) lillahi ta’ala.

Artinya : Saya niat shalat fardhu subuh dua rakaat dengan menghadap qiblat dengan tepat waktunya (dengan menjadi makmum/imam) karena Allah Ta’ala.

1.2Niat shalat dhuhur

اُصَلِّيْ فَرْضَ الظُّهْرِ اَرْبَعَ رَكَعَاتٍ مُسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةِ اَدَاءً (مَأْمُوْمًا / إِماَمًا) لله تعالى

Ushalli fardha dhuhri arba’a rakaatin mustaqbilal qiblati ada’an (makmuman / imaman) lillahi ta’ala.

Artinya : Saya niat shalat fardhu dhuhur empat rakaat dengan menghadap qiblat dengan tepat waktunya (dengan menjadi makmum/imam) karena Allah Ta’ala.

1.3Niat shalat ashar

اُصَلِّيْ فَرْضَ الْعَصْرِ اَرْبَعَ رَكَعَاتٍ مُسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةِ اَدَاءً (مَأْمُوْمًا / إِماَمًا) لله تعالى

Ushalli fardhal ashri arba’a rakaatin mustaqbilal qiblati ada’an (makmuman / imaman) lillahi ta’ala.

Artinya : Saya niat shalat fardhu ashar empat rakaat dengan menghadap qiblat dengan tepat waktunya (dengan menjadi makmum/imam) karena Allah Ta’ala.

1.4Niat shalat maghrib

اُصَلِّيْ فَرْضَ الْمَغْرِبِ ثَلَاثَ رَكَعَاتٍ مُسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةِ اَدَاءً (مَأْمُوْمًا / إِماَمًا) لله تعالى

Ushalli fardhal maghribi tsalatsa rakaatin mustaqbilal qiblati ada’an (makmuman / imaman) lillahi ta’ala.

Artinya : Saya niat shalat fardhu maghrib tiga rakaat dengan menghadap qiblat dengan tepat waktunya (dengan menjadi makmum/imam) karena Allah Ta’ala.

1.5Niat shalat isya’

اُصَلِّيْ فَرْضَ الْعِشَاءِ اَرْبَعَ رَكَعَاتٍ مُسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةِ اَدَاءً (مَأْمُوْمًا / إِماَمًا) لله تعالى

Ushalli fardhal isya’i arba’a rakaatin mustaqbilal qiblati ada’an (makmuman / imaman) lillahi ta’ala.

Artinya : Saya niat shalat fardhu isya’ empat rakaat dengan menghadap qiblat dengan tepat waktunya (dengan menjadi makmum/imam) karena Allah Ta’ala.

Takbiratul ihram

  1. Takbiratul Ihram

Takbiratul ihram dilakukan pada saat orang berdiri ((bagi yang mampu) atau keadaan lain) dan hendak memulai shalat. Lafadz takbiratul ihram harus dengan Allahu Akbar tidak boleh ditambah atau dikurang ataupun diganti dengan lafadz yang merupakan sifat lain seperti Allahul Jalil Akbar. Lafadz takbiratul ihram juga tidak boleh diganti dengan terjemahan. Ketika seseorang sedang takbiratul ihram disyaratkan harus mendengar apa yang ia ucapkan.

  1. Berdiri bagi yang mampu

Berdiri merupakan rukun shalat bagi yang mampu, jika tidak mampu boleh dengan duduk, bila tidak mampu maka dengan berbaring. Hal ini sesuai dengan hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari Muslim.

صل قائما فان لم تستطع فعلى جنب (رواه بخاري مسلم)

“shalatlah kamu dengan berdiri, jika tidak mampu maka dengan berbaring”.

  1. Membaca surat fatihah

Membaca surat fatihah harus dengan baik sesuai dengan tajwid, panjang pendeknya beserta tasydid dan urutannya. Membaca fatihah merupakan rukun setiap orang shalat baik itu menjadi makmum terlebih imam. Sesuai dengan sebuah hadits Imam Bukhari Muslim.

لاَ صَلاَةَ ِلمَنْ لَمْ يَقْرَأْ بِفَاتِحَةِ الْكِتَاب

“tidak sah shalat seseorang yang tidak membaca fatihah”

Basmalah adalah termasuk dari surat fatihah, maka membaca fatihah merupakan suatu kewajiban. Hal ini bukan tanpa dasar, melainkan sesuai dengan apa yang diriwayatkan oleh Ibnu Khuzaimah dalam kitab sahihnya.

روى ام سلمة رضي الله عنها ان النبي صلى الله عليه وسلم قرأ بسم الله الرحمن الرحيم في اول الفاتحة في الصلاة وعدّها اية (رواه ابن خز يمة)

  1. Rukuk

Rukuk dalam shalat adalah membungkukkan badan dengan telapak tangan memegang lutut dengan lutut yang lurus sehingga antara punggung dengan kepala menjadi sejajar. Di dalam rukuk disyaratkan tuma’ninah yaitu tenang sejenak. Bacaan ketika rukuk adalah “subhana rabbiyal adhimi wabihamdih” sebanyak tiga kali.

  1. Tuma’ninah saat rukuk

Saat rukuk disyaratkan tuma’ninah sesuai dengan perintah nabi “kemudian rukuklah kamu sampai tuma’ninah”.

  1. I’tidal

I’tidal adalah berdiri setelah rukuk dan disyaratkan juga untuk tuma’ninah. Bacaan pada saat i’tidal adalah

سمع الله لمن حمده . ربنا لك الحمد ملء السموات وملء الارض وملء ما شئت من شيئ بعد.

“sami’allahu liman hamidah, rabbana lakal hamdu mil’us samawati wamil’ul ardhi wamil’u ma syi’ta min syai’in ba’du”.

  1. Tuma’ninah saat I’tidal

Saat i’tidal atau setelah berdiri dari rukuk harus tuma’ninah (tenang sejenak kira-kira membaca subhanallah).

  1. Dua Kali Sujud

sujud
Sumber: edarabia.com

Ketika seseorang dalam posisi i’tidal dan hendak melakukan sujud tidak disunnahkan mengangkat tangan. Disunnahkan mendahulukan lutut berpijak dilantai mengakhirkan tangan. Sujud mempunyai rukun yaitu anggota badan yang jumlahnya tujuh wajib menempel pada lantai. Tujuh tersebut adalah dua telapak kaki, dua lutut, dua telapak tangan dan kening.

  1. Tuma’ninah sujud

Pada posisi sujud ini disyaratkan harus tuma’ninah dan disunnahkan membaca “subhana rabbiyal a’la wabihamdih” sebanyak tiga kali.

  1. Duduk diantara dua sujud

Setelah melakukan sujud rukun selanjutnya adalah duduk sebelum melakukan sujud yang kedua. Adapun bacaan yang disunnahkan ketika duduk ini adalah sebagai berikut :

ربّ اغفرلي وارحمني واجبرني وارفعني وارزقني واهدني وعافني واعف عنّي

“Rabbighfir li warhamni wajburni warfa’ni warzuqni wahdini wa’aafini wa’fu anni”.

  1. Tuma’ninah saat duduk diantara dua sujud

Disyaratkan pula tuma’ninah pada saat duduk diantara dua sujud ini.

  1. Membaca tasyahud / tahiyyat akhir

Bacaan tasyahud akhir sudah dijelaskan oleh Nabi melalui sabdanya yang diriwatkan oleh syaikhani Bukhari Muslim dari Ibnu Abbas radhiyallahu anhuma.

عن ابن عباس رضي الله عنهما قال : كان رسول الله صلى الله عليه وسلم يعلمنا التشهد كما يعلمنا السورة فيقول : قولوا التحيات المباركات الصلوات الطيبات لله السلام عليك ايها النبي ورحمة الله وبركاته السلام علينا وعلى عباد الله الصالحين . اشهد ان لا اله الا الله واشهد ان محمدا عبده ورسوله. (رواه البخاري و مسلم)

Berikut ini bacaan tasyahud akhir  lengkap:

التَّحِيَّاتُ الْمُبَارَكَاتُ الصَّلَوَاتُ الطَّيِّبَاتُ لله السَّلَامُ عَلَيْكَ اَيُّهَا النَّبِيُّ وَرَحْمَةُ الله وَبَرَكَاتُهُ السَّلَامُ عَلَيْنَا وَعَلَى عِبَادِ الله الصَّالِحِيْنَ . اَشْهَدُ اَنْ لَا اِلٰهَ اِلَّا الله وَاَشْهَدُ اَنَّ محمداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.  اللهم صل على سيدنا محمد وَعَلَى اٰلِ سَيِّدِنَا محمد .كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَعلَى اٰلِ سَيِّدَنَا اِبْرَاهِيْمَ . وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا محمد وَعَلَى اٰلِ سَيِّدِنَا محمد . كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى اٰلِ سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ. فِيْ الْعَالَمِيْنَ اِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ . يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوْبِ ثَبِّتْ قَلْبِيْ عَلَى دِيْنِكَ.

 

Shalat

  1. Duduk Tasyahud/Tahiyat Akhir

Duduk tahiyat akhir adalah duduk terakhir sebelum salam. Pada saat duduk tahiyat akhir posisi kaki kiri disilangkang di bawah kaki kanan. Sedangkan kaki kanan ujung jari seperti jinjit. Pada saat tahiyat akhir ketika membaca syahadat ibu jari digerakkan menunjuk ke depan. Sedangkan jari yang lain digenggam.

  1. Membaca shalawat setelah tahiyat

Salah satu dari sekian banyak rukun adalah shalawat kepada nabi. Pada tulisan di atas mengenai bacaan tahiyat akhir sudah lengkap beserta dengan bacaan shalawat. Bacaan tersebut adalah اللهم صل على سيدنا محمد وَعَلَى اٰلِ سَيِّدِنَا محمد.

  1. Membaca salam yang pertama

Salam merupakan pemungkas dari ibadah shalat. Salam yang pertama diucapkan minimal asslamualaikum. Akan tetapi lebih afdhol jika diucapkan assalamualaikum warahmatullah. Jika seseorang telah membaca salam yang pertama sebenarnya sudah selesai sholat. akan tetapi ada kesunnahan setelah salam yang pertama, yaitu salam yang kedua.

  1. Tertib dan runtut

Mendahulukan yang awal dan mengakhirkan yang akhir -seperti membaca surat al-fatihah lebih dahulu sebelum rukuk- merupakan rukun terakhir dari shalat.

Setelah semua ini selesai maka selesailah sholat kita. Selanjutnya Rasulullah memerintahkan kepada umatnya untuk melakukan dzikir dan berdoa setelah sholat wajib lima waktu.

Syarat Sah Shalat

Berbeda dengan rukun. Syarat merupakan hal yang harus selalu ada dalam melakukan ibadah seperti harus selalu suci dalam sholat. Menurut syaikh Nawawi Al-Bantani Al-Jawi dalam kitabnya Kasyifatus Saja menjelaskan bahwa syarat supaya sah shalat seseorang harus memenuhi delapan hal. Delapan hal tersebut adalah sebagai berikut penjelasannya.

Pertama,

Suci dari hadats baik kecil maupun hadats besar.

Yang dimaksud hadats kecil adalah hal-hal yang mewajibkan seseorang untuk berwudhu diantaranya adalah tidur, kencing dan hajat (buang air besar). Yang dimaksud dengan hadats besar adalah perbuatan seseorang yang mewajibkan dia harus mandi jinabat.

Jika seseorang melakukan shalat dalam keadaan tidak suci dari dua hadats tersebut  maka shalatnya tidak sah dan wajib untuk mengulangi. Baik karena lupa atau memang sengaja melakukan shalat tanpa bersuci.

Kedua,

Suci dari najis.

Yang diharuskan suci dari najis adalah pakaian, tempat dan badan. Ketika hendak melaksanakan shalat, baik itu sholat dhuha, sholat hajat ataupun sholat yang lainnya sebaiknya kita mengingat-ingat apakah pakaian yang kita kenakan saat shalat suci atau tidak. Tempat yang kita gunakan shalat ada najis atau sudah suci.

Ketiga,

Menutup aurat.

Yang dimaksud dengan menutup aurat adalah menutup kulit dengan pakaian supaya tidak terlihat dan menerawang. Jika ketika shalat dalam posisi sujud atau rukuk aurat terbuka maka shalatnya batal. Sedangkan batas aurat ketika shalat bagi orang laki-laki adalah antara lutut dan pusar dan bagi wanita adalah seluruh badan kecuali telapak tangan dan wajah.

Keempat,

Menghadap kiblat.

Menghadap kiblat merupakan salah satu dari syarat sah shalat. Yang dimaksud dengan menghadapkan kiblat adalah dada orang yang sedang melakukan shalat harus menghadap kiblat bukan wajahnya. Dengan demikian jika seseorang salam yang pertama ketika hendak mengakhiri shalat sampai dadanya ikut bergerak, maka shalat orang tersebut harus diulangi karena berpaling dari kiblat.

Sesuai dengan firman Allah berikut :

فول وجوهكم شطر المسجد الحرام وحيث ما كنتم فولوا وجوهكم شطره (البقرة : ۱۴۴)

Batasan menghadap kiblat adalah harus menghadap fisik kiblat ketika shalat di masjidil haram dan jihatul kiblat (mendekati wilayah masjidil haram). Maka dari itu penting bagi kita untuk menentukan arah kiblat sesuai dengan arahan dari KEMENAG atau organisasi keagamaan seperti NU supaya kiblat kita tidak salah dan shalat menjadi sah.

Kelima,

Mengetahui masuknya waktu shalat.

Mengetahui masuknya waktu shalat baik dengan keyakinan maupun dengan prasangka dengan syarat harus disertai dengan ijtihad. Di setiap daerah biasanya sudah ada pedoman waktu shalat sepanjang masa yang disusun oleh KEMENAG, NU atau organisasi keagamaan yang lain sehingga memudahkan untuk mengetahui masuknya waktu shalat. Jika kita hendak melaksanakan shalat seyogyanya melihat waktu apakah sudah masuk atau belum.

Mengetahui waktu sholat ini menjadi penting karena ada beberapa waktu yang diharamkan sholat seperti setelah sholat ashar, dan ketika matahari terbenam.

Keenam,

Mengetahui fardhunya shalat. Dalam ibadah sholat ada aturan yang harus diperhatikan, yaitu biasa fahami dengan rukun dan syarat sholat. Fardhu sholat harus diketahui dan dibedakan dengan sunnah untuk keabsahan sholat. Tidak menganggap membaca doa iftitah sebagai fardhu dan takbiratul ihram adalah wajib atau fardhu sholat.

Ketujuh,

Tidak menganggap dan meyakini fardhu sebagai sunnah shalat. Dalam tatacara sholat telah mengatur mengenai fardhu dan sunnah-sunnah sholat. Diantaranya adalah meyakini bahwa membaca Al-Fatihah merupakan fardhu dan doa qunut adalah sunnah (ab’adl).

Kedelapan,

Menghindari dari hal-hal yang membatalkan shalat. Ada banyak sekali hal-hal yang membatalkan wudhu diantaranya adalah berbicara. seseorang tidak sah sholatnya jika dalam sholatnya keluar kata-kata (berbicara). Selain itu ada juga hal yang membatalkan shalat yaitu gerakan tubuh yang melebihi tiga gerakan.

Demikian penjelasan mengenai 17 rukun dan 8 syarat sah sholat. Apabila ada hal-hal yang perlu dikoreksi saya mohon anda bisa menyampaikan lewat komentar. Semoga bisa membawa manfaat dan keberkahan bagi kita semua. Allahumma Amin.

«     »

One comment on “17 Rukun Dan 8 Syarat Sah Shalat

Questions & Feedback

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.