Manfaat, Niat dan Doa Shalat Dhuha

 

Shalat dhuha, manfaat, keutamaan dan niat shalat dhuha
Shalat Dhuha

Shalat dhuha-merupakan shalat yang dilaksanakan pada pagi hari setelah matahari terbit kira-kira satu tombak atau  tujuh kali dari bayangan suatu benda. Menurut Abdurrahman Aljaziri dalam kitab fiqih empat madzhabnya jumlah rakaat shalat dhuha adalah dua rakaat dan maksimal delapan rakaat. Akan tetapi jika lebih dari delapan rakaat atau lebih dari dua belas rakaat tetap mendapatkan pahala shalat sunnah.

Dalam beberapa hadits menyebutkan bahwa jumlah rakaat shalat dhuha ada yang mengatakan delapan ada juga yang mengatakan dua belas. Dengan demikian dapat disimpulkan dari beberapa hadits tersebut batas minimal shalat dhuha dua rakaat dan maksimal dua belas rakaat. Menurut madzhab Syafi’iyyah shalat dhuha disunnahkan diqodho ketika telah melewati waktu dhuha.

Hadits tentang shalat dhuha

Ada beberapa riwat yang menjelaskan mengenai kesunnahan shalat dhuha. Diantaranya adalah hadist dari Aisyah R.A diriwayatkan oleh Abu Ya’la dan Imam Muslim.

(كان رسول الله صلى الله عليه وسلم يصلي الضحى اربع ركعات  لا يفصل بينهن بكلام (رواه ابو يعلى الموصلي

“Rasulullah SAW. Melakukan shalat dhuha empat rakaat dan tidak pisah dengan pembicaraan” (HR. Abu Ya’la).

(كان رسول الله صلى الله عليه وسلم يصلي الضحى اربعا , ويزد ما شاء الله (رواه مسلم

Waktu shalat dhuha

Waktu merupakan makhluk Allah yang mempunyai banyak misteri dan memiliki keistimewaan yang tersembunyi. Hal ini didasari dengan firman Allah tentang waktu dalam surat Al-Ashr dan surat-surat yang lain yang berhubungan dengan waktu seperti surat Al-Lail, Adh-Dhuha.

Waktu shalat dhuha merupakan waktu yang istimewa. Dalam setiap ayat Al-Qur’an yang menyebutkan makhluk Allah sebagai sumpahNya berarti makhluk tersebut istimewa menurut Allah, salah satunya adalah waktu dhuha.

Waktu shalat dhuha menurut kalangan ulama adalah mulai dari terbitnya matahari (sejak 15 menit terbinya matahari) hingga mendekati waktu zawal (tergelincirnya matahari). Secara umum waktu shalat dhuha dapat dibagi menjadi dua waktu, yaitu waktu awal dan waktu akhir.

  1. Waktu awal shalat dhuha

Waktu awal shalat dhuha adalah ketika matahari sudah naik kurang lebih 15 menit dari persinggahannya. Seperti yang telah diriwayatkan oleh Imam Muslim hadits riwayat ‘Amr bin ‘Abasah, Nabi SAW bersabda:

“Kerjakanlah shalat shubuh kemudian tinggalkanlah shalat hingga matahari terbit, sampai matahari naik. Ketika matahari terbit, ia terbit diantara dua tanduk setan, saat itu orang-orang kafir sedang bersujud.” (HR. Muslim no. 832)

  1. Waktu akhir shalat dhuha

Waktu shalat dhuha terahir adalah ketika matahari sudah mulai tergellincir ke arah barat (waktu zawal) atau kurang lebih 20 menit sebelum memasuki waktu dhuhur.

Waktu terbaik untuk melaksanakan shalat dhuha adalah ketika hari sudah memasuki seperempat waktu siang, atau kurang lebih jam 9 pagi sampai sebelum waktu zawal. Suatu ketika shahabat Zaid bin Arqom melihat sekelompok orang mengerjakan shalat dhuha,

kemudian ia berkata: “Mungkin mereka tidak tahu jika selain waktu yang mereka kerjakan sekarang ini ada yang lebih utama. Rasulullah SAW bersabda: Waktu paling baik mengerjakan shalat awwabin (shalat dhuha) adalah ketika seekor anak unta merasakan panasnya terik matahari.”(HR. Muslim no. 748)

Keutamaan shalat dhuha

Seperti dalam tulisan saya sebelumnya tentang shalat sunnah. Bahwa setiap shalat sunnah yang Rasulullah ajarkan kepada ummatnya mempunyai keistimewaan dan manfaat masing-masing. Bagi anda yang belum sempat membaca silahkan kunjungi link berikut  Shalat sunnah

  1. Shalat dhuha merupakan wasiat Nabi kepada Abu Hurairah

Abu Hurairah adalah salah satu sahabat terdekat nabi, begitu kedekatannya dengan nabi sehingga menjadikan salah satu periwayat hadits terbanyak. Karena kedekatannya inilah Abu Hurairah memanggilnya dengan sebutak kekasih.

Dalam hadits yang diriwayatkannya nabi mewasiatinya tentang tiga hal, seperti yang dijelaskan pada hadits yang diriwayatkan Imam Bukhari dan Muslim dari Abi Hurairah.

وعن ابي هريرة رضي الله عنه  قال : “أوصاني خليلي صلى الله عليه وسلم بثلاث : بصيام ثلاثة ايام في كل شهر وركعتي الضحى , وأن أوتر قبل أن أنام”(رواه البخاري ومسلم

 

“Dari Abi Hurairah R.A. berkata: Aku telah diberi wasiat oleh kekasihku (Rasulullah) Tiga perkara, yaitu puasa tiga hari setiap bulan, dua rakaat dhuha, dan shalat witir sebelum saya tidur” HR. Al-Bukhari dan Muslim.

  1. Shalat dhuha sama seperti sedekah dilakukan oleh setiap muslim

Dalam kitab fiqh sunnah karya Sayyid Sabiq menyebutkan bahwa salah satu dari fadhilah atau keutamaan shalat dhuha adalah sebagai ungkapan rasa syukur kita terhadap Allah karena telah memberikan nikmat dipagi hari dengan segala macam nikmat yang tidak bisa dihitung.

Dalam hadits berikut menceritakan bahwa setiap pergelangan sendi seseorang wajib disedekahi karena nikmat Allah yang diberikan kepada hambanya.

Hal ini menujukkan betapa besarnya nikmat Allah yang diberikan kepada hambanya sehingga rasulullah mnyebutkan hal yang kebanyakan orang melupakan nikmat berupa kesehatan anggota badan.

Selain sebagai rasa syukur shalat dhuha merupakan pelengkap amal ibadah bagi seorang muslim.

Begitu istimewanya shalat dhuha, tanpa shalat dhuha amal ibadah seseorang tidak dianggap sempurna.

عن أبي ذر رضي الله عنه قال : قال رسول الله صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ “يُصْبِحُ عَلَى كُلِّ سُلَامَى مِنْ أَحَدِكُمْ صَدَقَةٌ فَكُلُّ تَسْبِيحَةٍ صَدَقَةٌ وَكُلُّ تَحْمِيدَةٍ صَدَقَةٌ وَكُلُّ تَهْلِيلَةٍ صَدَقَةٌ وَكُلُّ تَكْبِيرَةٍ صَدَقَةٌ وَأَمْرٌ بِالْمَعْرُوفِ صَدَقَةٌ وَنَهْيٌ عَنْ الْمُنْكَرِ صَدَقَةٌ وَيُجْزِئُ مِنْ ذَلِكَ رَكْعَتَانِ يَرْكَعُهُمَا مِنْ الضُّحَى” (رواه أحمد ومسلم وأبو داود

Nabi shollallahu ’alaih wa sallam bersabda: “Hendaklah masing-masing kamu bersedekah untuk setiap ruas tulang badanmu pada setiap pagi. Sebab tiap kali bacaan tasbih itu adalah sedekah, setiap tahmid adalah sedekah, setiap tahlil adalah sedekah, setiap takbir adalah sedekah, menyuruh kepada yang ma’ruf adalah sedekah, mencegah yang mungkar adalah sedekah. Dan sebagai ganti dari semua itu, maka cukuplah mengerjakan dua rakaat sholat dhuha.”  HR. Ahmad, Muslim dan Abu Dawud.

 

ولأحمد وأبي داود عن بريدة أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال:” فِي الْإِنْسَانِ سِتُّونَ وَثَلَاثُ مِائَةِ مَفْصِلٍ فَعَلَيْهِ أَنْ يَتَصَدَّقَ عَنْ كُلِّ مَفْصِلٍ مِنْهَا صَدَقَةً قَالُوا فَمَنْ الَّذِي يُطِيقُ ذَلِكَ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ النُّخَاعَةُ فِي الْمَسْجِدِ تَدْفِنُهَا أَوْ الشَّيْءُ تُنَحِّيهِ عَنْ الطَّرِيقِ فَإِنْ لَمْ تَقْدِرْ فَرَكْعَتَا الضُّحَى تُجْزِئُ عَنْه”

“Dalam tubuh manusia itu ada 360 ruas tulang. Ia harus dikeluarkan sedekahnya untuk setiap ruas tulang tersebut.” Para sahabat bertanya: ”Siapalah yang mampu melaksanakan seperti itu, ya Rasulullah?” Beliau bersabda: ”Dahak yang ada di masjid lalu dipendam ke tanah, dan membuang sesuatu gangguan dari tengah jalan, maka itu berarti seuah sedekah. Akan tetapi jika tidak mampu melakukan itu semua, cukuplah engkau mengerjakan dua rakaat sholat Dhuha.” (HR Ahmad )

  1. Dicukupkan rejekinya oleh Allah

Shalat dhuha merupakan bentuk syukur seorang hamba kepada Allah karena nikmat-nikmatNya yang tak terbilang. Mengingat firmanNya bahwa jika hamba yang mensyukuri nikmat Allah akan menambah nikmat yang disyukurinya dan sebaliknya. Jika seseorang kufur terhadap nikmat yang diberikan maka Allah akan memberi adzab yang pedih.

Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad, At-Tirmidzi, Abu Dawud dan An-Nasa’i (hadits qudsi) menyampaikan bahwa Allah akan mencukupi hamba yang melaksanakan shalat (dhuha) pada pagi hari.

عن النواس بن سمعان رضي الله عنه أن النبي صلى الله عليه وسلم قال : ” عن الله تبارك وتعالى : ابن ادم اركع لي اربع ركعات من اول النهار اكفك اخره ” (رواه الترمذي  

  1. Akan dibangunkan istana di surga

Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi dari Anas bin Malik bahwa orang yang melaksanakan shalat dhuha sebanyak dua belas rakaat akan dibangunkan istana di syurga.

 عن أنس رضي الله عنه قال : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم ” من صلى الضحى ثنتين عشرة ركعة بنى الله له قصرا في الجنة” (رواه الترمذي

Niat shalat dhuha

Niat dalam suatu perbuatan merupakan hal yang paling mendasar. Tanpa niat amal perbuatan seseorang tidak diterima oleh Allah SWT. Begitu pula dengan shalat dhuha harus disertai dengan niat saat takbiratul ihram untuk melaksanakannya. Niat shalat dhuha adalah sebagai berikut:

اصلي سنة الضحى ركعتين مستقبل القبلة ادأ لله تعالى

LATIN” USHOLLII SUNNAATADLUHAA RAK’ATAINI MUSTAQBIL ALQIBLATI ADAA-A LLILLAAHI TA’AALA”

Artinya “Saya berniat sholat dhuha 2 rakaat menghadap kiblat karena allah ta’ala”.

Do’a Shalat dhuha

Doa setelah shalat dhuha
Doa setelah shalat dhuha

ALLAHUMMA INNADH DHUHA-A DHUHA-UKA, WAL BAHAA-A BAHAA-UKA, WAL JAMAALA JAMAALUKA, WAL QUWWATA QUWWATUKA, WAL QUDRATA QUDRATUKA, WAL ISHMATA ISHMATUKA. ALLAHUMA INKAANA RIZQI FIS SAMMA-I FA ANZILHU, WA INKAANA FIL ARDHI FA-AKHRIJHU, WA INKAANA MU’ASARAN FAYASSIRHU, WAINKAANA HARAAMAN FATHAHHIRHU, WA INKAANA BA’IDAN FA QARIBHU, BIHAQQIDUHAA-IKA WA BAHAAIKA, WA JAMAALIKA WA QUWWATIKA WA QUDRATIKA, AATINI MAA ATAITA ‘IBADIKASH SHALIHIN.

 

Artinya:

“Ya Allah, sesungguhnya waktu dhuha itu adalah dhuhamu, keagungan itu merupakan keagunganmu, keindahan itu merupakan keindahanmu, kekuatan itu adalah kekuatanmu, kekuasaan itu adalah kekuasaanmu”, dan penjagaan-penjagaan adalah penjagaanmu.

“Ya Allah, jika rezeki aku masih di langit maka turunkanlah, jika ada di dalam bumi maka keluarkanlah, jika sulit maka mudahkanlah, apabila itu haram maka sucikanlah, jika jauh maka dekatkanlah”.

“Demi kebenaran dhuhamu, keagunganmu, keindahanmu, kekuatanmu dan kekuasaanmu, berikanlah kepadaku sebagaimana apa yang engkau berikan kepada hambamu yang sholeh”.

 

 

Satu pemikiran pada “Manfaat, Niat dan Doa Shalat Dhuha

Tinggalkan komentar