Pengertian Dan Prinsip-Prinsip Dalam Ekonomi Syariah

Pengertian Dan Prinsip-Prinsip Dalam Ekonomi Syariah – Islam merupakan agama yang sempurna yang Allah turunkan di bumi sehingga mampu mencover segala kebutuhan manusia termasuk menjawab kebutuhan-kebutuhan manusia di dunia ini termasuk dalam dunia ekonomi.

Hal ini terbukti bahwa dalam Al-Qur’an terdapat aturan-aturan yang secara mendasar mengatur tentang hubungan antar sesama manusia. Seperti aturan tentang distribusi dan konsumsi yang diatur dalam syariah.

Perkembangan ekonomi syariah semakin hari semakin menujukkan perkembangan yang baik. Ditandai dengan berdiri dan berkembanganya bank-bank dan unit usaha syariah. Hal ini menunjukkan simpati dan pengetahuan masyarakat bahwa ekonomi Islam merupakan pilihan untuk hidup yang lebih baik.

Pernyataan berikut ini sudah ada lebih dari seperempat abad yang lalu dan menjadi spirit bagi dunia ekonomi Islam untuk bangkit dan berlanjut hingga kini.

It has become apparent that Islam as a rule of life and a system of thought is more populer than ever.. (the new activism) shares the same vision of a return to pure, pristine Islam and the same desire that all aspects of live be ruled Islamic norms.

“Sudah jelas bahwa Islam sebagai aturan hidup dan sistem pemikiran lebih populer daripada sebelumnya .. (aktivisme baru) berbagi visi yang sama tentang kembalinya ke murni, Islam murni dan keinginan yang sama bahwa semua aspek kehidupan menjadi memerintah norma-norma Islam”

Sebelum membicarakan tentang ekonomi Islam perlu kita ketahui apakah ekonomi syariah dalam Islam dan bagaimana prinsip-prinsip yang dipakai dalam ekonomi syariah?

Definisi Ekonomi Syariah

perbankan syariah merupakan aktualisasi dari pengertian dan prinsip-prinsip ekonomi syariah
Ilustrasi perusahaan perbankan

Para sarjana Islam telah memberikan definisi-definisi tentang ekonomi syariahdengan berbagai definisi. Akan tetapi menurut saya definisi tersebut bisa ditarik kesimpulan bahwa ekonomi syariah menekankan pada karakter yang didasarkan atas nilai moral ekonomi syariah yang bertujuan untuk menggapai falahdengan cara pengorganisasian sumber-sumber alam berdasarkan kooperasi dan partisipasi.

Definisi ini memiliki tiga kunci konsep (1)alfalah. Istilah ini secara harfiah memiliki makna menjadi bahagia, berhasil, atau menjadi orang yang berhasil. Kata al-falah juga mengandung makna kesejahteraan dunia dan akhirat sebagaimana makna doa “sapu jagat”, rabbana atina fi dunya hasanah wa fi al-khirati hasanah waqina azab al-nar.

Dengan demikian, diperlukan uraian pengertian al-falah dalam pengertian duniawi dan ukhrawi (temporal dan spiritual).

Menurut Prof. DR. Juhaya S. Praja dalam bukunya Pengertian al-falah dalam pengertian konsep kesejahteraan di dunia mengandung tiga makna utama: (1) al-baqa’ (survive); (2) al-gana (freedom from want); (3) ‘izz (power and honour).

Adapun makna konsepsional kesejahteraan di akhirat mengandung makna: (1) baqa bila fana (internal survival); (2) gana bila faqr (eternal prosperity); (3) ‘izz bila dhull (everlasting glory); (4) ‘ilm bila jahl (knowledge from ignore).

Dari pengertian falah di atas penulis menyimpulkan bahwa ujung dari akad yang dilakukan oleh beberapa orang akan menimbulkan kebahagiaan dan ketentraman sehingga bisa menjadi sarana untuk ibadah sosial dan ibadah mahdhah.

Prinsip-Prinsip Ekonomi Syariah

bisnis yang kita lakukan harus sesuai dengan pengerian awal ekonomi syariah beserta prinsip-prinsipnya
ilustrasi seorang pebisnis

Yang membedakan antara ekonomi syariah dengan ekonomi konvensional terletak pada prinsip-prinsip yang digunakan. Ekonomi Syariah menjunjung tinggi kejujuran sehingga setiap transaksi yang diakadkan dipastikan tidak ada kecurangan seperti spekulasi. Prinsip-prinsip yang berikut bertujuan untuk mencapai falah (kebahagiaan) umat manusia tanpa pandang bulu baik itu muslim maupun non muslim.

Prinsip umum ekonomi syariah

Prinsip umum ekonomi syariah ini tertuang dalam nash-nash alqur’an dan hadits. Nabi SAW. memberikan batasan-batasan secara umum mengenai muamalat cara berhubungan dengan sesama manusia, dalam hal ini berkaitan dengan ekonomi syariah. Secara garis besar prinsip-prinsip umum ekonomi syariah tersebut adalah sebagai berikut :

  1. Hutan, air, dan udara dengan segala isinya adalah milik Allah dan tidak boleh dimiliki oleh perorangan ataupun sekelompok tertentu bertujuan untuk mengeksploitasi.

عَنْ رَجُلٍ مِنَ الصَّحَابَةِ رَضِيَ اللهُ قَالَ: غَزَوْتُ مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَسَمِعْتُهُ يَقُوْلُ: «النَّاسُ شُرَكَاءُ فِيْ ثَلاَثَةٍ: فِي اْلكَلَإِ وَاْلمَاءِ وَالنَّارِ»رَوَاهُ أَحْمَدُ وَأَبُوْ دَاوُدَ رِجَالُهُ ثِقَاتٌ.

Dari salah seorang Sahabat radhiyallâhu‘anhu, ia berkata: Saya berperang bersama Nabi shallallâhu ‘alaihiwasallam, lalu aku mendengar beliau bersabda: “Manusia adalah serikat dalam tiga hal: dalam padang rumput, air, dan api”

(Diriwayatkan oleh Ahmad dan Abû Dâwud. Tokoh-tokohnya terpercaya)

  1. Negara adalah sebagai wakil Allah di muka bumi yang mempunyai kewajiban mengatur dan mengelola hutan, air, dan udara dengan segala isinya untuk memenihi kebutuhan hidup masyarakat.

Di negara Indonesia sudah ada undang-undang yang mengatur mengenai penggunaan sumberdaya alam. Yaitu mengenai penguasaan dan penggunaan sumberdaya alam  yang digunakan sebaik-baiknya untuk kesejahteraan rakyat.

Undang-undang tersebut tertuang dalam Pasal 33 ayat (3) Undang-Undang Dasar 1945 yang menentukan bahwa bumi, air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat. Dengan demikian pemberdayaan sumberdaya alam sudah sesuai dengan prinsip ekonomi syariah.

  1. Negara menjamin pertumbuhan ekonomi untuk kesejahteraan masyarakat secara jasmani dan rohani (spiritual).
  2. Negara menjamin kebebasan pasar selama pasar bekerja sesuai dengan garis ketentuan yang ditetapkan Allah, yaitu keadilan, keseimbangan, kemanusiaan.
  3. Setiap orang bebas melakukan transaksi dengan siapapun untuk memenuhi kebutuhan hidupnya selama tidak bertentangan dengan prinsip-prinsip yang telah ditetapkan Allah, serta hukum dan peraturan yang ditetapkan negara. Kebebasan transaksi tersebut teraktualisasi dalam beberapa undang-undang, salah satunya adalah kebebasan dalam transaksi jual beli secara online dalam Pasal 1 ayat (2) UU ITE No.11 Tahun 2008.

Prinsip-prinsip Dasar Kepemilikan

prinsip kepemilikan dalam ekonomi syariah
Ilustrasi jual beli saham

Ulama islam Ibrahim at-Tahawi menjelaskan bahwa tujuan adanya sistem ekonomi syariah sebagai kecukupan dan kedamaian. Juga menjamin setiap kebutuhan premier masyarakat mencakup makanan, rumah, layanan kesehatan, pendidikan dan semua hal yang dianggap perlu sesuai dengan adat masyarakat.

Atas dasar tersebut konsep-konsep kepemilikan dan layanan prinsip ekonomi syariah diperlukan untuk menegakkan ekonomi dan mengatur kesesuaiannya dengan ketentuan Allah. Prinsip dasar kepemilikan syariah tersebut sebagai berikut:

  1. Bumi dan alam semesta dengan segala isinya adalah milik Allah. Disamping tujuan utama diciptakannya makhluk dimuka bumi ini untuk beribadah kepada Allah manusia juga diciptakan untuk menjadi khalifah. Yaitu untuk mengelola bumi dan isinya supaya manfaat yang dihasilkan bisa dikelola dengan baik, manfaat dan diridhoi Allah.
  2. Kedudukan manusia terhadap bumi dan alam semesta hanya sebagai pemilik sementara.
  3. Adanya sumber daya ekonomi tidak diikuti dengan kepemilikan oleh sekelompok atau sebagian orang. Seperti ketika ada penemuan obyek wisata (yang ada di tempat umum) maka pengelolaan tersebut tidak boleh hanya dimiliki oleh sebagian kelompok.
  4. Kepemilikan terhadap suatu harus didasarkan dengan proses transaksi sesuai dengan ketentuan Allah (syariat Islam). Dalam transaksi hal terpenting yang harus dihindari adalah maisir (spekulasi yang tidak mendasar), gharar (ketidak pastian), riba (bunga/interest).

Prinsip dasar produksi, distribusi dan konsumsi

  1. Prinsip untuk memproduksi sesuatu adalah bebas, termasuk keadilan dalam pengelolahan lahan pertanian dan pengadaan barang-barang perdagangan yang lebih bagus. Kebebasan dalam transaksi tidak serta membebaskan dengan tanpa aturan, kebebasan produksi ini harus dalam frame syariah, sepeti tidak memproduksi makanan dan minuman yang membahayakan kesehatan, dapat menyebabkan mabuk dan lain sebagainya.
  2. Distribusi komoditas dan kekayaan adalah bebas, akan tetapi bukan berarti bebas kontrol atau berputar pada sebagian kelompok. Dalam beberapa kondisi distribusi komoditas dilarang oleh Islam seperti memonopoli pasar sehingga harga komoditas tertentu naik dan tidak terkontrol. Hal ini sudah disampaikan oleh nabi SAW. sebagai berikut :

حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ خَالِدٍ حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ إِسْحَقَ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ إِبْرَاهِيمَ عَنْ سَعِيدِ بْنِ الْمُسَيَّبِ عَنْ مَعْمَرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ نَافِعِ بْنِ نَضْلَةَ الْعَدَوِيِّ قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ لَا يَحْتَكِرُ إِلَّا خَاطِئٌ مَرَّتَيْنِ

Telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Khalid telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ishaq dari Muhammad bin Ibrahim dari Sa’id bin Al Musayyab dari Ma’mar bin Abdullah bin Nafi’ bin Nadhlah Al ‘Adawi, ia berkata; aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Tidak menimbun kecuali ia akan berdosa.” Beliau mengucapkan hingga dua kali.

  1. Pemenuhan kebutuhan pokok masyarakat harus didukung oleh adanya kejelasan hukum dan peraturan-peraturan yang mencerahkan dan semua itu menjadi tanggung jawab negara.

Satu pemikiran pada “Pengertian Dan Prinsip-Prinsip Dalam Ekonomi Syariah

Tinggalkan komentar