Keuntungan Jual Beli Tunai Dibanding Jual Beli Kredit Yang Berpeluang Riba

hukum kredit dalam islam Posted on

Keuntungan Jual Beli Tunai Dibanding Jual Beli Kredit Yang Berpeluang Riba

Dalam beberapa dasawarsa ini praktek jual beli secara kredit sudah sangat menjamur di masyarakat kita. Praktek kredit tersebut bisa kita dapati dalam semua kebutuhan manusia seperti kebutuhan elektronik, otomotif sampai kebutuhan rumah tangga, semuanya bisa di dapatkan dengan cara kredit. Menyikapi masalah ini fiqih mempunyai peranan penting dalam menyelesaikan kemungkinan-kemungkinan masalah yang akan terjadi dalam transaksi kredit tersebut. Berarti kemungkinan terjadinya riba, kemungkinan adanya unsur penipuan, kemungkinan yang mengakibatkan kerugian terhadap penjual dan pembeli.

hukum kredit dalam islam
hukum kredit dalam islam

Hukum Kredit dalam Islam

Dalam pandangan fiqih, kredit atau dalam bahasa fiqih disebut dengan istilah jual beli taqsith setidaknya terdapat tiga pandangan hukum dari kredit tersebut.

Salah satu ciri dari hukum Islam adalah fleksible dalam menghukumi suatu masalah. Hal tersebut dikarenakan penyelesaiaan masalah menggunakan beberapa metode yang berbeda dan melihat dari sudut pandang yang luas. Sehingga tidak menutup kemungkinan satu permasalahan terdapat beberapa hukum, termasuk hukum kredit.

Selanjtnya silahkan baca juga Hukum Kredit Dalam Islam

Keuntungan Jual Beli Dengan Tunai Dibanding Kredit.

Setelah kita mengetahui tentang halal haramnya transaksi dengan kredit, terlepas dari hukum halal dan haramnya. Pada pembahasan kali ini kita akan mengutarakan mengenai keuntungan jual beli (transaksi) menggunakan sistem kredit.
Keuntungan pembayaran tunai dibandingkan dengan pembayaran kredit.

Hukum haram riba

1. Lebih terjaga dari riba

Telah kita kupas dalam pembahasan di atas mengenai potensi adanya riba pada setiap transaksi kredit. Pada pembahasan di atas penulis telah menguraikan mengenai pandangan para ulama mengenai hukum kredit dalam pandangan islam.
Dalam Islam para pelaku riba mendapat ancaman dan adzab yang pedih dari Allah, karena riba merupakan kejahatan sosial yang secara tidak langsung menjadikan para nasabah sebagai objek eksploitasi kekayaan seseorang.
Al-qur’an secara berulang-ulang menyampaikan tentang haramnya riba beserta ancamannya, diantaranya dalam QS Al-Baqarah 275-276, QS. Ar-Rum 39, QS. An-Nisa ayat 160-161, QS. Ali Imran 130.

Dalam surat Al-Baqarah 275-276 Allah Ta’ala berfirman,

الَّذِينَ يَأْكُلُونَ الرِّبَا لاَ يَقُومُونَ إِلاَّ كَمَا يَقُومُ الَّذِي يَتَخَبَّطُهُ الشَّيْطَانُ مِنَ الْمَسِّ ذَلِكَ بِأَنَّهُمْ قَالُواْ إِنَّمَا الْبَيْعُ مِثْلُ الرِّبَا وَأَحَلَّ اللّهُ الْبَيْعَ وَحَرَّمَ الرِّبَا فَمَن جَاءهُ مَوْعِظَةٌ مِّن رَّبِّهِ فَانتَهَىَ فَلَهُ مَا سَلَفَ وَأَمْرُهُ إِلَى اللّهِ وَمَنْ عَادَ فَأُوْلَـئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ . يَمْحَقُ اللّهُ الْرِّبَا وَيُرْبِي الصَّدَقَاتِ وَاللّهُ لاَ يُحِبُّ كُلَّ كَفَّارٍ أَثِيمٍ البقرة: 275-276
“Orang-orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan syaitan lantaran (tekanan) penyakit gila. Keadaan mereka yang demikian itu disebabkan mereka berkata (berpendapat), sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba. Orang-orang yang telah sampai kepadanya larangan dari Rabb-nya, lalu terus berhenti (dari mengambil riba), maka baginya apa yang telah diambilnya dahulu (sebelum datang larangan); dan urusannya (terserah) kepada Allah. Orang yang mengulangi (mengambil riba), maka orang itu adalah penghuni-penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya. Allah memusnahkan riba dan melipat-gandakan sedekah. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang senantiasa berbuat kekafiran / ingkar, dan selalu berbuat dosa.” (Qs. al-Baqarah: 275-276).

Dalam surat Ar-Ruum ayat 39

Allah ta’ala berfirman:
وَمَا آتَيْتُمْ مِنْ رِبًا لِيَرْبُوَ فِي أَمْوَالِ النَّاسِ فَلا يَرْبُو عِنْدَ اللَّهِ وَمَا آتَيْتُمْ مِنْ زَكَاةٍ تُرِيدُونَ وَجْهَ اللَّهِ فَأُولَئِكَ هُمُ الْمُضْعِفُون

“Dan sesuatu Riba (tambahan) yang kamu berikan agar Dia bertambah pada harta manusia, Maka Riba itu tidak menambah pada sisi Allah. dan apa yang kamu berikan berupa zakat yang kamu maksudkan untuk mencapai keridhaan Allah, Maka (yang berbuat demikian) Itulah orang-orang yang melipat gandakan (pahalanya).” (QS. Ar-Ruum: 39)
Dalam surat An-Nisaa ayat 160-161
Allah ‘Azza wa Jalla berfirman:

فَبِظُلْمٍ مِنَ الَّذِينَ هَادُوا حَرَّمْنَا عَلَيْهِمْ طَيِّبَاتٍ أُحِلَّتْ لَهُمْ وَبِصَدِّهِمْ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ كَثِيرًا – وَأَخْذِهِمُ الرِّبَا وَقَدْ نُهُوا عَنْهُ وَأَكْلِهِمْ أَمْوَالَ النَّاسِ بِالْبَاطِلِ وَأَعْتَدْنَا لِلْكَافِرِينَ مِنْهُمْ عَذَابًا أَلِيمًا

“Maka disebabkan kezaliman orang-orang Yahudi, Kami haramkan atas (memakan makanan) yang baik-baik (yang dahulunya) Dihalalkan bagi mereka, dan karena mereka banyak menghalangi (manusia) dari jalan Allah. Dan disebabkan mereka memakan riba, Padahal Sesungguhnya mereka telah dilarang daripadanya, dan karena mereka memakan harta benda orang dengan jalan yang batil. Kami telah menyediakan untuk orang-orang yang kafir di antara mereka itu siksa yang pedih.” (QS. An-Nisaa’: 160-161)

Dalam surat Ali Imran ayat 130

Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لا تَأْكُلُوا الرِّبَا أَضْعَافًا مُضَاعَفَةً وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memakan Riba dengan berlipat ganda dan bertakwalah kamu kepada Allah supaya kamu mendapat keberuntungan.” (QS. Ali Imraan: 130)

Selain disampaikan oleh Al-Qur’an, Nabipun menyampaikan dalam Haditsnya yang diriwayatkan oleh Sahabat-sahabatnya dengan masing-masing redaksinya, seperti riwayat Bukhari dan Muslim.

Hadist yang menyampaikan bahwa Riba adalah haram

Sahabat Ubadah bin Shamit radhiallahu ‘anhu meriwayatkan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

الذهب بالذهب والفضة بالفضة والبر بالبر والشعير بالشعير والتمر بالتمر والملح بالملح مثلا بمثل، سواء بسواء، يدا بيد، فمن زاد أو استزاد فقد أربى. رواه مسلم
“Emas dijual dengan emas, perak dijual dengan perak, gandum dijual dengan gandum, sya’ir (salah satu jenis gandum) dijual dengan sya’ir, kurma dijual dengan kurma, dan garam dijual dengan garam, (takaran / timbangannya) harus sama dan kontan. Barangsiapa yang menambah atau meminta tambahan, maka ia telah berbuat riba.” (HR. Muslim dalam kitabnya as-Shahih).
Sahabat Abu Sa’id al-Khudri radhiallahu ‘anhu menuturkan bahwasannya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لا تبيعوا الذهب بالذهب إلا مثلا بمثل، ولا تشفوا بعضها على بعض، ولا تبيعوا الورق بالورق إلا مثلا بمثل، ولا تشفوا بعضها على بعض، ولا تبيعوا منها غائبا بناجز. رواه البخاري ومسلم
“Janganlah engkau jual emas ditukar dengan emas melainkan sama dengan sama, dan janganlah engkau lebihkan sebagiannya di atas sebagian lainnya. Janganlah engkau jual perak ditukar dengan perak melainkan sama dengan sama, dan janganlah engkau lebihkan sebagiannya di atas sebagian lainnya. Dan janganlah engkau jual sebagiannya yang diserahkan dengan kontan ditukar dengan lainnya yang tidak diserahkan dengan kontan.” (HR. al-Bukhary dan Muslim).

cash lebih aman dari penipuan

2. Aman dari penipuan atau penggelapan dana kredit

Ketika seseorang membeli motor dengan kredit berarti dia memberikan uang DP sebagai bukti komitmen atas transaksi kredit tersebut kemudian membawa motor yang dia beli. Dengan sistem penjualan demikian ada kemungkinan pihak yang mengkreditkan dirugikan seperti kaburnya nasabah, menunggaknya pembayaran dan lain sebagainya. Selain itu nasabah juga dirugikan karena harus membayar lebih sebab pembayaran yang lama, sehingga dalam waktu pembayaran tersebut pihak kreditor menganggap endapan uang yang dipakai oleh nasabah mempunyai nilai (future value).
Pada pembahasan sebelumnya yang penulis sampaikan bahwa konsep uang bukan sebagai komoditas dan tidak mempunyai nilai intrinsik, tetapi sebagai flow concept.

3. Lebih menguntungkan

Dalam sebuah riwayat yang menceritakan tentang keutamaan shabat nabi yang bernama Amr bi Ash. Dalam riwayat tersebut menceritakan tentang rahasia kesuksesan Amr bin Ash dalam berdagang. Kesuksesannya dikarenakan setiap kali berdagang pembayarannya tunai dan tidak menerima tempo atau kredit. Pada riwayat tersebut dikisahkan bahwa Amr bin Ash r.a hanya mendapat keuntungan kurang lebih 50 ribu dalam penjualan seekor unta, akan tetapi penjualan tersebut tidak hanya satu ekor melainkan ratusan ekor unta.
Kita ilustrasikan keuntungan antara penjualan tunai dan kredit. Ketika si Abdul memiliki uang sebesar 20.000.000,- dan digunakan untuk berjualan HP yang tiap unitnya seharga 2.000.000,- dan kemudian dijual 2.100.000,- secara cash/tunai berarti dia telah mendapatkan keuntungan 2.000.000,- setiap modal 20.000.000,-. Jika penjualan tersebut laku tiap satu minggu berarti dia sudah memiliki hasil yang jelas. Jika dilakukan selama dua bulan berarti si Abdul mendapatkan keuntungan 16.000.000,-.
Bayangkan jika uang tersebut dikreditkan mungkin modal akan kembali setelah sekian bulan dan hasilnya lebih kecil.
Demikian pembahasan tentang Keuntungan Pembayaran Tunai Dibanding Pembayaran Kredit Yang Berpeluang Riba penulis ulas. Semoga menjadikan keberkahan bagi kita dan selamat berjumpa lagi dengan pembahasan berikutnya. Wassalamualaikum…

Kang Santri
Author

0 thoughts on “Keuntungan Jual Beli Tunai Dibanding Jual Beli Kredit Yang Berpeluang Riba

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.