Sejarah, Ciri-Ciri Dan Tujuh Kitab Kuning Pokok Di Pesantren

Kitab kuning – atau sering disebut dengan istilah yellow book. Dalam pendidikan pesantren merupakan hal yang wajib dimiliki oleh seorang santri. Jika kita bicara kitab kuning maka merujuk pada sebuah buku atau kitab yang berwarna kuning (walaupun tidak semuanya, seperti sebagian cetakan Beirut Lebanon yang berwarna putih) yang berisi pelajaran-pelajaran agama Islam.

Pelajaran tersebut meliputi mulai dari fiqh, aqidah, akhlaq/tasawuf, tata bahasa arab  (ilmu nahwu dan ilmu sharf), hadits, tafsir, `ulumul qur’aan, hingga pada ilmu sosial dan kemasyarakatan (muamalah).

Penulisan kitab kuning biasanya ditulis pada masa yang relatif lama, terkesan masih klasik dan di negara Arab disebut dengan kitab muqoddam (terdahulu). Lawan kata dari kitab klasik adalah kitab ‘ashirah (modern).

Kitab kuning juga dikenal dengan istilah kitab gundul karena penulisan yang tidak disertai dengan tanda baca seperti tanda tanya, kata seru, harakat, koma, titik dan lain sebagainya, sehingga  membutuhkan waktu yang relatif lama untuk mempelajarinya.

Kitab Kuning
Sumber : toko.nu.or.id

Sejarah Kitab Kuning

Menurut pemerhati kepesantrenan, kitab kuning adalah kitab-kitab keagamaan yang berbahasa dan bertuliskan huruf arab sebagai hasil pemikiran ulama masa lampau yang ditulis khas dan format pra-modern sebelum abad 17M.

Mochtar, 2009: 33 merinci yang termasuk kitab kuning adalah kitab-kitab yang 1) ditulis oleh ulama ‘asing’, tapi secara turun temurun menjadi referensi yang dipedomani oleh para ulama Indonesia, 2) ditulis oleh ulama Indonesia sebagai karya tulis ‘independen’, dan 3) di tulis oleh ulama Indonesia sebagai komentar atau terjemahan atas kitab karya ulama asing.

“Kitab Kuning” awalnya digunakan sebagai istilah untuk melecehkan dan menghinakan oleh orang-orang yang tidak senang dengan ulama. Mereka mengejek dengan mengatakan, “Apa yang diketahui oleh ulama tentang urusan Negara, sementara mereka tidak membaca  kecuali kitab kuning saja” (Ali Mustafa Yaqub, 2016: 23).

Awalnya sangat menyakitkan memang, tetapi kemudian nama Kitab Kuning diterima sebagai salah satu istilah teknis dalam studi kepesantrenan. Sekarang justru istilah Kitab Kuning menjadi bentuk kemuliaan. Ketika ada yang berfatwa dalam masalah agama, masyarakat langsung berkomentar, “Bagaimana mungkin orang ini berfatwa, sementara membaca kitab kuning saja ia tidak bisa.

Ciri-Ciri Kitab Kuning

kitab kuning
sumber : nujepara.or.id

Kitab kuning dilihat dari fisiknya memiliki ciri khas yaitu warna kuning kecoklat-coklatan. Namun ciri-ciri tersebut lambat laun tidak menjadi patokan, pasalnya kitab-kitab klasik tersebut kemudian dicetak masal tidak hanya berwarna kuning.

Yang lebih spesifik ciri-ciri dari kitab kuning adalah 1) Pembahasan materi dimulai dari lingkup yang luas dan mengerucut kepada pembahasan terperinci, seperti kitabun, babun, fashlun, far’un, dan seterusnya.

2) Tidak menggunakan tanda baca yang lazim, tidak memakai titik koma, tanda seru, tanda tanya dan lain sebagainya. Hal ini karena setiap pembaca wajib mengetahui struktur bahasa arab sehingga dengan mengetahui struktur bahasa arab sudah diketahui tanda baca dengan sendirinya.

3) Dalam penulisan kitab kuning, ulama salaf telah menunjukkan etika penulisan yang patut dicontoh. Dalam setiap kitab karangan suatu ulama selalu mencantumkan sumber dan refensi yang diambil untuk dijadikan perbandingan, acuan dan bahan penulisan.

Dalam tulisan tersebut selalu digunakan istilah dan rumus-rumus tertentu seperti untuk menyatakan pendapat yang kuat dengan memakai istilah al-madzhab, al-ashlah, al-shahih, al-arjah, al-rajih dan seterusnya, untuk menyatakan kesepakatan antar ulama beberapa madzhab digunakan istilah ijtima’an, sedang untuk menyatakan kesepakatan antar ulama satu madzhab digunakan istilah ittifaqan.

Jenis/Tingkatan Kitab Kuning

Jika kita memperhatikan khazanah keilmuan pada masa ulama salaf ada tradisi mengemukakan ide, pendapat dan argumen yang unik. Tradisi tersebut berlangsung dengan penulisan sebuah karya tulis yang disertai dengan penjelasan dari Al-Qur’an, Sunnah dan metode yang lain.

Berangkat dari metode argumen tersebut melahirkan banyak karya yang sampai saat ini memberikan sumbangsih yang sangat besar di dalam dunia Islam. Dan menjadi kitab pokok terutama di kalangan pesantren.

Kitab-kitab kuning di pesantren secara umum terdiri dari tiga jenis yaitu 1) kitab matan, yaitu kitab karangan dari seorang ulama yang berangkat dari pemahaman keagamaan dan penelitiannya. Kitab matan merupakan kitab paling standar dan paling ringkas sehingga masih diperlukan penjelasan-penjelasan yang lebih.

2) kitab syarah, yaitu komentar dan penjelasan ulama mengenai hasil pemikiran ulama pengarang kitab matan. Biasanya kitab syarah ditulis bersamaan dengan matan, (posisi matan berada di sebelah paling pinggir dan syarah berada di tengah) sebagai penjelasan dari matan tersebut.

Kitab Kuning
Sumber : terjemah-kitabkuning.blogspot.com

3) kitab hasyiyah (komentar atas kitab komentar). Tiga jenis kitab ini juga menunjukkan tingkat kedalaman dan kesulitan tertentu. Kitab matan paling mudah dikuasai, kitab hasyiyah paling rumit, sedang kitab syarh berada di antara keduanya. Tampaknya kitab syarh ini yang paling banyak dipelajari di pesantren

 

Kitab Kuning Dasar Yang Dikaji Di Pesantren

Di pesantren ada beberapa tema kajian yang wajib dipelajari dan didalami. Seperti tafsir, ilmu alat (gramatika bahasa arab), hadits, akhlak, tauhid, fiqih dan lain sebagainya beserta cabang-cabang ilmunya.

Setidaknya ada tujuh kitab kuning dasar yang diajarkan di pesantren sebelum mengkaji lebih dalam tentang Islam. Tujuh kitab dasar tersebut diantaranya adalah sebagai berikut :

  1. Kitab Al-Jurumiyah

Syarat utama seorang santri untuk mempelajari kitab kuning adalah harus menguasai dulu ilmu alatnya (gramatika bahasa arab / nahwu). Kitab dasar mengenai gramatika bahasa arab tersebut adalah kitab tipis yang berjudul al-jurumiayah yang dikarang oleh syaikh Sonhaji dengan penjelasan materi yang sistematis dan mudah dipahami. Adapun tingkatan selanjutnya setelah Jurumiyah adalah Imrithi, Mutamimah, dan yang paling tinggi adalah Alfiyah.

 

  1. Kitab Amtsilatu Tashrifiyah

Selain harus menguasai ilmu ilmu nahwu (gramatika bahasa arab), hal yang wajib bagi seorang untuk mengetahui isi kitab kuning harus tahu ilmu tashrifnya (perubahan pola kalimat). Sehingga ketika sudah memahami gramatika dan perubahan pola kalimatnya baru bisa mengartikannya.

Salah satu kitab yang paling dasar dalam mempelajari ilmu shorof adalah Kitab Amtsilah Tashrifiyah yang dikarang salah satu ulama Indonesia, beliau KH. Ma’shum ‘Aly dari Jombang.

 

  1. Kitab Mustholahul Hadits

Tradisi keilmuan pesantren sudah sejak dahulu mempunyai prinsip menjaga sanad keilmuan yang bisa dipertanggungjawabkan. Salah satu alat pendeteksi keilmuan dalam pendidikan pesantren adalah dengan menggunakan kitab Mustholahul Hadits.

Kitab Mushtholah Al-Hadits yang mempelajari ilmu mengenai seluk beluk ilmu hadits. Mulai dari macam-macam hadits, kriteria hadits, syarat orang yang berhak meriwayatkan hadits dan lain-lain dapat dijadikan bukti kevalidan suatu matan hadits.

Kitab ini dikarang oleh al-Qodhi abu Muhammad ar-Romahurmuzi yang mendapatkan perintah dari Khalifah Umar bin Abdul Aziz karena pada waktu itu banyak orang yang meriwayatkan hadist-hadist palsu sehingga sang khalifah memutuskan untuk mencegah dari penyebaran hadis palsu tersebut.

 

  1. Kitab Arba’in Nawawi
kitab kuning Arbain Nawawi
sumber : tokobukumenarakudus.com

Dasar bagi seorang santri memahami sebuah hadits berawal dari kitab ini, Arbain Nawawi. Kitab ini adalah hasil karya Abu Zakariya Yahya bin Syaraf bin Murri Al Nizami An-Nawawi yang berisi 42 matan hadits.

 

  1. Kitab Taqrib

Salah satu yang paling pokok dalam kajian pesantren adalah kitab fiqih. Seperti dengan penjelasan di atas bahwa setiap cabang ilmu memiliki tingkatan yang berbeda. Kitab taqrib merupakan kitab matan dan memiliki banyak penjelasan (syarah) seperti Fathul Qorib, Tausyaikh, Fathul Mu’in.

 

  1. Kitab Aqidatul Awam

Hal yang mendasar dalam ajaran Islam adalah aqidah, dimana setiap amal perbuatan disandarkan kepada akidah. Jika seorang memiliki amal yang baik dan dengan akidah yang benar, maka amal tersebut akan berbuah kebaikan di surga nanti. Begitu juga sebaliknya.

Kitab dasar aqidah yang dipelajari dipesantren adalah kitab Aqidatul Awam karangan Syaikh Ahmad Marzuqi Al-Maliki berisi 57 bait nadzom.

 

  1. Kitab Ta’limul Muta’alim

Akhlak adalah puncak dari ilmu. Seperti disampaikan dalam salah satu kata mutiara “akhlak diatas ilmu”. Kata mutiara tersebut memiliki arti seberapa luas pun ilmu seseorang harus menjadikan akhlak sebagai pedoman jalannya.

Hal dasar bagi para pencari ilmu agar ilmunya manfaat dan barokah adalah harus mengutamakan akhlaq. Kitab dasar yang menerangkan mengenai akhlaq di dunia pesantren adalah kitab Ta’limul-Muta’alim karangan Syaikh Burhanuddin Az-Zarnuji.

Tinggalkan komentar