Dzikir Ahlus Sunnah

Dzikir Ahlus Sunnah – makna dzikir secara sederhana adalah mengingat Allah. Dzikir merupakan anjuran yang sangat ditekankan oleh Rasulullah untuk setiap umat muslim. Dalam literatur pesantren, dzikir dibahas panjang lebar mulai dari praktik, penjelasan, keutamaan, tingkatan dzikir dan lain lain. Seperti yang dijelaskan secara konkrit oleh Syeh Ibnu Atho’illah As-sakandari dalam penjelasan di bawah.

Dzikir

Pengertian Dzikir

Dzikir secara bahasa memiliki arti mengingat, sedangkan secara istilah memiliki arti membasahi lidah dengan ucapan pujian kepada Allah. Secara etimologi, dzikir berasal dari kata “dzakara” yang memiliki arti menyebut, mensucikan, menggabung, menjaga, mengerti, mempelajari, memberi dan nasehat.

Keutamaan Dzikir

Pengertian dzikir

Belakangan ada golongan (walaupun tidak banyak) yang selalu menuntut sebuah dalil ketika mengerjakan pekerjaan. Dan mereka beranggapan bahwa setiap perbuatan yang tidak berdasar pada dalil merupakan penyimpangan.

Keutamaan dzikir telah dijelaskan banyak sekali dalam Al-Qur’an dan Sunnah. Hal ini menunjukkan dzikir merupakan ibadah yang diistimewakan oleh Allah. Sama seperti halnya shalat sunnah tahajud yang istimewa karena disebutkan di dalam Al-Qur’an.

Berikut ini penulis sampaikan secara ringkas mengenai dzikir atau wirid yang biasa diamalkan oleh sebagian besar umat muslim di Indonesia.

Dzikir merupakan ibadah yang sangat penting. Dalam hadits yang diriwayatkan Abdullah Ibn Bisr dijelaskan :

ان رجلا قال يا رسول الله ان شرائع الاسلام قد كثرت علي فأخبرني بشيئ اتشبت به قال لا يزال لسانك رطبا من ذكر الله

“Seseorang pernah berkata : Wahai Rasulullah syariat-syariat islam telah banyak maka beritahulah aku tentang suatu amal yang bisa kupegang teguh, Rasulullah bersabda : jangan henti-henti lisanmu untuk selalu basah dari dzikir Allah.

Dzikir adalah amal ibadah yang sangat penting, banyak sekali dalam Al-Qur’an telah dijelaskan tentang urgensi dzikir bagi seorang hamba. Allah telah berfirman dalam surat Al-Imran ayat 190-191 :

إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَاخْتِلَافِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ لَآَيَاتٍ لِأُولِي الْأَلْبَابِ (190) الَّذِينَ يَذْكُرُونَ اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَى جُنُوبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُونَ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هَذَا بَاطِلًا سُبْحَانَكَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ (191

  1. Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal.
    191. (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan Ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, Maka peliharalah kami dari siksa neraka.

Dalam hadits nabi juga disebutkan :

سبق المفردون قالوا ما المفردون يا رسول الله ؟ قال المستهترون بذكر الله يضع الذكر عنهم اثقالهم فيأتون الله يوم القيامة خفافا (رواه مسلم والترمذي وغيرهما

“Orang-orang yang memencil dari manusia telah mendahului (dalam beribadah), para sahabat bertanya: Siapakah orang yang memencil dari manusia wahai Rasulullah? Rasulullah menjawab: Yaitu orang-orang yang memperbanyak dan selalu berdzikir kepada Allah, dzikir tersebut menghilangkan dosa-dosanya sehingga mereka datang kepada Allah pada hari kiamat dalam keadaan ringan”

الا انبئكم بخير اعمالكم وازكاها عند مليككم وارفعها في درجاتكم وخير لكم من انفاق الذهب والورق وخير لكم من ان تلقوا عدوكم فتضربوا اعناقهم ويضربوا اعناقكم ؟ قالوا بلى قال : ذكر الله

“Maukah kuberi tahu kalian tentang sebaik-baik dan sebersih-bersih amal kalian dihadapan tuhan, serta lebih tingginya amal dalam mengangkat derajat dan lebih baik dari pada menginfaqkan emas perak serta lebih baik dari pada berperang melawan musuh (kalian memukul leher-leher mereka dan mereka memukul leher-leher kalian). Para sahabat menjawab : ya , Nabi bersabda : Yaitu dzikir kepada Allah”

Hadits di atas menunjukkan bahwa shodaqah ataupun jihad jika tidak disertai dzikir kepada Allah maka tidak ada gunanya. Seperti halnya rumah dan segala isinya dengan kunci rumah tersebut, sudah pasti yang paling bagus adalah rumah dan isinya bukan kunci, namun kita tidak bisa mengambil isi rumah tersebut tanpa menggunakan kuncinya. Amal pun demikian, amal tidak bisa besar pahalanya tanpa disertai dzikir kepada Allah SWT.

Tingkatan Dzikir

Tingkatan dzikir

Ibnu Atho’illah dalm kitabnya Al-Hikam menjelaskan tingkatan seseorang dalam dzikir. Ada empat tingkatan seseorang dalam dzikir mengingat Allah.

لا تترك الذكر لعدم حضورك مع الله فيه لان غفلتك عن وجود ذكره أشد من غفلتك في وجود ذكره فعسى ان يرفعك من ذكر مع وجود غفلة الى ذكر مع وجود يقظة ومن ذكر مع وجود يقظة الى ذكر مع وجود حضور ومن ذكر مع وجود حضور الى ذكر مع وجود غيبة عما سوى المذكور وما ذلك علي الله بعزيز

 “Janganlah kamu meninggalkan dzikir karena tidak adanya kehadiranmu kepada Allah, kelalaianmu dari dzikir kepada Allah itu lebih berat dari kelalaianmu dalam atau ketika berdzikir kepada Allah, Mungkin saja Allah akan mengangkatmu dari dzikir (disertai adanya lupa) menuju dzikir yang disertai ingat kepada Allah dan dari dzikir yang disertai ingat kepada Allah menuju dzikir yang disertai hadirnya hati dan dari dzikir yang disertai hadirnya hati menuju dzikir yang disertai hilangnya sesuatu selain Allah SWT. Dan semua itu bukanlah hal yang sulit bagi Allah SWT.

Dari hikmah di atas Ibnu Athaillah menjelaskan bahwa dzikir itu ada 4 tahap :
1. lisan
2. Ingat dalam hati
3. Hadirnya Hati
4. Hilangnya sesuatu selain Allah (غيبة عما سوى المذكور )

Kita dzikir kepada Allah tapi akal kita lupa lalu kita meninggalkannya, maka hal ini adalah suatu kesalahan yang sangat fatal. Lebih baik kita berdzikir walaupun hati kita lupa, karena suatu ketika Allah akan menjadikan kita dalam derajat يقظة lalu menuju derajat حضور dan sampai pada derajat غيبة عما سوى المذكور.

Orang ingat kepada Allah adalah di dalam hati bukan di lisan. Hal ini telah dijelaskan Allah dalam surat Al-A’raf ayat 205 :

وَاذْكُرْ رَبَّكَ فِي نَفْسِكَ تَضَرُّعًا وَخِيفَةً وَدُونَ الْجَهْرِ مِنَ الْقَوْلِ بِالْغُدُوِّ وَالْآَصَالِ وَلَا تَكُنْ مِنَ الْغَافِلِينَ (205)

  1. Dan sebutlah (nama) Tuhannmu dalam hatimu dengan merendahkan diri dan rasa takut, dan dengan tidak mengeraskan suara, di waktu pagi dan petang, dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang lalai.

Dalam ayat di atas Allah mentaukidi dengan وَلَا تَكُنْ مِنَ الْغَافِلِينَ, jadi kalau kita tidak ingat kepada Allah maka kita termasuk orang yang lupa. Dzikir dengan lisan adalah sebagai wasilah (penghubung) untuk ingat dalam hati. Seperti halnya kita ingin pergi menggunakan sepeda, kita tidak akan sampai pada tujuan kecuali dengan adanya sepeda tersebut.

 

Bacaan Dzikir

 

Banyak sekali bacaan-bacaan dzikir yang bisa kita amalkan sehari-hari. Tinggal niat kita tekad untuk selalu ingat kepada Allah atau hanya dalam omongan belaka. Baginda Nabi SAW. telah memberikan amalan-amalan supaya kita selalu berdzikir mengingat Allah seperti istigfar, tasbih, takbir, tahmid, dan lain sebagainya. Berikut ini penulis jelaskan beberapa macam dzikir dan lain-lainnya.

Macam-Macam Dzikir

Seperti yang telah penulis jelaskan di atas mengenai urgensi dzikir yang tertulis dalam QS. Ali Imran ayat 191. Dalam ayat tersebut menjelaskan bahwa orang yang berakal adalah orang yang dalam kondisi apapun selalu mengingat, meresapi dan tafakur akan nikmat yang Allah beri, kekuasaan dan keagungannya.

Sehingga dengan demikian orang tersebut selalu berdzikir, mengingat Allah dalam keadaan apapun yang dalam Al-Qur’an digambarkan dalam posisi berdiri, duduk dan berbaring selalu berdzikir.Bacaan dzikir terdapat sangat banyak macamnya, setidaknya ada empat poin berikut ini penulis sampaikan.

 

Bacaan Dzikir Pagi

من قال حين يصبح وحين يمشي : سبحان الله وبحمده مائة مرة لم يأتي احد يوم القيامة بافضل مما جاء به الا احد قال مثل ما قال او زاد عليه (رواه مسلم)

Seseorang yang berkata (dzikir) ketika pagi dan sore dengan dzikir “subhanallah wabihamdihi” sebanyak seratus kali, tidak akan ada satu orangpun di hari kiamat yang membawa kebaikan yang lebih baik darinya, kecuali orang yang mengucapkan sama atau lebih banyak (HR. Muslim).

Berangkat dari hadits tersebut para ulama’ memberikan penjelasan-penjelasan mengenai dzikir-dzikir yang hendaknya diamalkan ketika pagi, sore, malam atau waktu-waktu tertentu.

Berikut ini bacaan dzikir ketika memasuki waktu pagi hari.

اصْبَحْنَا وَاَصْبَحَ مُلْكُ لله وَالْحَمْدُ لله وَلَا اِلهَ الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ , لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ . رَبّيِ اَسْأَلُكَ خَيْرَ مَا فِيْ هَذَا اليَوْمِ وَخَيْر َمَا بَعْدَهُ وَاَعُوْذُبِكَ مِنْ شَرّمِاَ فِيْ هَذَا اليَوْمِ  و شَرّمِاَ بَعْدَهُ ربي اَعُوْذُبِكَ مِن الكَسَلِ وَسُوْءِ الكِبَرِ , اَعُوْذُبِكَ مِنْ عَذَابِ فِيْ النَّارِ وَفِيْ الْقَبْرِ

Kami telah sampai pada waktu pagi dan kerajaan semesta milik Allah, segala pujian hanya milik-Nya, tidak ada tuhan yang berhak disembah melaikan Dia, tidak ada sekutu bagi-Nya. Hanya milik-Nya kekuasaan dan pujian, dan Dia maha kuasa atas segala sesuatu. Ya Rabb kami memohon kebaikan hari ini dan hari sesudahnya, aku berlindung dari keburukan hari ini dan hari sesudahnya, ya Rabb aku memohon perlindungan dari sifat malas dan jeleknya kesombongan. Ya Rabb aku memohon perlindungan dari siksaan api neraka dan siksaan kubur.

 

Ada juga riwayat dari Abu Hurairah bahwa ketika suatu ketika Rasulullah mengajarkan do’a kepada sahabatnya ketika masuk waktu pagi (subuh) dengan bacaan berikut :

اللهم بِكَ اَصْبَحْنَا وَبِكَ اَمْسَيْنَا وَبِكَ نَحْيَا وَبِكَ نَمُوْتُ وَاِلَيْكَ النُّشُوْر

“Ya Allah dengan-Mu kami menjumpai pagi dan dengan Engkau kami mendapatkan sore, dengan Engkau kami hidup dan dengan Engkau kami mati, dan kepada-Mu kami digiring.”

Selain bacaan tersebut ada anjuran dari Rasulullah untuk mengamalkan Sayyidul istighfar ketika pagi hari dan dibuat untuk dzikir

Sayyidul istighfar secara harfiah bermakna tuan / penghulunya istighfar. Maksudnya adalah bacaan istighfar tersebut yang paling lengkap diantara bacaan istighfar yang lain. Bacaan istighfar tersebut adalah sebagai berikut :

اللهم اَنْتَ رَبِّي لَا اِلهَ اِلَّا اَنْتَ خَلَقْتَنِيْ وَاَنَا عَبْدُكَ وَاَنَا عَلَى عَهْدِكَ وَوَعْدِكَ مَا اسْتَطَعْتُ اَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا صَنَعْتُ اَبُوْءُ لَكَ بِنِعْمَتِكَ عَلَيَّ وَاَبُوْءُ بِذَنْبِيْ , فَاغْفِرْلِيْ فَاِنَّهُ لَا يَغْفِرُ الذُّنُوْبَ اِلَّا اَنْتَ

Ya Allah Engkaulah tuhanku, tidak ada tuhan yang berhak disembah selain Engkau, Engkaulah yang telah menciptakan aku dan aku adalah hamba-Mu, aku ada dalam perjanjian-Mu dan janji-Mu, dengan segala kemampuanku aku berlindung diri kepada-Mu dari kejelekan yang aku perbuat, aku mengakui kepada-Mu akan nikmat yang Engkau berikan kepadaku dan aku menngakui akan dosaku. Maka ampunilah aku sebab tidak ada yang dapat mengampuni dosa-dosa kecuali engkau.

Bacaan sayyidul istighfar tersebut dibaca 5 kali setiap sehabis sholat shubuh, insyaallah dosa-dosa kita diampuni oleh Allah.

 

Bacaan Dzikir Sore

Berikut ini bacaan ketika memasuki waktu sore.

امسينا وَاَمسى مُلْكُ لله وَالْحَمْدُ لله وَلَا اِلهَ الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ , لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ . رَبّيِ اَسْأَلُكَ خَيْرَ مَا فِيْ هَذَا الليَلة وَخَيْر َمَا بَعْدَها وَاَعُوْذُبِكَ مِنْ شَرّمِاَ فِيْ هَذَا الليَلة و شَرّمِاَ بَعْدَها ربي اَعُوْذُبِكَ مِن الكَسَلِ وَسُوْءِ الكِبَرِ , اَعُوْذُبِكَ مِنْ عَذَابِ فِيْ النَّارِ وَفِيْ الْقَبْرِ

Kami telah sampai pada waktu petang dan kerajaan semesta milik Allah, segala pujia hanya milik-Nya, tidak ada tuhan yang berhak disembah melaikan Dia, tidak ada sekutu bagi-Nya. Hanya milik-Nya kekuasaan dan pujian, dan Dia maha kuasa atas segala sesuatu. Ya Rabb kami memohon kebaikan malam ini dan malam sesudahnya, aku berlindung dari keburukan malam ini dan malam sesudahnya, ya Rabb aku memohon perlindungan dari sifat malas dan jeleknya kesombongan. Ya Rabb aku memohon perlindungan dari siksaan api neraka dan siksaan kubur.

Selain bacaan di atas ada juga bacaan berikut ketika masuk waktu sore.

اللهم بِكَ اَمْسَيْنَا وَبِكَ اَصْبَحْنَا وَبِكَ نَحْيَا وَبِكَ نَمُوْتُ وَاِلَيْكَ الْمَصِيْر

“Ya Allah dengan-Mu kami menjumpai pagi dan dengan Engkau kami mendapatkan sore, dengan Engkau kami hidup dan dengan Engkau kami mati, dan kepada-Mu kami kembali.”

 

Bacaan Dzikir Setelah Sholat Lima Waktu

Bacaan dzikir setelah sholat lima waktu sudah diketahui banyak orang muslim. Dzikir tersebut berasal dari tuntunan Rasulullah melalui hadits-hadits yang diriwayatkan. Kemudian para ulama mengumpulkan dan meruntutkan dzikir tersebut sehingga jadilah dzikir yang sekarang diketahhui dan diamalkan oleh kaum muslimin. Selengkapnya baca artikel berikut :

Bacaan Dzikir Kaum Nahdliyin

Warga nahdliyin (organisasi Nahdlatul Ulama) memiliki amalan-amalan berupa dzikir yang sangat variatif. Hal ini dikarenakan sumber-sumber keilmuan (terutama ilmu hikmah) yang sangat banyak.

Sebagai contoh amalan ratib, baik itu ratib haddad atau ratib attas. Keduanya diciptakan oleh orang-orang yang memiliki ilmu hikmah sehingga wirid tersebut diteruskan oleh warga NU.

Berikut ini sebagian amalan yang sering dipraktekkan oleh orang-orang NU:

  1. Ratib Haddad

Ratib haddad merupakan wirid karya Al allamah Al Imam Al Habib Abdullah bin Alwi Al Haddad yang dikenal dengan nama ratib haddad. Habib Abdullah Alhaddad sendiri merupakan ulama asal tarim, hadraumut yang hidup pada masa antara tahun 1634 hingga 1720.

Selengkapnya baca artikel berikut :

  1. Ratib Attas

Ratib Al Athos adalah bacaan doa dan wirid karya Al Habib Umar bin Abdurrahman Al Attas. Pengarang ratib Al-Athos ini adalah seorang waliyullah yang memiliki derajat tinggi dan kemuliaan disisi ALLAH SWT.  Ia adalah ulama asal Hadraumut yang dilahirkan pada tahun 229H. meski sejak kecil kedua matanya buta, namun ia memiiki kecerdasan luar biasa dan mampu menghafal apapun hanya dengan pendengarannya.

Selengkapnya baca artikel berikut :

  1. Wirdul Latif

Wiridul lathif merupakan susunan dzikir karya Al-Imam Al-Habib Abdullah bin Alawi Al-Haddad.

  1. Hizib Nashar

Hizib nashor adalah sebuah wirid dan doa karya seorang ulama sufi yang merupakan wali ALLAH SWT yaitu Syeikh Abul Hasan Asy-Syadzili. Syeikh Abul Hasan Asy-Syadzili masih memiliki garis keturuann yang bersambung langsung kepada Rasulullah SAW melalui cucunya Hasan. Ia lahir di Maroko dan meninggal di Mesir, sedangkan masa hidupnya adalah pada tahun 1197M hingga tahun 1258M. ia jugalah yang merupakan pendiri tarekat Syadziliyah yang banyak diikuti oleh umat islam di dunia khususnya indonesia.
Selengkapnya baca artikel berikut :

 

Tinggalkan komentar