Detik-detik Presiden Jokowi Tandatangani Perpres Nomor 87 Tahun 2017

Selasa (5/9) para Kyai se-Indonesia menyimak dengan seksama terkait pernyataan KH. Sa’id Aqil Siradj yang mengatakan bahwa Presiden Jokowi akan menanda-tangani Perpres No. 87 Th 2017, yaitu tentang Pendidikan Penguatan-Karakter.

Dering telephone dari para Kyai yang tersebar dari seluruh penjuru Indonesia tak henti-hentinya masuk ke HP Kyai Said. Rata-rata dari mereka menanyakan hal yang sama, yaitu, “Maukah Pak Presiden mendengarkan nasehat dari para kyai?

Ya, nasehat, mengingat pada beberapa bulan terakhir terjadi perdebatan panjang tentang Permendikbud yang menjadi polemik yang hampir tak terlihat ujung pangkalnya. Maka subtansi protes dari para Kyai merupakan nasehat untuk Bapak Presiden tentang adanya indikasi kuat pendangkalan karakter bagi bangsa Indonesia.

Kyai Said terlihat sabar melayani telephon yang masuk dari para Kyai satu persatu. Kyai Said menjelaskan dengan sabar dan telaten dari hasil pembicaraannya dengan Presiden. Sesekali intonasi bicaranya agak tertekan dan terpotong. Namun Kyai Said selalu mengakhiri telephonnya dengan ucapan “semoga, , semoga, , mari kita doakan Pak Jokowi diberi kekuatan.”

Kami yang di PBNU pun mengalami hal serupa. Selasa itu merupakan hari kecemasan bagi para pengurus PBNU, karena hanya Kyai Said Aqil lah yang mampu mengkalkulasi tingkat kecenderungan hati Pak Jokowi. Pada hari itu juga merupakan puncak lobby Kyai Said Aqil Siradj kepada Pak Jokowi. “Niat kami ikhlas, , demi masa-depan anak bangsa.” Kata Kyai Said Aqil.

Memasuki hari Rabu (6/9), kami sangat bersyukur begitu membaca tiap lembar dari isi Perpres No. 87/2017 yang meng-akomodir dari nasehat para Kyai se-Indonesia. Kantor PBNU pun ramai dengan wajah-wajah sumringah dari tiap sudut ruangan.

KH. Said Aqil Siradj yang menyaksikan Presiden Jokowi membubuhkan tanda tangan Perpres No. 87/2017 tiada henti mengucapkan syukur kepada Allah. Tamu-tamu berdatangan mengucapkan selamat, sementara Kyai Said membalasnya “Saya hanya lempeng bersikap karena permintaan dari para kyai, Pak Presiden Jokowi mendengarkan,, ya klop wis.”

Upaya Kemendikbud Melobby Sejumlah Kyai Pesantren Menemui Jalan Buntu

Presiden Jokowi Tandatangani Perpres Nomor 87 Tahun 2017

duta.co

Kami duduk di meja tamu sambil bercengkerama, kembali mengingat beberapa waktu terakhir saat terjadinya berjibaku dan polemik akibat dari SK Permendikbud 23/2017 yang secara tiba-tiba muncul.

Represive state aparatus yang dimainkan Kemendikbud begitu kuat sehingga tidak kuat dibendung oleh kekuatan wacana yang dibangun oleh PBNU. Rupanya, era-reformasi yang ber-ciri partisipasi masyarakat & demokrasi diabaikan oleh Kemendikbud.

Dengan sebab itulah akhirnya PBNU memilih memperluas suara protesnya, yaitu mulai dari pusat sampai ke wilayah Kabupaten / Kota. PBNU memantau akrobatik yang dilakukan oleh Kemendikbud dengan cara melakukan lobby lobby secara langsung ke Kyai Kyai pimpinan Pondok Pesantren.

Namun ternyata usaha lobby nya itu bertepuk sebelah tangan karena tidak digubris oleh para Kyai yang dikunjunginya. Pada saat itu sebenarnya PBNU sengaja membiarkan roadshow nya keliling Pondok Pesantren agar Kemendikbud tahu dengan sendirinya fakta penolakan dari para Kyai.

Kami juga mengingat ketika Kyai Said marah karena didekati dan ditekan agar mau menerima Permendikbud tersebut. Dalam acara IKA PMII kemarahan Kiai Said ditumpahkan. Setibanya di kantor PBNU Kyai Said memberikan instruksi bahwa “Semua Pengurus PBNU dilarang menghadiri undangan-Pemerintah yang temanya membahas tentang Permendikbud atau Per-pres.” Maka tidak satu pun undangan yang kami hadiri.

Kyai Said juga memantau terhadap pemberitaan media masa tentang FDS, jika ada kader NU yang sikapnya tidak tegas terhadap penolakan FDS, maka Kyai Said langsung menelfonnya dan minta klarifikasi.

Audiensi, aksi protes dan pernyataan sikap sudah dilakukan dan menggema di berbagai penjuru negeri, terutama di bumi Jawa. Kami mendapat informasi bahwa Kemendikbud dan Kemenag telah menemui jalan buntu.

Akhir dari Sebuah Dinamika, Presiden Jokowi Akhirnya Tandatangani Perpres 87/2017

Presiden Jokowi Tandatangani Perpres Nomor 87 Tahun 2017

setkab.go.id

Persoalan akhirnya ditarik ke Kemenko Pembangunan Manusia & Kebudayaan. Dan dari Tangan Mbak Puan-Maharani draft Perpres akhirnya berpindah ke Sekretariat Negara. Di tahap inilah Pak Jokowi mengirimkan menteri Pak Pratikno guna membuka jalan dialog dengan PBNU.

KH. Said Aqil Siradj menerima dan menyambut dengan hangat, dan kami pun berdiskusi dengan intens. Dan pada hari yang lain, PBNU gantian menyambangi kantor Sekretariat Negara, semua komponen diajak berdiskusi dan urun rembug.

Pada tahap akhir ini terjadi perdebatan yang cukup sengit tapi asyik. Kyai Said memantau dinamika yang dialami delegasi dari PBNU. Kyai Said tetap gigih menolak 8 jam sekolah untuk pelajar, “Jangan kecolongan, tidak ada toleransi untuk FDS.” Kata Kyai Said.

Dalam tahap ini demokrasi dan suara civil society begitu terasa dijunjung tinggi. Bapak Jokowi menanggalkan pendekatan korporatisme otortier dalam mengelola silang pendapat muatan Perpres. Nampaknya Pak Jokowi begitu memahami bahwa melakukan tindakan kontrol politik dengan otoriter pada zaman ini dianggap jadul.

PBNU pun menjadi bersemangat memberi masukan pada Pemerintah. Perjuangan para Kyai ini merupakan penggal sejarah yang terdokumentasi dengan rapi di PBNU.

Ini merupakan  sebuah proses pendewasaan politik di negeri ini. Setelah Bapak Jokowi menandatangani Perpres beliau berkata “Senanglah menatap ke depan.” Kami pun lega.

Di sela-sela menerima telephon yang masuk dari para Kyai, Kyai Said berpesan, “AYO KITA AKHIRI DEBAT HARI SEKOLAH.”

Sulton Fatoni

PBNU

Add Comment