Ciri-Ciri Dan Perbedaan Antara Bank Syariah Dengan Bank Konvensional

perbedaan bank syariah dan bank konvensional Posted on

Ciri-Ciri Dan Perbedaan Antara Bank Syariah Dengan Bank Konvensional

Dalam beberapa tahun ini trend bank syariah semakin mengalami kenaikan menunjukkan pertumbuhan positif. Terbukti dengan pertumbuhan bank syariah di Indonesia dari data OJK yang terdiri dari adanya 1.824 kantor bank umum syariah dan 346 kantor unit usaha syariah.
Setelah di Indonesia muncul bank Muamalat sebagai bank syariah pertama ada perbandingan dan perbedaan antara bank muamalat dan bank konvensional. Pada pembahasan ini saya akan membahas mengenai ciri-ciri dan perbedaan antara bank syariah dan bank konvensional.

perbedaan bank syariah dan bank konvensional

Sekapur Sirih

Perbedaan antara bank syariah dan bank konvensional yang paling mendasar ada pada konsepnya. Pada bank konvensional terdapat dua perjanjian yang terpisah yang dilakukan. Pertama, perjanjian antara pihak bank dan pihak nasabah penabung. Kedua, pihak bank melakukan perjanjian dengan nasabah peminjam.
Dalam kedua perjanjian tersebut pihak bank menerapkan sistem bunga untuk mendapatkan keuntungan dari setiap transaksi. Pihak bank memberikan persentasi kepada nasabah yang menabung di bank, kemudian bank mendapatkan keuntungan dari selisih dana yang ditabung oleh penabung yang kemudian dipinjam oleh nasabah peminjam dengan persentasi tertentu pula.
Kita ilustrasikan si Abdul adalah nasabah penabung dan Budi adalah nasabah peminjam. Ketika si Abdul menabung di bank sebesar Rp. 1.000.000,- dan mendapatkan bunga 0,4 persen kemudian pihak bank meminjamkan dana hasil dari tabungan Abdul ke Budi dengan jumlah yang sama. Maka otomatis pihak bank memberikan bunga lebih besar dari 0,4 persen milik Abdul, bisa 0,5 atau lebih.
Dengan asumsi demikian maka pihak bank mendapat keuntungan dari transaksi tersebut dengan sistem bunga nol koma sekian persen.
Berbeda sekali dengan sistem perbankan syariah dalam hal transaksi antara pihak bank dengan nasabah penabung maupun nasabah peminjam. Dalam praktiknya transaksi yang dilakukan oleh bank syariah kepada nasabahnya, baik yang penabung maupun yang meminjam sama-sama menggunakan prinsip bagi hasil. Sehingga dengan prinsip ini mampu memaksimalkan keadilan antara semua pihak yang terkait.
Sebagai contoh, si Agus mempunyai uang dan ingin menabungnya di bank syariah. Kemudian si Beni ingin meminjam uang sebagai modal untuk usaha. Pihak bank sebagai perantara antara Agus dan Beni yang dalam transaksi tersebut menggunakan sistem bagi hasil. Jadi Beni mendapatkan uang sebagai usaha dan sharing profit kepada bank -katakanlah sebagai bentuk terima kasih kepada- penyedia jasa, sedangkan bank sharing profit kepada Agus sebagai pemodal.
Berangkat dari uraian di atas, kita lanjutkan pembahasan mengenai ciri-ciri dan perbedaan bank syariah dan bank konvensional.

ciri-ciri bank Syariah

Ciri-ciri Bank Syariah

Ada beberapa ciri-ciri yang membedakan antara bank syariah dan bank konvensional yang setidaknya saya sampaikan dalam delapan poin.

1. Beban biaya yang disepakati, pada waktu transaksi perjanjian dalam bentuk nominal memiliki sifat yang fleksibel dan tidak kaku, sehingga bisa tawar menawar antara bank dan nasabah dalam batasan wajar. Beban biaya tersebut hanya diberlakukan hanya sampai waktu tertentu sesuai dengan kontrak perjanjian.

2. Menghindari istilah persentasi. Biasa persentasi memiliki sifat yang melekat pada sisa utang meskipun waktu perjanjian telah berakhir. Sehingga lebih dipergunakan istilah bagi hasil.

3. Terdapat pengawas syariah (Dewan Pengawas Syariah) yang diotorisasi oleh DSN-MUI dan lembaga yang lainnya. Dewan pengawas syariah ini terdiri dari tiga orang atau lebih yang berprofesi sebagai ahli hukum Islam yang berfungsi memberikan fatwa tentang produk ekonomi dan perbankan syariah seperti wadiah, ijarah mudharabah. Dalam pengawasan bank syariah, dewan pengawas didampingi oleh komisaris mengawasi pelaksanaannya.

4. Pengerahan dana dari nasabah penabung dalam bentuk deposito tabungan dianggap sebagai titipan (wadiah) oleh bank syariah untuk dimanfaatkan sebagai proyek-proyek sehingga tidak dijanjikan imbalan yang pasti.

5. Dalam kontrak-kontrak pembiayaan bank syariah tidak mematok keuntungan yang pasti karena hakikat yang mengetahui untung-rugi hanya Allah. Ketika keuntungan pembiayaan dipatok persentasi maka yang akan terjadi adalah adanya bunga pada setiap transaksi.

6. Bank syariah sering memakai istilah bahasa arab yang mana istilah itu sudah tercantum dalam fiqih Islam.

7. Terdapat larangan aktivitas usaha tertentu dari bank syariah

8. Aktivitas usaha bank syariah banyak jenisnya jika dibandingkan dengan bank konvensional

perbedaan bank syariah dan bank konvensional

Perbedaan Bank Syariah Dan Bank Konvensional

Menurut M. Syafi’i Antonio, ada beberapa perbedaan mendasar antara bank syariah dan bank konvensional, yaitu sebagai berikut:

1. Akad dan aspek legalitas

Dalam bank syariah, akad yang dilakukan memiliki konsekuensi duniawi dan ukhrawi karena dilakukan berdasarkan hukum Islam. Apabila dalam transaksi hanya menggunakan hukum positif biasanya nasabah berani melanggar janji atau kesepakatan, sedangkan perjanjian yang didasari dengan nama agama akan berkomitmen terhadap perjanjian.
Transaksi dalam bank syariah legalitasnya diakui selama sesuai dengan patokan dewan syariah nasional. Seperti syarat rukun akad yang harus terpenuhi.

2. Lembaga penyelesaian sengketa

Perbankan syariah mempunyai cara dalam menyelesaikan sengketa ketika ada permasalahan antara bank dan nasabahnya. Jika bank konvensional menggunakan peradilan negeri sebagai mediator bank syariah menggunakan lembaga yang mengatur hukum materi yang berdasarkan prinsip syariah yang di Indonesia dikenal dengan badan arbitrase syariah nasional atau basarnas.

3. Struktur organisasi

Bank Syariah dapat memiliki struktur yang sama dengan bank konvensional misalnya dalam hal komisaris direksi tetapi ada tambahan 1 struktur lagi dalam struktur organisasi Bank Syariah yaitu dengan masuknya unsur dewan pengawas Syariah yang bertugas untuk mengawasi operasionalisasi bank agar produk produknya Sesuai dengan prinsip syariah yang ditentukan oleh majelis ulama Indonesia melalui dewan Syariah nasional.

4. Bisnis dan usaha yang dibiayai

Dalam bank syariah bisnis dan usaha ataupun proyek yang dilaksanakan harus melalui seleksi sehingga bisnis tersebut sesuai dengan prinsip syariah sehingga tidak terkandung unsur-unsur yang diharamkan seperti perjudian maysir riba.

5. Lingkungan kerja dan corporate culture

Bank syariah selayaknya memiliki lingkungan kerja yang sejalan dengan syariah baik dalam hal etika,profesionalitas, kapabilitas dan kepribadian. Lingkungan kerja bank syariah dipenuhi dengan nuansa-nuansa islami seperti menjunjung tinggi kejujuran ramah dan penuh integritas.

Perbandingan Bank Syariah Dan Bank Konvensional

Dari sudut pandang Islam, sistem yang berlaku di Bank Konvensional adalah riba. Dalam hal ini, riba adalah sebuah sistem yang dilarang dalam Islam sehingga sistem Bank Konvensional tersebut dianggap tidak sejalan dengan orientasi Islam dalam hal perbankan.
Berikut ini perbedaan bank syariah dan bank konvensional:

Bank syariah
1. Melakukan investasi yang halal
2. Berdasarkan prinsip bagi hasil, jual beli dan sewa.
3. Profit dan Falah oriented.
4. Hubungan dengan nasabah dalam bentuk hubungan kemitraan.
5. Penghimpunan dan penyaluran dana dengan fatwa syariah.

Bank konvensional
1. Investasi yang halal dan haram.
2. Memakai perangkat bunga.
3. Profit oriented.
4. Hubungan dengan nasabah bentuk hubungan debitur kreditur.
5. Tidak terdapat dewan sejenis (pengawas Syariah).

Demikian pembahasan dari saya mengenai ciri-ciri dan perbedaan bank syariah dengan bank konvensional. Selamat datang kembali di website kangsantri.id.

Kang Santri
Author

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.