Asmaul Husna dan Artinya Dari Tinjauan Tasawuf

Asmaul Husna adalah nama-nama Allah yang indah yang berjumlah 99. 99 asmaul husna itu sekaligus menjadi sifat Allah. Allah disebut juga dengan Ar-Rahman dan Ar-Rahim, sebab ia adalah Dzat yang maha pengasih dan penyayang.

Allah juga disebut dengan Al-Malik, Al Quddus, Assalam, Al Mu’min, dst. Sebab Allah adalah Dzat yang menjadi raja segala raja (merajai hari akhir), yang suci, yang menyelamatkan, dan yang memberi rasa aman, dst.

Nama-nama yang indah itu menjadi bukti keagungan Allah yang tiada duanya, ialah Tuhan yang berhak disembah, tiada Tuhan selain Dia.

Ketika di dunia ini ada orang yang penyayang, belum ada apa-apanya dibanding dengan kasih sayang Allah. Ketika di dunia ini ada orang yang dermawan, belum ada apa-apanya dibanding ke-Dermawanan Allah.

99 Asmaul Husna

Bacaan asmaul husna nama nama Allah yang indah

barokahuripku.blogspot.co.id

Ketahuilah bahwa nama itu sendiri bukanlah nama, namun bukan pula yang dinamai. Sedangkan definisi nama adalah kata yang dibuat untuk menunjukkan yang dinamai.

Kesempurnaan dan kebahagiaan seorang hamba sangat berkaitan erat dalam tata caranya mempraktekkan akhlak Allah. Berhias dengan makna asma dan sifatnya sesuai dengan kriteria proyeksi di dalam hak-Nya.

Dan Allah memiliki sifat Hay (Maha Hidup), ‘Alim (Maha Tahu), Qadir (Maha Kuasa), Murid (Maha Menghendaki), Sami’ (Maha Mendengar), Bashir (Maha Melihat), Mutakallim (Maha Bicara), Fa’il (Maha Mengerjakan).

Pada manusia pun memiliki predikat seperti itu, namun bagi manusia penetapan sifat-sifat tersebut jauh dari penyepadanan. Penyerupaan hanyalah sebuah konotasi dalam ragam bentuk dan materi.

Sedangkan kekhususan Ilahi adalah maujud yang wajib dengan dzat-Nya, yang dengan kekuasaannya mewujudkan segala yang mungkin wujud. Dengan perwujudan yang lebih baik menurut strukturnya.

Kekhususan Ilahi ini sama sekali jauh dari pengertian tasybih (penyerupaan). Bahkan, hakikat Dzat-Nya tidak ada yang mengetahui sama sekali, kecuali Allah sendiri.

Seluruh makhluk tidak mengetahui kecuali kebutuhan tata jagat ini yang telah digariskan, menuju kepada Allah sang pencipta, mengetahui dan menguasai.

Pengetahuan ditempuh dengan dua jalan:

  1. Berkaitan dengan yang Maha Mengetahui dan yang diketahui.
  2. Berkaitan dengan Allah dan objek yang diketahui-Nya, sebagian sumber tertinggi dan sifat-sifat yang tidak masuk dalam esensi.

Dalam ungkapannya, Hay, ‘Alim, Qadir adalah sesuatu yang masih samar memberi predikat sifat hidup dan kuasa. Seseorang tidak mengenal, kecuali dirinya untuk pertama kali, kemudian dianalogikan diantara sifat-sifat Allah dan sifat-sifat dirinya sendiri.

Sungguh, maha luhur Allah dibandingkan dengan sifat-sifat kita. Oleh sebab itu, mustahil mengenal Allah secara hakiki kecuali Allah sendiri, bahkan mustahil mengenal kenabian kecuali nabi itu sendiri.

Ayat Asmaul Husna dan Artinya

ayat asmaul husna dan artinya

geotimes.co.id

Dalam Al Qur’an banyak disebutkan ayat asmaul husna, hal ini menunjukkan betapa agungnya asmaul hsuna itu sendiri. Berikut adalah beberapa ayat asmaul husna dan artinya:

وَلِلّهِ الأَسْمَاء الْحُسْنَى فَادْعُوهُ بِهَا وَذَرُواْ الَّذِينَ يُلْحِدُونَ فِي أَسْمَآئِهِ سَيُجْزَوْنَ مَا كَانُواْ يَعْمَلُونَ

“Hanya milik Allah asmaul husna (nama-nama yang Indah), maka berdoa-lah kepadaNya dengan menyebut asmaul husna itu, dan tinggalkanlah orang-orang yang menyimpang dari kebenaran. Kelak mereka akan memperoleh balasan terhadap apa yang mereka kerjakan.” (QS. Al A’raf 7:80)

قُلِ ادْعُواْ اللّهَ أَوِ ادْعُواْ الرَّحْمَنَ أَيًّا مَّا تَدْعُواْ فَلَهُ الأَسْمَاء سَبِيلاً الْحُسْنَى وَلاَ تَجْهَرْ بِصَلاَتِكَ وَلاَ تُخَافِتْ بِهَا وَابْتَغِ بَيْنَ ذَلِكَ

Katakanlah: Serulah nama Allah atau (serulah) Ar-Rahman, yang mana saja kamu serukan; kerana bagiNya-lah nama-nama yang indah, Dan janganlah kamu mengeraskan bacaan sholatmu, dan jangan pula kamu menyamarkannya, dan gunakanlah sahaja satu cara yang sederhana diantara itu”. (QS. Al Isra’ 17:110)

هُوَ اللَّهُ الْخَالِقُ الْبَارِئُ الْمُصَوِّرُ لَهُ الْأَسْمَاء الْحُسْنَى يُسَبِّحُ لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ

Dialah Allah yang Menciptakan, Yang Mengadakan, Yang Membentuk Rupa, Yang Mempunyai Nama-nama yang indah. Bertasbih kepada-Nya apa yang ada di langit & di bumi. Dan Dia-lah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana”.  (QS. Al Hashr 59:24)

اللَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ لَهُ الْأَسْمَاء الْحُسْنَى

“Allah, Tiada Tuhan yang berhak disembah selain Dia, bagiNya-lah segala nama yang indah.” (QS. Taha 20:8)

وَلَئِن سَأَلْتَهُم مَّنْ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ لَيَقُولُنَّ اللَّهُ قُلْ أَفَرَأَيْتُم مَّا تَدْعُونَ مِن دُونِ اللَّهِ إِنْ أَرَادَنِيَ اللَّهُ بِضُرٍّ هَلْ هُنَّ كَاشِفَاتُ ضُرِّهِ أَوْ أَرَادَنِي بِرَحْمَةٍ هَلْ هُنَّ مُمْسِكَاتُ رَحْمَتِهِ قُلْ حَسْبِيَ اللَّهُ عَلَيْهِ يَتَوَكَّلُ الْمُتَوَكِّلُونَ

“Sesungguhnya, jika engkau bertanya kepada mereka: Siapakah yang menciptakan langit dan bumi? Sudah tentu mereka akan menjawab: Allah. Katakanlah: Bagaimana pendapat kamu tentang apa yang kamu sembah selain Allah itu? Jika Allah hendak menimpakan aku suatu bahaya, dapatkah mereka menghapuskan bahayaNya itu; atau jika Allah hendak memberi rahmat kepadaku, dapatkah mereka menahan rahmatnya itu? Katakanlah: Cukuplah Allah bagiku; kepadaNya-lah hendaknya berserah orang yang mau berserah diri”. (QS. Azzumar 39:38).

Berdoa Dengan Asmaul Husna

berdoa dengan asmaul husna

hikmah-alkisah-islam.blogspot.co.id

Berdoa dengan asmaul husna sangat dianjurkan dan bisa menjadi sebab lekas dikabulkannya doa. Sebagaimana ayat diatas:

وَلِلّهِ الأَسْمَاء الْحُسْنَى فَادْعُوهُ بِهَا

“Hanya milik Allah asmaul husna (nama-nama yang Indah), maka berdoa-lah kepadaNya dengan menyebut asmaul husna itu,” (QS. Al A’raf 7:80)

Apa bedanya berdoa dengan asmaul husna dan yang tidak menggunakan? Jelas beda, berdoa dengan asmaul husna lebih tertuju dan spesifik.

Misalnya berdoa untuk meminta ampunan akan lebih baik jika akhirannya diberi tambahan “إن الله غفور رحيم”, ketika berdoa meminta rizki diawali “يا رزاق”, ketika berdoa meminta ilmu/kepandaian diawali “يا فتاح يا عليم”, dst.

Makna Asmaul Husna

Makna asmaul husna menurut Imam Ghazali

dinarmagzz.blogspot.com

Makrifat kepada Allah adalah manifestasi dari makrifat kepada Asma-asma dan sifat-Nya menurut kadar apa yang telah dibukakan Allah kepada mereka, mulai dari objek pengetahuan dan keajaiban kekuasaan-Nya, keindahan ayat-ayatnya, di dunia dan akhirat, sebagaimana kriteria makrifat kepada Allah. Wallahu A’lam.

Selanjutnya, jumlah makna asmaul husna terbagi menjadi sepuluh bagian:

1. Makna yang Menunjukkan Kepada Dzat Saja

Makna ini contohnya seperti ucapan “Allah”. Nama Al-Haqq mendekati nama Allah, jika yang dimaksudkan adalah Dzat yang wajib Wujud.

2. Makna yang Kembali Kepada Dzat Disertai Penyirnaan (Salab)

Makna ini seperti pada asma Al-Quddus, As-Salam, Al-Ghany dan Al-Had. Analisanya, Al-Quddus berarti menyirnakan/menghilangkan segala hal yang meragukan hati dan menimbulkan dugaan-dugaan.

Sedangkan As-Salam, menyirnakan segala hal yang kurang/cacat. Al-Ghany menyirnakan segala bentuk kebutuhan. Al-Had, menirnakan segala yang dianalisa dan dibagi.

3. Makna yang Kembali Kepada Dzat Dengan Sandaran (Idhafah)

Makna yang ini seperti asma Al-‘Aliy, Al-‘Adzim, Al-Awwal, Al-Akhir, Adz-Dzahir, Al-Bathin. Asma Al-‘Aliy adalah Dzat yang diatas segala Dzat dalam susunannya. Maka asma ini bersifat sandaran.

Sedangkan Al-‘Adzim menunjukkan Dzat dari perspektif yang melampaui batas-batas penemuan. Al-Awwalu menunjukkan yang mendahului segala wujud, dan Al-Akhiru sebagai tempat kembalinya segala hal yang wujud itu sendiri.

Adz-Dzahiru merupakan Dzat dengan sandaran pada bukti akal. Al-Bathin adalah Dzat dengan sandaran pada penemuan indera dan rekaan.

4. Makna yang Kembali Kepada Dzat Disertai Salab dan Idhafah

Makna ini seperti yang terdapat pada asma Al-Mulk dan Al-‘Aziz. Al-Mulk adalah Dzat yang tidak membutuhkan suatu apapun, namun segala sesuatu butuh padanya.

Sedangkan Al-‘Aziz adalah Dzat yang tidak terkira baginya, namun ada kebutuhan yang mendesak pada predikat tersebut, dan sulit memperbolehkannya sekaligus sulit mencapainya.

5. Makna yang Kembali Kepada Dzat Disertai Sifat-sifat Ketetapan (Tsubutiyah)

Makna ini seperti yang terdapat pada asma Al-Hay, Al-Qayyum, Al-Alim, Al-Qadir, Al-Murid, As-Sami’, Al-Bashir dan Al-Mutakallim.

6. Makna yang Kembali Kepada Al-Ilmu Disertai Idhafah

Makna ini seperti yang terdapat pada asma Al-Hakim, Al-Khabir, As-Syahid dan Al-Muhshiy. Al-Hakim menunjukkan pada Ilmu yang disandarkan terhadap segala objek pengetahuan yang paling mulia.

Al-Khabir menunjukkan pada Ilmu yang disandarkan terhadap persoalan-persoalan bathiniyah. As-Syahid menunjukkan Ilmu yang disandarkan pada yang disaksikan. Dan Al-Muhshiy menunjukkan Ilmu yang meliputi seluruh objek yang dimaklumi, terbatas dan terhitung secara rinci.

7. Makna yang Kembali Pada Qudrat Dengan Tambahan Idhafah

Makna ini seperti yang terdapat pada asma Al-Qawiy, Al-Matin, Al-Qohar, Al-Quwwat adalah kesempurnaan Al-Qudrat , Al-Matanah adalah kedahsyatan, dan Al-Qohar adalah pengaruhnya dalam objek keperkasaan yang dikalahkan.

8. Makna yang Kembali Pada Iradat Disertai Pekerjaan Idhafah

Makna ini seperti yang terdapat pada asma Ar-Rahman, Ar-Rahim, Ar-Rouf, Al-Wadud. Predikat Rahmah kembali pada kehendak disandarkan pada kebutuhan si lemah yang butuh.

Sementara pada kehendak yang disandarkan pada kebutuhan si lemah yang butuh. Dan predikat Ar-Rouf sebagai kehebatan Rahmah. Sementara Al-Wadud kembali pada kehendak yang disandarkan pada pemberian kebaikan dan kenikmatan.

Tindakan Ar-Rahmah mengajak orang yang butuh, dan tindakan Al-Wadud tidak mengundang, namun menikmati dengan jalan faedah.

9. Makna yang Kembali Kepada Dzat Dengan Sifat Idhafah

Makna ini seperti yang terdapat pada asma Al-Khaliq, Al-Bariu, Al-Mushawwir, Al-Wahhab, Ar-Razaq, Al-Fattah, Al-Basith, Al-Qabidh, Al-Khafidz, Ar-Rafi, Al-Mu’izz, Al-Mudzill, Al-‘Adl, Al-Muqit, Al-Mughits, Al-Mujib, Al-Wasi’, Al-Ba’its, Al-Mubdi.u, Al-Mu’id, Al-Mumit, Al-Muqaddim, Al-Muakkhir, Al-Waly, Al-Birr, At-Tawwab, Al-Muntaqim, Al-Muqsith, Al-Jami’, Al-Mu’thy, Al-Mani’, Al-Ghany, Al-Hadi, dan sebagainya.

10. Makna yang Kembali Pada Indikasi Tindakan

Makna ini seperti yang terdapat pada asma Al-Majid, Al-Karim dan Al-Lathif. Predikat Al-Majid menunjukkan luasnya sifat kemurahan disertai kemuliaan Dzat, begitu pula Al-Karim. Sedangkan Al-Lathif menunjukkan tindakan disertai kelembutan.

Nama-nama diatas dan yang sepadannya, tidak akan keluar dari klasifikasi sepuluh bagian ini.Oleh sebab itu hal harus dianalogikan seperti apa yang dimaksud dan kehendaki.

Yaitu yang menunjukkan arah nama-nama yang sinonim dengan mengembalikan pada sifat-sifat yang masyhur dan tertera.

Arti Asmaul Husna

arti asmaul husna menurut Imam Ghazali

aticinta.blogspot.co.id

Selanjutnya, arti dari asmaul husna ini juga terjalin dalam empat kalimat. Yaitu empat kalimat yang terkandung dalam Al-Baqiyatus Shalihat, yaitu Subhaanallah, Walhamdulillaah, Walaailaaha illallah, Wallaahu Akbar.

1. Subhanallah

Arti asmaul husna pada kalimat ini adalah penyucian dan penyirnaan. Kalimat subhanallah ini mengandung arti penyirnaan kekurangan pada Dzat Allah dan sifat-sifatnya.

Seluruh asma yang mengandung makna salab masuk dalam kalimat tersebut. Seperti Al-Quddus, yang berarti suci dari segala aib. Dan As-Salam, yang berarti selamat dari segala akibat.

2. Alhamdulillah

Arti asmaul husna yang terkandung dalam kalimat ini adalah penetapan (itsbat) segala predikat kesempurnaan Dzat dan sifat Allah. Semua asma yang mengandung itsbat seperti Al-‘Alim, Al-Qadir, As-Sami’ dan Al-Bashir berada dibawahnya.

Kemudian dinafikan dengan kemaha sucian Allah (Subhanallah) dari segala aib yang dipahami. Selanjutnya ditetapkan dengan pujian bagi Allah (Alhamdulillah), segala kesempurnaan dan kebesaran yang dikenal hanyalah bagi Allah.

Dibalik apa yang dinafikan dan ditetapkan kepadanya merupakan sesuatu yang agung. Dinyatakan secara menyeluruh dalam ucapan Allahu Akbar.

3. Allahu Akbar

Arti asmaul husna yang terkandung dalam kalimat ini adalah arah yang telah dinafikan dan ditetapkan kepadanya. Inilah makna dari sabda Rasulullah:

“Aku tidak mampu menghitung pujian atas diriMU sebagaimana Engkau memuji atas diriMU sendiri.”

Segala asma yang berada diatas apa yang ditemui dan dikenal seperti Al-A’la dan Al-Muta’aaly, maka berada dibawah naungan ucapan Allahu Akbar.

Ketika dalam wujud ada yang sepadan maka dinafikan. Lantas dinyatakan dalam ucapan Laailaaha Illallah.

4. Laailaaha Illallah

Arti asmaul husna yang terkandung dalam kalimat ini adalahTidak ada yang berhak mendapat penyembahan kecuali Allah. Oleh karena itu, setiap asma Allah mengandung makna keindahan seperti Al-Wahid, Al-Ahadu, Dzul Jalali Wal Ikram, masuk dalam ungkapan Tiada Tuhan selain Allah.

Hak disembah dalam predikat tersebut disebabkan adanya kewajiban memiliki sifat-sifat keindahan baginya dan sifat-sifat kesempurnaan yang tidak dimiliki siapapun.

Sumber: Raudhatut Tholibin Imam Ghazali Bab Asmaul Husna, Wallahu A’lam

Add Comment